Gerbong Kosong Di Ujung Rangkaian Itu Ternyata Perisai Penting Saat Tabrakan Terjadi

Author: Redaksi Android62

Kereta aling-aling kembali jadi bahan perbincangan setelah insiden yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Sorotan itu membuat banyak penumpang baru menyadari bahwa gerbong kosong di ujung rangkaian bukan ruang sisa, melainkan bagian yang disiapkan untuk fungsi keselamatan.

Dalam operasi perkeretaapian, kereta aling-aling dipasang sebagai lapisan pelindung benturan. Tugas utamanya adalah menyerap dampak awal jika rangkaian mengalami tabrakan dari depan atau belakang, sehingga gerbong penumpang tidak langsung menerima kerusakan paling berat.

Gerbong kosong yang punya fungsi sangat khusus

Istilah aling-aling dalam kamus bahasa Indonesia berarti pelindung, penahan, atau penyekat. Makna itu kemudian dipakai di dunia kereta api untuk menyebut gerbong yang ditempatkan sebagai pengaman tambahan di ujung rangkaian.

Gerbong ini tidak disiapkan untuk penumpang. Justru karena posisinya berada di depan atau belakang rangkaian, gerbong tersebut diharapkan menjadi titik pertama yang menerima hantaman saat kecelakaan tidak bisa dihindari.

Biasanya, gerbong aling-aling memakai bagasi atau bagasi pembangkit. Penempatannya dirancang agar risiko fatal bagi penumpang di gerbong utama bisa ditekan semaksimal mungkin.

Mengapa kembali ramai dibicarakan

Perhatian publik terhadap kereta aling-aling muncul karena insiden di Stasiun Bekasi Timur membuka kembali ingatan tentang sistem keselamatan lama milik KAI. Banyak warganet lalu menelusuri lagi alasan keberadaan gerbong kosong yang dulu kerap terlihat di ujung kereta.

Topik ini menarik karena tidak semua penumpang mengenal latar belakangnya. Padahal, kebijakan aling-aling lahir dari evaluasi atas sejumlah kecelakaan besar yang pernah memakan korban jiwa.

Artikel referensi menyebut kebijakan itu mulai diterapkan setelah kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan Senja Utama Semarang di Petarukan. Tragedi tersebut disebut menewaskan lebih dari 30 penumpang, lalu disusul kecelakaan lain di Stasiun Langen yang juga memakan korban.

Lahir dari kebutuhan perlindungan darurat

Penerapan aling-aling bukan sekadar langkah administratif. Kebijakan ini muncul karena kebutuhan perlindungan tambahan saat terjadi benturan keras yang tidak bisa dicegah.

Pada tahap awal, KAI disebut belum selalu memiliki cukup gerbong bagasi untuk dijadikan pelindung. Karena itu, gerbong penumpang dari kelas eksekutif hingga ekonomi sempat dipakai untuk menjalankan fungsi serupa.

Situasi tersebut sempat memunculkan perdebatan. Di satu sisi, langkah itu dianggap memperkuat keselamatan, tetapi di sisi lain muncul pertanyaan karena ada gerbong yang tidak dipakai untuk mengangkut penumpang.

Dijuluki kereta hantu karena tampilannya tertutup rapat

Kereta aling-aling juga dikenal dengan sebutan “kereta setan” atau “kereta hantu”. Julukan itu muncul karena gerbong ini dibuat tertutup rapat dan sengaja tidak mudah dimasuki orang.

Upaya awal untuk mencegah orang masuk dengan kawat disebut tidak efektif. KAI kemudian mengambil langkah lebih tegas dengan melas pintu gerbong dan mengganti jendela kaca menggunakan pelat baja tebal.

Perubahan itu membuat bagian dalam gerbong terlihat gelap, berdebu, dan steril. Tampilan seperti itulah yang kemudian memunculkan kesan menyeramkan di kalangan penumpang.

Tantangan di lapangan dan arah teknologi baru

Di lapangan, penggunaan aling-aling tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal pengawasan. KAI disebut harus berhadapan dengan penumpang tanpa tiket dan oknum yang memaksa masuk ke gerbong kosong tersebut.

Kondisi itu menunjukkan bahwa fungsi pelindung hanya berjalan efektif jika dijaga ketat dan tidak dipakai untuk kepentingan lain. Tanpa disiplin operasional, gerbong yang seharusnya menjadi perisai bisa kehilangan perannya.

Seiring waktu, penggunaan aling-aling konvensional juga dinilai memiliki keterbatasan teknis dan ekonomi. Karena itu, dunia perkeretaapian mulai melirik teknologi yang lebih modern untuk meredam energi benturan.

Amerika Serikat disebut telah mengembangkan Crash Energy Management atau CEM. Teknologi ini dirancang untuk menyerap energi tabrakan secara lebih efektif agar tingkat kerusakan bisa ditekan, sementara perhatian terhadap kereta aling-aling mengingatkan kembali bahwa gerbong yang tampak kosong itu pernah memegang peran penting dalam melindungi nyawa penumpang.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru