Gemini Makin Dekat Ke Cara Bicara Sehari-hari, Docs Live Ikut Menyusun Tulisan

Author: Redaksi Android62

Google terus memperluas Gemini ke layanan yang dipakai sehari-hari, dan arah itu terlihat makin jelas lewat Docs Live. Fitur ini membuat pengguna cukup menuangkan isi pikiran secara verbal, lalu Gemini menyusun dokumen tanpa harus melalui prompt yang rumit.

Perubahan tersebut membuat Google Docs terasa lebih dekat ke cara orang berbicara ketimbang sekadar tempat mengetik. Sundar Pichai menggambarkan alurnya sebagai semacam “brain dump”, lalu sistem yang meneruskan pekerjaan dari sana.

Bagi pengguna yang ingin hasil cepat, pendekatan ini terasa lebih alami. Ide tidak perlu dipaksa masuk ke format perintah yang presisi, karena isi pikiran bisa langsung diucapkan lalu dibentuk menjadi dokumen.

Gemini makin dalam di produk Google

Docs Live hanya salah satu tanda bahwa Google ingin membuat Gemini hadir lebih dalam di layanan konsumen. Perluasan ini tidak berhenti di Google Docs, karena Google juga membawa model AI andalannya ke Ask YouTube dan Ask Maps.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Google tidak sekadar menambah fitur baru. Perusahaan juga sedang mengubah cara orang berinteraksi dengan dokumen, pencarian, dan layanan Google lain agar terasa lebih percakapan.

Di Search, arah itu juga terlihat dari pengalaman yang makin mirip dialog berkelanjutan. Pichai menyebut fitur AI di Search membuat orang memakai Search lebih sering, bukan lagi sekadar memasukkan kueri yang terpisah-pisah.

Pertumbuhan penggunaan yang sangat besar

Dari sisi adopsi, angka yang ditunjukkan Google juga melompat jauh. Pichai mengatakan Gemini App naik dari 400 juta pengguna aktif bulanan tahun lalu menjadi lebih dari 900 juta saat ini.

Ia juga menyebut AI Mode di Search sudah melampaui 1 miliar pengguna aktif bulanan dalam waktu satu tahun. Sementara itu, AI Overviews yang sempat dipandang mengganggu justru diklaim dipakai lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif setiap bulan.

Skala itu memperlihatkan bahwa fitur AI sudah menjadi bagian besar dari pengalaman pencarian harian. Google pun menempatkan AI sebagai lapisan yang semakin melekat di produk konsumennya.

Infrastruktur, token, dan biaya yang ikut membesar

Di balik kemudahan itu, kebutuhan komputasi ikut melonjak. Google menyebut model AI-nya memproses lebih dari 3,2 kuadriliun token setiap bulan di seluruh produk AI untuk konsumen dan pengembang.

Beban sebesar itu menuntut infrastruktur yang besar pula. Perusahaan memperkirakan belanja modalnya berada di kisaran sekitar 180 miliar dolar hingga 190 miliar dolar.

Investasi tersebut juga terkait chip khusus buatan Google. Pichai menyoroti TPU 8t dan 8i sebagai chip yang lebih hemat energi, dengan performa per watt hingga dua kali lebih baik.

Masih ada pertanyaan soal bisnis dan dampak

Walau adopsinya besar, ukuran keberhasilan AI Google belum sepenuhnya mudah dibaca. Banyak klaim yang masih bertumpu pada metrik seperti jumlah pengguna, token yang diproses, dan besarnya belanja modal, sementara penjelasan terbuka soal profit dari lini AI belum ada.

Keraguan juga muncul pada definisi “active users” yang dipakai Google. Pertanyaan lanjutan ikut mengarah pada berapa banyak orang yang benar-benar memilih AI Overviews dan berapa banyak yang sekadar belum tahu cara menghindarinya.

Saat ini, selain ekstensi pihak ketiga seperti Bye Bye, Google AI, belum ada cara resmi untuk menonaktifkan AI Overviews. Kondisi itu membuat angka pertumbuhan pengguna Google AI tetap sulit ditafsirkan secara tunggal.

Tekanan lain datang dari sisi energi dan lingkungan. Emisi Google sendiri naik 51% pada tahun lalu, sementara laporan lain menyebut proyek pembangkit listrik gas untuk hanya 11 pusat data di AS berpotensi menghasilkan gas rumah kaca lebih banyak daripada seluruh negara.

Di sisi bisnis, ada pula kekhawatiran bahwa pendapatan AI belum sejalan dengan biaya infrastruktur yang sangat besar. Jika pengguna tidak akhirnya bersedia membayar produk AI, tekanan terhadap model bisnis ini bisa makin besar.

Berita Terbaru