Gugatan senilai 1,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp16 triliun kini menempatkan sejumlah bank besar dan perusahaan asuransi kredit di meja hijau. Kasus ini muncul dari kerugian investasi Ching Chiat Kwong, taipan properti Singapura, di NewSat Ltd, perusahaan satelit Australia yang kolaps dan memicu perdebatan panjang soal siapa yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya pendanaan.
Di Pengadilan Tinggi Victoria, perkara tersebut kembali menguji dugaan bahwa dukungan finansial untuk proyek NewSat dihentikan secara sepihak. Ching menilai keputusan para kreditur menjadi faktor penting yang ikut menyeret perusahaan itu menuju kegagalan, sementara pihak tergugat menegaskan bahwa masalah utama justru ada pada perilaku manajemen NewSat.
Nama-nama besar di balik gugatan
Dalam berkas perkara, Ching menyeret beberapa institusi keuangan ternama, termasuk Societe Generale, Standard Chartered, dan Credit Suisse yang kini berada di bawah UBS Group. Dua penjamin kredit juga ikut disebut, yakni Export-Import Bank Amerika Serikat dan Coface Prancis.
Para pihak tersebut dikaitkan dengan skema pendanaan yang semestinya menopang pembangunan satelit NewSat. Ching menyebut dirinya telah menaruh 100 juta dolar AS dari dana pribadi ke perusahaan itu, dan ia menilai investasi tersebut tidak mendapat perlindungan yang layak saat aliran dana terhenti.
Sumber sengketa ada di penghentian pendanaan
Inti perkara ini bukan hanya soal kerugian investasi, tetapi juga soal alasan penghentian dukungan finansial. Bagi Ching, pemutusan pendanaan berarti para bank dan lembaga kredit gagal memenuhi perjanjian pinjaman yang seharusnya menjaga proyek tetap berjalan.
Ia juga berpendapat bahwa berhentinya pendanaan membuat NewSat kehilangan peluang pendapatan dalam skala sangat besar. Dalam laporan ahli yang dikutip di perkara itu, kerugian akibat hilangnya potensi peluncuran armada satelit di masa depan bahkan diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Namun, kreditur membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menyatakan dana dihentikan karena manajemen NewSat bertindak tidak pantas dan menimbulkan masalah tata kelola perusahaan.
Tata kelola NewSat ikut dipersoalkan
Perdebatan soal tata kelola menjadi salah satu bagian yang paling menonjol dalam perkara ini. Sebuah surel dari konsultan Brendan Rudd pada 2014 disebut menunjukkan kekhawatiran terhadap kepemimpinan perusahaan di bawah Adrian Ballintine.
Dalam surel itu, Rudd dikabarkan menilai NewSat seolah dipakai untuk membiayai gaya hidup mewah sang eksekutif. Ballintine membantah tuduhan tersebut secara tegas, dan menyatakan, “I totally reject his comments about appalling corporate behaviour and that I used the company to fund my lifestyle.”
Pernyataan saling berlawanan ini memperlihatkan bahwa sengketa tidak berhenti pada kredit dan pendanaan. Cara perusahaan dijalankan ikut menjadi bahan penilaian bagi para kreditur ketika memutuskan apakah dukungan finansial layak diteruskan.
Biaya operasional dan strategi bisnis juga diperdebatkan
Ching juga membela sejumlah pengeluaran yang dipersoalkan dalam kasus tersebut. Menurutnya, biaya tertentu merupakan bagian dari strategi penjualan untuk menarik transaksi besar, bukan sekadar pemborosan yang berdiri sendiri.
Ia bahkan membandingkan biaya seperti tiket kelas satu atau penggunaan jet pribadi dengan nilai kontrak yang jauh lebih besar. “When you are in industry or you want to sell services, you are like a salesman,” ujarnya.
Ching juga mempertanyakan apakah beberapa ribu dolar pantas diperdebatkan jika dibandingkan dengan peluang menjual layanan bernilai ratusan juta dolar. Dari sudut pandangnya, pengeluaran itu merupakan bagian dari upaya mengejar pasar yang lebih luas, bukan alasan untuk menilai proyek gagal total.
Nama Emmanuel Macron ikut terseret
Kasus ini turut menyeret nama Emmanuel Macron ketika masih menjabat menteri di Prancis yang membawahi Coface. Ching meyakini ada dokumen yang ditandatangani Macron dan ikut memicu penghentian dana bagi proyek NewSat.
“He is the minister who actually signed off to stop the funding,” kata Ching dari kantornya di Singapura. Hingga saat ini, perwakilan Macron belum memberikan tanggapan atas tuduhan itu, dan Ching juga menyebut tidak pernah berkomunikasi langsung dengan Presiden Prancis tersebut.
Sementara itu, juru bicara Societe Generale, Standard Chartered, UBS, dan Coface belum memberi komentar tambahan. Dengan nilai gugatan yang sangat besar, perkara ini tetap menjadi salah satu sengketa investasi yang menonjol karena melibatkan bank global, penjamin kredit, dan runtuhnya perusahaan satelit Australia.
