Taman Cattleya Memikat, Tapi Akses dan Fasilitasnya Masih Jauh dari Ideal

Author: Redaksi Android62

Taman Cattleya di Jakarta Barat menunjukkan dua wajah sekaligus pada Minggu pagi. Di satu sisi, ruang hijau itu dipadati warga yang berolahraga, bersarapan, dan membawa anak bermain air sejak sebelum pukul delapan.

Di sisi lain, hasil pemetaan komunitas Ayo ke Taman memperlihatkan bahwa kenyamanan taman ini masih dibatasi persoalan akses, fasilitas, dan informasi dasar bagi pengunjung. Temuan itu membuat taman yang ramai digunakan publik ini belum sepenuhnya terasa inklusif.

Fasilitas ramai dipakai, tetapi belum sepenuhnya siap menampung pengunjung

Keramaian taman terlihat dari beragam aktivitas warga, mulai dari lansia yang berjalan santai hingga kelompok senam pagi. Sejumlah keluarga juga menggelar tikar di bawah pepohonan untuk sarapan bersama.

Namun antrean panjang di dua bilik toilet menjadi catatan yang paling terasa saat akhir pekan. Situasi itu semakin menonjol ketika orang tua menunggu anak-anak yang selesai bermain air di area taman.

Kelompok peserta juga menyoroti area danau yang dinilai belum dilengkapi pagar pengaman. Papan informasi mengenai tata tertib pengunjung pun disebut masih sangat minim, sehingga fungsi edukatif dan pengaturan perilaku di ruang publik itu belum bekerja maksimal.

Akses masuk masih memberi kesan tertutup

Masalah lain muncul sejak pintu masuk utama. Tampilan gerbang dinilai lebih menyerupai pintu masuk kompleks perumahan elite ketimbang ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan.

Seorang peserta bahkan menilai orang yang sekadar melintas bisa saja tidak sadar bahwa lokasi itu merupakan taman umum. Kesan eksklusif seperti ini menjadi perhatian karena taman idealnya mudah dikenali dan mengundang siapa pun untuk masuk.

Di beberapa titik, jalur pedestrian juga dinilai kurang ramah bagi pejalan kaki. Conblock terlihat bergelombang dan tidak rata, sementara jalur landai untuk pengguna kursi roda disebut sempit.

Peserta juga mencatat belum adanya guiding block untuk penyandang tunanetra. Di pintu masuk utama, taman seluas tiga hektare itu pun belum memiliki peta kawasan yang dapat membantu orientasi pengunjung baru.

Potensi hijau yang besar, tetapi belum banyak dijelaskan ke publik

Di balik catatan akses dan fasilitas, Taman Cattleya menyimpan kekayaan hayati yang cukup menonjol. Kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan pohon kamboja, janda merana, dan bintaro tumbuh di berbagai sudut taman.

Kupu-kupu terlihat beterbangan di antara semak, katak muncul di area basah, dan kawanan soang berkeliaran di dekat danau. Temuan ini menunjukkan bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menyimpan nilai ekologis yang kuat.

Meski begitu, kekayaan itu belum banyak dijelaskan kepada pengunjung. Peserta menilai plang informasi tentang jenis pohon dan elemen hayati lain seharusnya tersedia agar taman juga berfungsi sebagai ruang belajar di tengah kota.

Nama Cattleya yang diambil dari bunga anggrek juga tidak tercermin dari temuan peserta. Mereka tidak melihat anggrek di sepanjang area taman, sehingga identitas taman dinilai belum tampak secara visual.

Perjalanan ke TIM memperluas cara membaca ruang publik

Setelah sesi pemetaan di Taman Cattleya berakhir menjelang pukul 11.00 WIB, kegiatan berlanjut ke Taman Ismail Marzuki di Cikini. Lokasi itu menjadi salah satu penyelenggaraan Jakarta Future Festival.

Perjalanan ditempuh dengan transportasi umum, mulai dari TransJakarta hingga kereta komuter, lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju kawasan TIM. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa kualitas taman juga terkait dengan koneksi ke trotoar, halte, stasiun, dan pusat kegiatan warga.

Di sepanjang perjalanan, diskusi tentang toilet, jalur pedestrian, papan informasi, dan potensi edukasi terus mengemuka. Catatan lapangan dari taman itu berubah menjadi percakapan yang lebih luas tentang kota yang ramah warga.

Setibanya di TIM, peserta Ayo ke Taman membagikan hasil pengamatan mereka dan bertukar gagasan soal masa depan ruang terbuka hijau Jakarta. Sebagian peserta baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut, dengan latar belakang yang beragam, termasuk dari Bogor dan Tangerang Selatan.

Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa taman kota tidak cukup diukur dari jumlah pohon atau luas lahannya. Taman juga dibaca dari siapa yang bisa mengaksesnya, bagaimana fasilitasnya bekerja, dan sejauh mana warga dapat merasa aman, diterima, serta belajar di dalamnya.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru