GLM 5.2 Mengubah Peta Persaingan AI, China Dinilai Bisa Menyamai Mythos Lebih Cepat

Model AI terbaru Zai, GLM 5.2, langsung menarik perhatian karena tampil sebagai model open weights terdepan di Artificial Analysis Intelligence Index dengan skor 51. Pencapaian itu memperkuat keyakinan bahwa China bisa melahirkan model AI sekelas Mythos lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Keyakinan tersebut datang dari pendiri Zai, Tang Jie, yang menilai kemampuan itu dapat muncul sebelum kuartal pertama 2027. Ia menanggapi percakapan di X yang sebelumnya menyebut kemungkinan China memiliki model AI setara Mythos pada rentang November-Desember 2026.

Perdebatan yang Makin Panas

Balasan Tang Jie tidak berdiri sendiri, karena konteksnya adalah persaingan AI yang terus mengeras antara China dan Amerika Serikat. Elon Musk bahkan sempat menanggapi diskusi itu dengan prediksi bahwa capaian tersebut baru mungkin terjadi pada kuartal pertama 2027.

Di balik perdebatan tersebut, ada kekhawatiran yang jauh lebih besar soal kemampuan model kelas Mythos. Model seperti itu disebut memiliki kemampuan siber yang sangat kuat, bahkan diklaim bisa meretas perangkat lunak dan menemukan puluhan ribu bug yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Kekhawatiran itu ikut memengaruhi kebijakan Washington. Setelah melarang penjualan chip AI mutakhir ke China, Gedung Putih juga membatasi akses model AI Anthropic, Mythos 5, dan Fable 5 untuk semua warga asing.

Menurut laporan yang beredar, pemerintah AS khawatir kelompok yang terkait dengan China dapat melakukan jailbreak terhadap model-model tersebut untuk serangan siber. Karena itu, kemunculan model domestik China dengan kemampuan setara dinilai dapat mengurangi dampak pembatasan itu dalam jangka panjang.

GLM 5.2 dan Lonjakan Performanya

Optimisme Tang Jie mendapat pijakan kuat dari performa GLM 5.2 sendiri. Dibanding pendahulunya, ukuran model ini tetap sama seperti GLM-5.1, yakni 744 miliar parameter total dan 40 miliar parameter aktif, tetapi nilainya naik 11 poin di indeks yang sama.

GLM 5.2 juga melampaui sejumlah model lain dari China maupun Amerika Serikat dalam daftar tersebut. Di bawahnya ada Kimi K2.6, sementara Gemini 3.5 Flash milik Google mencatat 50 poin dan Claude Sonnet 4.6 milik Anthropic meraih 47 poin.

Meski begitu, GLM 5.2 belum menyalip jajaran teratas dari AS. Fable 5 masih berada di angka 60, sedangkan GPT 5.5 dari OpenAI mencatat skor 55.

Dengan posisi itu, GLM 5.2 bukan hanya menjadi model China yang kompetitif, tetapi juga salah satu model open weights dengan performa tertinggi saat ini. Open weights berarti bobot model tersedia untuk publik, sehingga siapa pun dapat mengunduh dan menjalankannya secara lokal.

Chip Huawei dan Isu Biaya Pelatihan

Ada satu hal lain yang membuat GLM 5.2 menonjol, yakni proses pelatihannya yang sepenuhnya memakai chip Huawei Ascend tanpa perangkat keras Nvidia. Fakta ini penting karena pembatasan ekspor chip canggih dari AS selama ini menjadi salah satu hambatan utama bagi ambisi AI China.

Jika model kompetitif dapat dilatih dengan ekosistem chip alternatif, tekanan dari pembatasan tersebut bisa berkurang. Pendiri Stability AI, Emad Mostaque, bahkan menyebut total biaya pelatihan model ini kemungkinan sekitar $25 juta.

Angka itu dinilai jauh lebih murah dibanding biaya yang dibutuhkan Anthropic atau OpenAI untuk melatih model AI mereka. Efisiensi biaya dan penggunaan chip lokal pun memberi dimensi baru pada persaingan ini.

Persoalannya kini bukan hanya siapa yang memiliki model paling kuat, tetapi juga siapa yang mampu membangun model canggih dengan rantai pasok dan anggaran yang lebih terkendali. Di titik ini, GLM 5.2 menjadi contoh bahwa jalur pengembangan AI di China masih terus bergerak, meski pembatasan dari AS belum menunjukkan tanda mereda.

Tuduhan Lama yang Masih Membayangi

Namun, kemajuan itu tetap dibaca dalam lanskap yang tidak sepenuhnya netral. Pada masa lalu, perusahaan AI AS pernah menuduh sejumlah firma China melakukan distillation terhadap model mereka.

Distillation adalah teknik melatih model yang lebih kecil menggunakan keluaran model yang lebih besar agar meniru perilakunya. Tuduhan itu menjadi bagian dari ketegangan yang lebih luas dalam perlombaan AI global.

Di saat yang sama, Anthropic dan OpenAI juga diperkirakan terus meningkatkan model mereka dalam periode yang sama. Artinya, target lahirnya model sekelas Mythos bukan garis akhir, melainkan salah satu titik dalam perlombaan yang terus bergerak.

Dengan sorotan yang kini tertuju pada GLM 5.2, pernyataan Tang Jie terasa seperti penanda bahwa persaingan AI antara China dan Amerika Serikat belum memasuki fase stabil. Justru sebaliknya, setiap lompatan baru berpotensi mengubah ulang jarak yang selama ini dianggap memihak satu kubu.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait