Janji Nilai Tradisional Rusia Tak Semanis Harapan, Sejumlah Warga Barat Justru Kecewa

Sejumlah warga Barat yang pindah ke Rusia dengan harapan menemukan tatanan sosial yang lebih religius, aman, dan ramah keluarga kini menghadapi kenyataan yang lebih rumit. Bagi sebagian dari mereka, pengalaman hidup di sana justru memunculkan kekecewaan yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.

Skema yang paling menarik perhatian adalah visa Shared Values, program yang diluncurkan Vladimir Putin pada 2024 untuk warga dari 47 negara yang dianggap Rusia tidak bersahabat. Visa ini kerap dijuluki sebagai “anti-woke visa” karena meminta pemohon menyatakan bahwa mereka berbagi nilai spiritual dan moral tradisional Rusia serta menolak apa yang disebut pemerintah Rusia sebagai ideologi neoliberal yang merusak.

Program tersebut tidak membatasi kuota dan tidak mewajibkan tes bahasa Rusia, sejarah, atau hukum pada tahap awal. Namun, pemegang visa hanya mendapat izin tinggal sementara hingga tiga tahun, lalu harus mengubah statusnya menjadi izin tinggal tetap atau meninggalkan negara itu.

Daya tarik yang dipromosikan Kremlin

Visa itu menjadi bagian dari upaya Kremlin menampilkan Rusia sebagai pembela nilai tradisional yang berseberangan dengan Barat. Dalam dekret 2022, Putin memperingatkan bahwa pengaruh ideologis Barat mengancam nilai Rusia seperti pernikahan dan keluarga tradisional.

Di luar kebijakan resmi, agen relokasi dan para influencer juga ikut memperkuat citra Rusia sebagai tempat yang lebih aman dan cocok bagi keluarga. Beberapa warga Barat mengatakan mereka tertarik pindah karena merasa tidak lagi mengenali komunitas di negara asal mereka atau kecewa dengan meningkatnya imigrasi dan penurunan standar hidup.

Ilja Belobragin, yang perusahaannya membantu warga asing pindah ke Rusia, menyebut bahwa alasan seperti itu cukup sering muncul di kalangan calon migran. Sementara itu, sebagian lain datang karena alasan pribadi, termasuk cinta dan iman, bukan semata-mata karena geopolitik.

Realitas yang lebih keras di lapangan

Kisah Leo Hare menunjukkan jarak antara harapan dan kenyataan itu dengan jelas. Pria asal Texas tersebut pindah ke Rusia pada akhir 2023 setelah mendapat suaka, lalu mencoba membangun hidup baru sambil membagikan kesehariannya ke pengikut di internet.

Leo, seorang Kristen taat dan ayah dari tiga anak, sebelumnya resah dengan polarisasi politik di Amerika Serikat, makanan hasil rekayasa genetika, dan pengaruh gerakan LGBTQ yang meningkat. Ia melihat Rusia sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan keyakinannya, sejalan dengan citra yang dipromosikan negara itu tentang masyarakat berbasis iman Kristen dan nilai keluarga.

Namun beberapa minggu setelah tiba, keluarganya mengaku ditipu 5 juta rubel oleh orang yang mereka percayai, dan mereka kehilangan tempat tinggal. Saat diwawancarai, Leo tinggal terpisah dari istrinya di Ivanovo, sementara anak-anaknya yang lebih besar sudah kembali ke Amerika Serikat.

Ia menggambarkan dua tahun terakhir sebagai masa terbaik sekaligus terburuk dalam hidupnya. Selama periode itu, ia sempat bekerja di biara Ortodoks, tinggal di apartemen bertingkat tinggi, kemudian pindah ke flat kecil era Soviet sebelum akhirnya memperoleh pekerjaan sebagai tutor bahasa Inggris.

Meski kecewa, Leo masih berbicara baik tentang warga Rusia biasa. Ia menyebut mereka murah hati dan ramah, serta memuji jemaat gereja yang membantu keluarganya setelah kehilangan tabungan.

Ia juga mengingat seorang perempuan yang mengundang putra bungsunya ke rumah dan mengajarinya bahasa Rusia tanpa biaya. “My heart is just full of love for these people,” katanya.

Keraguan yang muncul setelah euforia awal

Di sisi lain, Leo mengaku kini semakin khawatir tentang ekonomi Rusia dan pembatasan akses informasi. Ia bahkan mempertanyakan perannya sendiri dalam mempromosikan migrasi warga Barat ke Rusia.

Leo mengatakan bahwa dirinya dulu pernah “percaya pada propaganda” dan mengaku sebelumnya adalah orang yang “akan menulis naskahnya”. Meski tetap berniat tinggal di Rusia karena merasa itu adalah takdirnya, ia kini merindukan kebebasan yang menurutnya membentuk karakter Amerika.

Ia juga menegaskan bahwa di Rusia, nilai-nilai hak asasi manusia tidak dirasakan seperti yang ia kenal di Barat. Bagi Leo, pengalaman itu menjadi kontras tajam dengan alasan yang dulu mendorongnya pindah.

Kisah serupa juga muncul pada Ben, warga Inggris yang pindah dari Derby ke Rusia pada 2023 setelah jatuh cinta pada perempuan Rusia yang ia kenal lewat situs pertukaran bahasa. Keluarganya sempat menganggap keputusannya “agak gila” karena ia pindah ke wilayah dekat zona perang, dan kini pasangan itu tinggal di Kursk dekat perbatasan Ukraina.

Ben mengakui Rusia terasa lebih ramah dan lebih aman dalam kehidupan sehari-hari. Namun ia menolak anggapan bahwa Rusia adalah surga konservatif, dengan menyinggung banyak keluarga orang tua tunggal, tingginya angka perceraian, dan aborsi yang menurutnya sangat diterima.

“Russia isn’t some utopia,” katanya. Ia pindah lewat visa keluarga pribadi, bukan skema Shared Values, tetapi di kanal YouTube-nya ia menantang klaim berlebihan dari sebagian influencer Barat yang menggambarkan Rusia sebagai alternatif sempurna dari Barat.

Skema kecil yang tetap menarik perhatian

Hampir dua tahun setelah diluncurkan, eksperimen Rusia untuk menarik migran ideologis masih tergolong kecil. Negara itu belum berhasil memicu gelombang besar imigrasi “anti-woke”, tetapi skema tersebut tetap memudahkan sebagian warga Barat untuk membangun hidup baru di sana.

Bagi sebagian orang, alasannya cinta, iman, atau keinginan memulai arah hidup yang berbeda. Namun bagi yang lain, Rusia yang dijanjikan sebagai benteng nilai tradisional justru menampakkan sisi yang jauh lebih rumit daripada slogan yang mereka dengar sebelum berangkat.

Berita Terkait