Tekanan harga bahan pokok masih terasa di banyak daerah, terutama pada bawang merah dan gula pasir. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan dua komoditas itu sama-sama bergerak di atas harga acuan penjualan di sejumlah wilayah, sehingga beban belanja rumah tangga belum benar-benar reda.
Untuk bawang merah, rata-rata harga nasional tercatat Rp 43.998 per kilogram. Angka itu sudah melewati Harga Acuan Penjualan atau HAP konsumen yang berada di level Rp 41.500 per kilogram, sementara kenaikannya juga mencapai 4,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
Bawang merah masih jadi penekan utama
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa pada pekan keempat April, harga bawang merah memang sudah berada di atas HAP. Ia menegaskan, “pada minggu keempat April berada di atas harga acuan penjualan atau HAP-nya dengan kondisi harga sekarang Rp 43.998 sedangkan untuk yang HAP-nya Rp 41.500.”
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah tertentu. BPS mencatat jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan harga bawang merah justru bertambah, dari 224 daerah menjadi 227 daerah.
Sebaran yang luas ini menunjukkan tekanan harga belum mereda di tingkat konsumen. Situasi tersebut membuat bawang merah tetap menjadi salah satu komoditas yang paling diperhatikan dalam pantauan harga pangan nasional.
Di beberapa daerah, selisih harga dengan acuan pemerintah bahkan tergolong jauh. Kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah tercatat berada 44,37 persen di atas HAP.
Supiori catat harga paling tinggi
BPS juga menyoroti Kabupaten Supiori sebagai salah satu lokasi dengan harga bawang merah paling tinggi. Di daerah itu, harga tercatat mencapai Rp 80.000 per kilogram.
Ateng Hartono menyebut harga di Supiori sangat jauh melampaui acuan resmi. Ia mengatakan, “Kabupaten Supiori ini harga untuk bawang merah sampai Rp 80.000 atau 92,77 persen di atas HAP-nya.”
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan harga tidak hanya muncul di daerah dengan pasar besar. Tekanan justru terlihat menyebar hingga ke wilayah yang secara geografis jauh dari pusat distribusi utama.
Gula pasir ikut naik di banyak wilayah
Selain bawang merah, gula pasir juga menunjukkan pola kenaikan yang meluas. BPS mencatat rata-rata harga nasional gula pasir berada di level Rp 18.765 per kilogram.
Posisi itu masih berada di atas HAP konsumen yang berkisar Rp 17.500 sampai Rp 18.500, tergantung wilayah. Pada periode yang sama, harga gula pasir naik 1,5 persen dan bergerak di atas acuan pemerintah di banyak daerah.
Kenaikan itu terjadi di 51 persen wilayah Indonesia, atau setara dengan 185 kabupaten dan kota yang mencatat Indeks Perkembangan Harga cukup tinggi. Artinya, lebih dari separuh wilayah yang dipantau menunjukkan harga jual yang sudah melampaui ketentuan acuan.
Salah satu contoh terlihat di Barito Timur. Di daerah tersebut, harga gula pasir tercatat Rp 19.737 per kilogram atau 12,78 persen di atas HAP.
Tekanan harga masih tersebar luas
Meski kenaikan gula pasir tidak setajam bawang merah, dampaknya tetap terasa karena wilayah yang terdampak jumlahnya besar. Kondisi ini membuat harga kebutuhan dapur masih cenderung berat bagi banyak rumah tangga di daerah.
BPS menilai pergerakan harga yang menyebar ke banyak kabupaten dan kota menunjukkan tekanan belum terkonsentrasi pada pusat perdagangan saja. Dengan pola seperti ini, konsumen di daerah lebih mudah merasakan dampaknya langsung pada belanja harian.
Di sisi lain, BPS juga mencatat cabai rawit mulai turun setelah masa Ramadhan dan Idul Fitri. Harga cabai rawit yang sempat menembus Rp 100.000 per kilogram kini turun menjadi Rp 70.528 per kilogram.
Namun penurunan itu belum membuat harga kembali sepenuhnya normal. Ateng menjelaskan bahwa cabai rawit masih berada di atas HAP, meski sudah turun 7,58 persen dibanding Maret.
Dengan bawang merah yang masih mahal, gula pasir yang naik di 185 daerah, dan cabai rawit yang belum lepas dari tekanan acuan, harga pangan di banyak wilayah masih menunjukkan gejala belum stabil. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan biaya konsumsi rumah tangga masih berlangsung di sejumlah komoditas penting.







