Di perairan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara, perjalanan pengungsi Rohingya kembali menunjukkan sisi paling kelam dari krisis kemanusiaan yang belum juga selesai. UNHCR mencatat hampir 900 orang tewas atau hilang di Teluk Benggala dan Laut Andaman dalam periode terbaru yang dipantau, angka yang menegaskan betapa berbahayanya rute laut ini bagi mereka yang mencari perlindungan.
Kondisi tersebut membuat jalur laut itu kerap disebut sebagai salah satu lintasan paling mematikan di kawasan. Juru bicara UNHCR, Babar Baloch, bahkan menggambarkan wilayah itu sebagai “kuburan tak bertanda” bagi ribuan Rohingya yang terpaksa mengambil risiko besar demi selamat.
Perjalanan yang terus memakan korban
Data UNHCR menunjukkan bahwa sekitar 5.000 Rohingya diperkirakan tenggelam di laut selama satu dekade terakhir. Angka itu memperlihatkan bahwa tragedi tidak terjadi sesekali, melainkan berulang dan terus menghantui perjalanan para pencari suaka.
Pada tahun ini saja, lebih dari 2.800 Rohingya dilaporkan telah menyeberang lewat jalur laut. Sebagian besar berangkat dari Cox’s Bazar di Bangladesh atau Negara Bagian Rakhine di Myanmar, dua titik yang selama ini menjadi jalur keberangkatan utama.
Mereka umumnya menuju Malaysia atau Indonesia sebagai tujuan akhir. Namun, kapal yang dipakai sering kali penuh sesak, rapuh, dan sangat bergantung pada cuaca yang mudah berubah di laut lepas.
Tekanan di darat mendorong orang naik kapal
Eksodus Rohingya meningkat tajam sejak operasi kekerasan di Myanmar pada masa lalu. Sejak itu, banyak keluarga bertahan di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, meski kehidupan di sana tetap serba terbatas dan tidak pasti.
Situasi di kamp membuat sebagian orang memilih laut sebagai jalan keluar, walaupun risikonya sangat besar. Bantuan kemanusiaan di Bangladesh juga mengalami pengurangan karena kekurangan dana, sementara akses pendidikan dan peluang hidup layak masih terbatas.
Berbagai faktor itu mendorong banyak keluarga mengambil keputusan berbahaya, termasuk:
- konflik yang masih berlangsung di Myanmar,
- persekusi dan ketidakpastian status kewarganegaraan,
- kehidupan yang terbatas di kamp pengungsi,
- minimnya akses pendidikan dan peluang ekonomi,
- harapan mencari perlindungan yang lebih aman di negara lain.
Harapan pulang yang belum terwujud
Menurut Babar Baloch, banyak Rohingya sebenarnya ingin kembali ke Myanmar jika kondisi memungkinkan. Namun, konflik yang belum reda, persekusi, dan tidak adanya prospek kewarganegaraan membuat harapan itu masih jauh dari kenyataan.
Situasi ini membuat mereka terjebak di dua sisi yang sama-sama sulit, yakni tidak aman untuk kembali dan tidak mudah untuk hidup dengan layak di tempat penampungan. Dalam kondisi seperti itu, laut sering dianggap sebagai satu-satunya pilihan, meski justru menjadi sumber ancaman baru.
Perempuan dan anak-anak paling terdampak
UNHCR menyebut lebih dari separuh orang yang menempuh perjalanan laut dalam beberapa tahun terakhir adalah perempuan dan anak-anak. Kelompok ini menghadapi risiko berlapis, mulai dari perdagangan orang, eksploitasi, hingga kekerasan selama perjalanan maupun setelah terombang-ambing di laut.
Setiap kapal yang tenggelam juga meninggalkan luka panjang bagi keluarga di darat. Banyak korban tidak pernah ditemukan, sehingga keluarga tidak memperoleh kepastian tentang nasib kerabat yang berangkat.
Tragedi terbaru di Laut Andaman
Awal bulan ini, sebuah trawler yang mengangkut sekitar 250 pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh tenggelam di Laut Andaman. Kapal itu berlayar dari Teknaf di Bangladesh selatan menuju Malaysia, sebelum dihantam gelombang tinggi dan angin kencang pada 8 April.
Penjaga pantai Bangladesh menyebut sembilan orang berhasil diselamatkan, sementara ratusan lainnya masih hilang. Peristiwa ini kembali menunjukkan seberapa rapuh perjalanan laut yang ditempuh para pengungsi demi mencari keselamatan.
| Fakta utama | Keterangan |
|---|---|
| Korban tewas atau hilang | Hampir 900 orang |
| Jalur paling mematikan | Teluk Benggala dan Laut Andaman |
| Perkiraan korban tenggelam dalam satu dekade | Sekitar 5.000 orang |
| Jumlah yang menyeberang tahun ini | Lebih dari 2.800 orang |
| Kelompok paling rentan | Perempuan dan anak-anak |
UNHCR berharap sorotan terhadap tingginya angka kematian ini dapat memicu perhatian yang lebih besar pada nasib Rohingya di Myanmar, di kamp pengungsi, dan di seluruh kawasan. Lembaga itu menilai dibutuhkan solusi yang aman dan berkelanjutan agar perjalanan berikutnya tidak kembali berubah menjadi tragedi baru di laut.
