Aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri kembali menjadi sorotan dalam jalur pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Bagi Teheran, dana itu bukan sekadar angka besar, melainkan kartu tawar utama yang bisa menentukan apakah negosiasi bergerak maju atau kembali mandek.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mendorong Washington agar membuka akses terhadap dana tersebut sebelum pembicaraan berlanjut. Sikap itu menunjukkan bahwa isu aset beku sudah naik kelas dari urusan keuangan menjadi bagian penting dari strategi diplomasi dan tekanan politik.
Besaran dana yang diperebutkan
Para analis memperkirakan nilai aset Iran yang tertahan di luar negeri berada di atas US$ 100 miliar. Jumlah itu setara lebih dari Rp 1.700 triliun dan mendekati seperempat produk domestik bruto Iran, sehingga wajar jika persoalan ini dianggap sangat menentukan bagi kondisi fiskal negara itu.
Frederic Schneider dari Council on Middle East Global Affairs menilai besarnya angka tersebut membuat pembekuan aset tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif biasa. Menurut dia, kebijakan atas dana beku itu telah berubah menjadi instrumen ekonomi sekaligus politik bagi Iran.
Tuntutan awal dan tekanan dari dalam negeri
Ghalibaf menegaskan bahwa pembicaraan tidak akan berjalan normal selama aset Iran masih ditahan. Pernyataan itu mencerminkan dorongan internal agar pemerintah Iran menunjukkan hasil konkret di tengah tekanan sanksi yang sudah berlangsung lama.
Iran juga disebut meminta pencairan setidaknya US$ 6 miliar sebagai langkah awal untuk membangun kepercayaan. Namun, belum ada kepastian bahwa Amerika Serikat bersedia melepas dana tersebut tanpa batasan dan syarat yang ketat.
Akar pembekuan yang sudah berlangsung lama
Persoalan ini berawal dari krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979. Sejak saat itu, hubungan kedua negara terus memburuk, dan ketegangan semakin dalam akibat program nuklir Iran serta deretan sanksi ekonomi yang menyertainya.
Tekanan kembali meningkat setelah AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA pada 2018. Sejak keputusan itu, akses Iran terhadap pendapatan negara, terutama dari ekspor minyak, menjadi semakin sempit akibat pembatasan sistem keuangan global.
Hal penting tentang aset beku Iran
- Nilai aset yang diperkirakan tertahan: lebih dari US$ 100 miliar
- Nilai setara rupiah: lebih dari Rp 1.700 triliun
- Permintaan awal Iran: pencairan minimal US$ 6 miliar
- Dampak sanksi: membatasi akses Iran ke pendapatan minyak dan sistem keuangan global
- Latar sejarah: pembekuan aset bermula dari krisis sandera 1979 dan diperketat setelah 2018
Pencairan dana tidak otomatis bebas digunakan
Sekalipun dana itu dilepas, Iran belum tentu dapat memakainya sepenuhnya tanpa batas. Sebagian aset bisa tetap terikat pada investasi, pembayaran utang, atau pembatasan penggunaan sesuai kesepakatan yang dinegosiasikan.
Kondisi itu membuat pembahasan aset beku jauh lebih rumit daripada sekadar membuka blokir dana. Dalam praktik diplomasi Iran-AS, siapa yang mengendalikan penggunaan uang sering kali sama pentingnya dengan jumlah dana yang akan dicairkan.
Dampak yang dicari Teheran
Iran masih menanggung tekanan ekonomi berat akibat sanksi jangka panjang dan ketegangan kawasan yang ikut merusak infrastruktur. Jika aset beku itu dicairkan, pemerintah berpeluang memperkuat sektor-sektor vital seperti energi, air, dan industri.
Akademisi Universitas Cambridge, Roxane Farmanfarmaian, menilai pencairan aset dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan mendukung pembangunan pascakonflik. Di sisi lain, langkah itu juga dapat memberi ruang bagi pemerintah Iran untuk meredakan tekanan sosial di dalam negeri.
Mengapa Washington tetap berhitung
Bagi Iran, pencairan aset menjadi bukti itikad baik dari pihak lawan bicara sekaligus penopang posisi politik pemerintah. Bagi Amerika Serikat, dana itu tetap menjadi alat tawar untuk memastikan Iran mematuhi syarat tertentu dalam pembicaraan lanjutan.
Karena itu, aset beku Iran tidak hanya menyangkut neraca keuangan, tetapi juga kepercayaan, kontrol, dan arah hubungan dua negara yang masih saling curiga. Hingga kini, kelanjutan negosiasi masih sangat bergantung pada apakah Teheran dan Washington bisa menemukan titik temu soal pencairan dana tersebut.
Source: www.beritasatu.com






