Gen Z Mulai Mencatat Konten Harian, Cara Sederhana Agar Scroll Lebih Terkendali

Author: Redaksi Android62

Kebiasaan scroll media sosial tanpa tujuan jelas kerap membuat waktu layar melarut begitu saja. Di kalangan Gen Z, kondisi itu kini mulai dilawan dengan cara yang sederhana: mencatat konten yang benar-benar dikonsumsi setiap hari.

Praktik ini dikenal sebagai media diary, yakni catatan yang membuat seseorang lebih sadar terhadap apa yang masuk ke kepala melalui artikel, video, film, podcast, atau konten pendek. Bagi banyak orang, cara ini dipandang lebih bermanfaat daripada sekadar membiarkan aliran konten lewat tanpa jejak.

Mulai dari satu konten paling berkesan

Langkah paling mudah adalah memilih satu konten yang paling berkesan dalam sehari. Kontennya bisa berupa podcast, artikel panjang, film, atau video pendek yang benar-benar meninggalkan kesan.

Catatan tidak perlu dibuat rumit karena tujuan utamanya bukan menulis semua yang ditonton atau dibaca. Fokusnya justru melatih otak untuk memilih konten yang paling relevan dan paling layak diingat.

Cara ini dapat dikerjakan di buku jurnal atau media digital, tergantung mana yang paling nyaman digunakan. Dengan begitu, media diary lebih mirip daftar pilihan informasi daripada daftar tugas yang kaku.

Refleksi kecil yang membuat konten lebih bermakna

Setelah konten dicatat, langkah berikutnya adalah menuliskan alasan mengapa konten itu menarik. Misalnya, sebuah podcast terasa memotivasi atau sebuah film memberi inspirasi baru.

Refleksi singkat seperti ini membuat proses konsumsi media tidak berhenti pada tahap menonton, membaca, atau mendengar saja. Pengguna juga diajak memikirkan ulang informasi yang diterima sebelum akhirnya terlupakan.

Menurut Business Insider, memanfaatkan media sosial sebagai tempat mencatat media yang dikonsumsi sehari-hari justru bisa lebih bermanfaat. Bukan hanya memilih topik apa yang dibaca, ditonton, atau didengar, tetapi juga merangkumnya agar memberi nilai lebih.

Membedakan konten hiburan dan edukasi

Setiap konten punya fungsi yang berbeda, dari hiburan sampai edukasi. Karena itu, catatan sebaiknya diberi kategori sederhana agar lebih mudah dievaluasi.

Kategori seperti menghibur dan mengedukasi sudah cukup untuk melihat apakah konsumsi media harian lebih banyak memberi manfaat atau sekadar mengisi waktu luang. Dari sana, pola scrolling acak juga menjadi lebih mudah dikenali.

Cara ini membantu pengguna memahami kebiasaan media dengan lebih jernih. Saat jenis konten terlihat jelas, keputusan untuk mengurangi doomscrolling pun bisa dibuat dengan lebih sadar.

Media yang paling nyaman dipakai

Media diary tidak harus dibuat dalam format yang sama untuk semua orang. Ada yang memilih Goodreads untuk ulasan buku, Letterboxd untuk film, atau buku jurnal untuk catatan pribadi.

Bagi yang ingin mengumpulkan semua catatan di satu tempat, Notion, ClickUp, Medium, dan Substack juga bisa digunakan. Bahkan, ada pula yang memilih membuat konten video bila ingin tampil di depan kamera.

Fleksibilitas format ini membuat media diary mudah menyesuaikan diri dengan kebiasaan masing-masing orang. Waktu di depan layar pun tidak selalu identik dengan kebiasaan buruk, karena bisa diarahkan menjadi aktivitas yang lebih sadar dan terkontrol.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terbaru