Habiburokhman menilai kritik Dino Patti Djalal terhadap perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto terlalu keras dan tidak tepat sasaran. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu bahkan menyebut cara pandang tersebut tendensius, tidak etis, dan membabi buta.
Sikap Habiburokhman muncul setelah Dino mempertanyakan intensitas kunjungan luar negeri Prabowo dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Dino juga menyoroti biaya perjalanan, jumlah rombongan resmi, transparansi agenda, serta peluang Presiden bertemu para pemimpin dunia dalam forum internasional.
Menurut Habiburokhman, kritik semacam itu tidak membaca konteks diplomasi secara utuh. Ia menilai penilaian Dino tidak berbasis informasi yang akurat dan justru cenderung berubah menjadi serangan politik terhadap pemerintahan Prabowo.
Dalam pandangannya, Presiden Prabowo memang perlu aktif menjalin hubungan dengan negara lain. Ia menganggap menerima undangan maupun mendatangi para pemimpin dunia adalah langkah penting bagi kepentingan Indonesia di berbagai bidang.
Habiburokhman juga menolak anggapan bahwa Prabowo sebaiknya lebih sering mengundang pemimpin negara lain datang ke Indonesia. Ia menilai usulan itu terasa janggal di tengah situasi global yang tidak pasti dan ketika setiap negara tetap harus memperjuangkan kepentingannya sendiri.
Untuk memperkuat argumennya, Habiburokhman menyinggung Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tetap berkunjung ke China meski hubungan kedua negara sempat memanas akibat persoalan perdagangan. Contoh itu ia pakai untuk menunjukkan bahwa diplomasi aktif tetap dibutuhkan meskipun hubungan antarnegera sedang dinamis.
Bagi Habiburokhman, agenda luar negeri tidak bisa diukur hanya dari jumlah perjalanan atau besarnya biaya yang dikeluarkan. Ia menilai ukuran yang lebih penting justru manfaat strategis bagi posisi Indonesia di tengah perubahan hubungan internasional.
Ia juga menyinggung soal etika mantan pejabat saat mengkritik penerusnya. Menurut dia, di banyak negara maju, mantan pejabat umumnya membatasi diri agar tetap menghormati orang yang sedang menjalankan tugas pemerintahan.
Meski demikian, Habiburokhman menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari siapa pun, termasuk dari Dino Patti Djalal. Hanya saja, ia mengingatkan agar kritik disampaikan dengan cermat supaya tidak berbalik menjadi bumerang di ruang publik.
Habiburokhman juga menambahkan bahwa dalam iklim demokrasi dan keterbukaan, publik kerap membandingkan kinerja mantan pejabat dengan pejabat yang sedang menjabat. Karena itu, menurut dia, setiap kritik perlu bertumpu pada data yang kuat agar tetap punya bobot di mata masyarakat.
Polemik ini menunjukkan bahwa isu diplomasi luar negeri bisa cepat melebar menjadi perdebatan politik. Di titik itu, Habiburokhman menempatkan persoalan kritik terhadap Prabowo sebagai soal ketepatan data, etika berpendapat, dan cara membaca kepentingan negara.
Source: www.viva.co.id