Giovanni Reyna akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali tampil di panggung terbesar yang paling dekat dengan kisah keluarganya. Mauricio Pochettino memasukkannya ke dalam skuad tim nasional Amerika Serikat untuk Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat, sebuah keputusan yang menempatkan nama Reyna kembali di pusat perhatian.
Keputusan itu terasa lebih besar karena Gio membawa beban nama besar dari generasi sebelumnya. Ia adalah putra Claudio Reyna, sosok yang pernah menjadi kapten timnas Amerika Serikat dan dikenang sebagai salah satu figur kunci di era 1990-an hingga awal 2000-an.
Warisan keluarga yang sulit diabaikan
Giovanni lahir di Sunderland pada 13 November 2002 dan tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan sepak bola. Ibunya, Danielle Egan Reyna, pernah bermain untuk North Carolina Tar Heels dan mencatat enam penampilan bersama timnas putri Amerika Serikat pada 1993.
Sang ayah, Claudio Reyna, jauh lebih dikenal publik sepak bola Amerika. Ia mengoleksi 111 caps, menjadi kapten timnas sejak 2000 hingga pensiun pada 2006, dan mendapat julukan “Captain America” karena pengaruh serta kualitas teknisnya.
Nama Claudio juga sempat mencatat sejarah di Eropa. Pada 1998, ia menjadi pemain Amerika pertama yang menjadi kapten klub divisi utama di Eropa saat membela Wolfsburg, sebelum kemudian melanjutkan karier di Britania Raya.
Keluarga Reyna sempat tinggal di Sunderland ketika Claudio bermain di sana, tepat saat klub itu terdegradasi dari Premier League. Setelah masa Claudio di Manchester City dan Red Bull New York, keluarga tersebut pindah ke Bedford, New York.
Memilih Amerika Serikat meski lahir di Inggris
Meski lahir di Inggris, Giovanni memilih membela Amerika Serikat. Pada Maret 2020, ia menegaskan hanya akan bermain untuk negara asal orang tuanya dan menyebut Amerika Serikat sebagai rumahnya.
Keputusan itu datang ketika dirinya sedang naik daun di Borussia Dortmund. Seperti ayahnya yang memulai karier Eropa di Bundesliga bersama Bayer Leverkusen pada 1994, Reyna muda juga menemukan jalur awalnya di Jerman.
Di Dortmund, ia hanya butuh setengah musim di level sub-19 untuk menembus tim utama. Debutnya datang pada 18 Januari 2020 saat Dortmund menang 5-3 atas FC Augsburg, dan ia langsung menjadi pemain Amerika Serikat termuda yang tampil di Bundesliga pada usia 17 tahun 66 hari.
Prestasinya berlanjut cepat. Pada 4 Februari, ia mencetak gol profesional pertamanya ke gawang Werder Bremen di Piala Jerman dan menjadi pemain termuda dalam sejarah turnamen itu yang berhasil mencetak gol.
Dua pekan kemudian, pada 18 Februari, ia debut di Liga Champions melawan PSG dan kembali mencatat rekor sebagai pemain Amerika Serikat termuda yang bermain di kompetisi tersebut.
Nama besar, ekspektasi besar
Performa awal itu membuatnya segera dibandingkan dengan banyak figur papan atas. Patrick Vieira menyoroti kemampuan penyelesaian akhirnya dan menyamakannya dengan David Trezeguet, sedangkan Tab Ramos bahkan pernah menyebut dirinya melihat potensi “Zidane berikutnya” ketika Reyna masih berusia 15 tahun di level tim muda.
Penilaian tersebut lahir dari gaya bermain yang memang menonjol. Reyna dikenal mampu menguasai bola dengan elegan, melewati lawan di ruang sempit, dan memberi umpan akhir yang tajam.
Ramos juga menilai kecerdasan bermainnya membuat impresi yang kuat sejak usia muda. Karena itu, sejak awal banyak yang melihat Reyna sebagai pemain kreatif yang bisa memberi perbedaan di lini depan.
Karier yang terhambat cedera
Namun, perkembangan Reyna tidak berjalan mulus. Dalam lima tahun terakhir, ia disebut mengalami setidaknya delapan cedera berbeda, sebagian besar berupa masalah otot, dan setiap upaya kembali bermain kerap berakhir dengan kambuh.
Rangkaian cedera itu memotong kontinuitasnya dan membuat ritme kariernya terganggu. Laga penuh terakhirnya di Bundesliga terjadi pada 20 Maret 2022 melawan Colonia, sementara starter terakhirnya bersama Amerika Serikat datang saat melawan Uruguay di Copa América 2024.
Selama empat musim di Borussia Dortmund, Reyna mencatat 146 penampilan. Ia juga sempat dipinjamkan ke Nottingham Forest pada Januari 2024 sebelum menandatangani kontrak dengan Borussia Mönchengladbach pada musim panas 2025.
Perpindahan klub belum langsung menghapus persoalan fisiknya. Musim ini ia hanya menuntaskan 19 pertandingan dan masih bergulat dengan gangguan kebugaran yang membuat banyak pihak menunggu kepastian kondisi terbaiknya.
Peluang baru dari Pochettino
Situasi tersebut membuat pemanggilan ke Piala Dunia terasa seperti taruhan penting dari Pochettino. Pelatih asal Argentina itu tetap memberi kepercayaan kepada Reyna, meski riwayat cedera masih membayangi masa depannya.
Sejak debut bersama timnas senior pada November 2020, Reyna telah mencatat 36 pertandingan internasional, sembilan gol, dan enam assist. Catatan itu menjadi alasan mengapa Pochettino masih melihatnya sebagai pemain yang layak diandalkan.
Di negara sendiri, pada turnamen terbesar yang kembali digelar di Amerika Serikat, Reyna kini memikul kesempatan untuk membuktikan bahwa warisan nama keluarga masih bisa diterjemahkan menjadi kontribusi nyata di lapangan. Tantangannya sederhana namun berat: bermain cukup lama untuk mengubah harapan menjadi bukti.
Source: www.panenka.org






