Gerakan Pangan Murah dan isu kebersihan lingkungan sama-sama mencuri perhatian dalam kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus ke Kendari. Di satu sisi, pemerintah ingin memastikan kebutuhan pokok tetap mudah dijangkau warga, sementara di sisi lain pengelolaan sampah didorong menjadi kerja bersama yang lebih tertib.
Di pelataran Kantor Balai Kota Kendari, Akhmad Wiyagus meninjau langsung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua. Sejumlah tenant disiapkan untuk menjual beras SPHP, minyak goreng, telur, dan produk UMKM lokal agar pasokan tetap terjaga di tengah dinamika global dan perubahan iklim.
Tekanan pada kebutuhan dasar warga
Kehadiran gerakan pangan murah menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang terus bergerak. Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa ketahanan pangan tetap menjadi penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Ia juga menyebut kinerja ekonomi nasional masih positif dengan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I tahun 2026. Pada saat yang sama, ia mengapresiasi Pemerintah Kota Kendari yang disebut telah menggelar Gerakan Pangan Murah hingga 200 kali.
Sampah diposisikan sebagai persoalan bersama
Masih dalam rangkaian agenda yang sama, Akhmad Wiyagus memimpin Apel Gerakan Indonesia ASRI di kawasan Anjungan Teluk Kendari. Gerakan ini membawa pesan bahwa lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah perlu dijaga melalui langkah nyata, bukan sekadar seremonial.
Dalam arahannya, ia menekankan bahwa sampah tidak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan kecil. Menurutnya, persoalan itu sudah berpengaruh langsung pada kesehatan warga, kenyamanan lingkungan, dan kualitas kawasan perkotaan.
Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak bekerja sendiri-sendiri. Akhmad Wiyagus mendorong kolaborasi lintas sektor agar pengelolaan sampah terpadu bisa berjalan lebih cepat dan lebih rapi.
Gotong royong dan perubahan dari rumah
Fokus gerakan tersebut, menurut Akhmad Wiyagus, adalah pengelolaan sampah nasional dan penguatan budaya gotong royong di masyarakat. Ia menilai kepedulian terhadap kebersihan harus tumbuh sebagai kebiasaan bersama, bukan hanya saat ada kampanye.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua yang mendampingi kegiatan itu turut menekankan pentingnya perubahan perilaku dari rumah tangga. Ia menyoroti kesadaran memilah dan mengelola sampah sebagai langkah awal yang perlu dibangun dalam keluarga.
Arah itu sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI, program nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Gerakan ini tidak hanya menyasar ruang publik, tetapi juga mendorong kebiasaan baru di tingkat rumah tangga agar kepedulian lingkungan menjadi bagian dari aktivitas harian.
Tantangan yang masih besar
Besarnya pekerjaan rumah di sektor sampah terlihat dari data nasional tahun 2025 yang menunjukkan sekitar 109 ribu ton sampah per hari belum terkelola optimal. Angka ini memperlihatkan bahwa daerah masih menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem kebersihan yang lebih tertata.
Di Kendari, pesan yang dibawa Akhmad Wiyagus mempertemukan dua kebutuhan dasar yang sama pentingnya, yaitu lingkungan yang bersih dan bahan pangan yang terjangkau. Kehadiran bantuan untuk warga terdampak banjir di akhir rangkaian kegiatan juga menambah dimensi sosial dari agenda kerja tersebut.
