Gugatan Paten Baru Mengancam Galaxy Foldable Samsung, Lepton Minta Larangan Penjualan Permanen

Permintaan paling keras dalam gugatan yang kini mengarah ke Samsung datang dari Lepton Computing LLC, yaitu larangan permanen untuk menjual lini Galaxy foldable sampai perkara ini diputus. Bersamaan dengan itu, perusahaan berbasis di Amerika Serikat tersebut juga meminta ganti rugi dan royalti atas dugaan pelanggaran paten.

Langkah hukum ini membuat bisnis ponsel lipat Samsung ikut berada di bawah sorotan. Pasalnya, yang dipersoalkan bukan fitur kecil, melainkan elemen yang menjadi dasar cara kerja perangkat foldable.

Paten yang dipersoalkan menyentuh fungsi inti

Lepton menuduh Samsung melanggar sembilan paten yang disebut terkait dengan teknologi utama ponsel lipat. Poin yang disorot mencakup perpindahan aplikasi saat layar dibuka atau dilipat, perlindungan layar, serta rancangan engsel.

Ketiganya merupakan bagian penting dari pengalaman memakai ponsel lipat. Karena itu, bila klaim Lepton diterima pengadilan, dampaknya bisa lebih luas daripada sekadar sengketa teknis biasa.

Model Samsung yang ikut disasar

Gugatan ini tidak diarahkan ke seluruh produk foldable Samsung yang pernah beredar. Lepton disebut hanya menargetkan Galaxy Z Fold 3, Galaxy Z Flip 3, serta model yang lebih baru.

Batas target itu menjadi menarik karena paten tertua yang diklaim Lepton disebut baru berasal dari 29 Juni 2021. Artinya, ada jarak waktu yang cukup besar antara pendaftaran paten tersebut dan peluncuran ponsel lipat pertama Samsung.

Selisih waktu itu berpotensi menjadi salah satu titik perdebatan utama di pengadilan. Lepton tentu akan menegaskan bahwa konsep perangkat lipat sudah lama mereka kembangkan, tetapi tanggal pendaftaran paten tetap penting dalam pembuktian perkara.

Lepton mengklaim punya posisi awal di pasar foldable

Dalam gugatan ini, Lepton juga berusaha menunjukkan diri sebagai salah satu pelopor ponsel lipat modern. Perusahaan itu menyebut telah mengembangkan konsep ponsel lipat sejak 2008.

Lepton juga mengaku sempat menjajaki kerja sama dengan Samsung pada 2013. Untuk mendukung klaim tersebut, perusahaan itu menampilkan perangkat bernama “Lepton Flex” yang diklaim sebagai prototipe smartphone lipat pertama di AS.

Narasi ini dipakai untuk memperkuat argumen bahwa ide ponsel lipat yang disengketakan bukan gagasan baru. Dengan begitu, Lepton mencoba membangun kesan bahwa hak yang mereka klaim sudah memiliki jejak pengembangan lebih awal.

Posisi Lepton sendiri ikut dipertanyakan

Meski tuntutan yang diajukan tergolong berat, ada keraguan terhadap kapasitas Lepton sebagai penggugat. Laporan Seoul Wire menyoroti jejak operasional perusahaan yang sangat minim, termasuk dari situs resminya.

Media tersebut juga menyebut Lepton tampak hanya memiliki dua karyawan. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa Lepton merupakan Non-Practicing Entity atau NPE, yaitu entitas yang memegang paten tetapi tidak memproduksi barang.

Istilah itu kerap dikaitkan dengan praktik “patent troll”, meski label tersebut bukan keputusan hukum. Dalam sengketa teknologi, konteks seperti ini sering muncul saat perusahaan pemegang paten berhadapan dengan pemain besar.

Taruhannya besar bagi bisnis foldable Samsung

Jika permintaan larangan permanen dikabulkan, Samsung bisa menghadapi hambatan serius dalam menjual salah satu lini andalannya. Ponsel lipat sudah menjadi kategori penting bagi perusahaan asal Korea Selatan itu.

Referensi sumber menyebut Galaxy Z Fold 7 dan Galaxy Z Flip 7 termasuk perangkat foldable terbaik yang tersedia saat ini. Itu menunjukkan betapa besar peran Samsung dalam pasar ponsel lipat, baik dari sisi produk maupun arah persaingan.

Karena itu, perkara ini tidak hanya penting bagi Samsung. Sengketa tersebut juga bisa ikut memengaruhi dinamika pasar foldable yang selama ini banyak bergerak berkat kehadiran Samsung sebagai salah satu pemimpin kategori.

Sampai sekarang belum ada putusan yang memastikan apakah klaim Lepton akan diterima. Samsung hampir pasti akan melawan gugatan ini dengan serius, karena lini foldable sudah menjadi bagian penting dalam strategi produknya.

Source: www.androidpolice.com
Berita Terkait