Di pusat Kota Roma, sebuah gereja tua menyimpan catatan pelayanan yang jarang disadari banyak orang. Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah pernah menjadi tempat singgah bagi ratusan ribu peziarah, dan kini tetap dikenal sebagai salah satu permata tersembunyi di distrik Regola.
Bangunan ini berdiri dekat Palazzo Farnese, Ponte Sisto, dan via Giulia, di atas situs religius abad ke-12 yang dahulu dikenal sebagai San Benedetto de Arenula. Pada 1558, Paus Paulus IV menyerahkannya kepada St. Filipus Neri dan persaudaraan amalnya untuk membantu para peziarah, kaum miskin, dan orang sakit.
Pelayanan yang melampaui fungsi ibadah
Kehadiran gereja ini sejak awal memang tidak terbatas pada peribadatan. Saat konstruksinya dimulai sekitar 1587 dan selesai lalu diresmikan pada awal abad ke-17, tempat ini diproyeksikan sebagai pusat pelayanan bagi orang-orang yang datang berziarah ke Roma.
Dalam dua abad beroperasi, bangunan itu disebut menampung hingga 400.000 orang. Tradisi penyambutan itu juga masih berlanjut pada masa modern, termasuk ketika gereja ini tetap menyambut para peziarah pada Yubileum 2025.
Jejak penting dalam sejarah Italia
Gereja ini juga terhubung dengan peristiwa penting dalam sejarah Italia modern. Pada 1849, rumah sakit yang dikelola gereja diubah menjadi rumah sakit militer selama bentrokan dengan tentara Prancis.
Lebih dari 1.500 orang terluka dirawat di sana, termasuk Goffredo Mameli. Patriot Italia, penyair, dan penulis lirik “Il Canto degli Italiani” itu kemudian dikenal sebagai sosok di balik lagu kebangsaan Italia.
Mameli meninggal di rumah sakit tersebut pada usia 21 tahun akibat luka yang dideritanya. Fakta itu menambah bobot sejarah bangunan ini, yang bukan hanya penting bagi umat beragama, tetapi juga bagi ingatan nasional Italia.
Warisan Barok yang kaya detail
Dari luar maupun dalam, gereja ini menampilkan karakter Barok yang kuat. Interiornya diisi altar utama dengan lukisan Tritunggal Mahakudus karya Guido Reni dari awal abad ke-17, serta langit-langit berhias fresco yang mempertegas kemegahan visualnya.
Unsur stucco berlapis warna emas memberi kesan mewah pada ruang utama. Sejumlah pahatan marmer di altar dan lorong gereja juga berasal dari abad ke-17 dan 18, memperkaya nilai artistik bangunan ini.
Di antara karya penting lain terdapat lukisan cat minyak “Trinitas dan Malaikat” karya Guido Reni dari 1625 dan fresco para penginjil karya Giovanni Battista Ricci sekitar 1613. Kehadiran karya-karya tersebut membuat gereja ini menjadi tujuan menarik bagi pencinta seni dan sejarah.
Delapan kapel dengan ciri masing-masing
Bagian dalam gereja terdiri atas delapan kapel yang masing-masing memiliki kekhasan seni. Empat di antaranya paling dikenal, mulai dari Kapel Salib Mahakudus dengan ukiran kayu polikrom “Yesus Kristus yang disalibkan” dari abad ke-18 hingga Kapel St. Filipus Neri dengan lukisan altar karya Filippo Bigioli pada 1853.
Di sayap kiri terdapat Kapel Madonna, St. Yusuf, dan St. Benediktus, yang didedikasikan untuk menghormati Bunda Maria penolong umat Kristen. Lukisan altar yang menggambarkan St. Yusuf dan St. Benediktus dari Nursia dibuat oleh Giambattista Ricci pada abad ke-17.
Di sayap kanan, Kapel St. Matius menyimpan patung marmer “St. Matius dan Malaikat” karya Jacob Cornelisz Cobaert dan Pompeo Ferruci dari abad ke-17. Rangkaian kapel ini memperlihatkan bagaimana seni, devosi, dan sejarah berpadu dalam satu bangunan.
Ritus latin tradisional yang tetap dipertahankan
Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah juga dikenal karena penggunaan Misa latin tradisional atau Tridentine Mass. BBC menjelaskan bahwa ritus ini dipakai di Gereja Katolik Roma sejak 1570 hingga digantikan tata perayaan baru setelah Konsili Vatikan II pada 1960-an.
Dalam ritus tersebut, misa dilakukan dalam bahasa latin atau Romawi kuno. Imam memimpin liturgi menghadap ke timur, sementara umat mengikuti dengan doa pribadi dan tidak berperan aktif seperti dalam tata misa modern.
Penggunaan ritus ini dibatasi dan tidak bisa dilakukan di setiap paroki karena harus mendapat izin khusus dari otoritas Vatikan. Pengelolaan gereja dan liturginya dipercayakan kepada komunitas religius Persaudaraan Imam Santo Petrus atau FSSP.
Source: www.idntimes.com






