Minimnya kenaikan gaji membuat banyak profesional keamanan siber mulai berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya. Laporan Global Technology Talent & Salary Report yang dikutip ZDNET menunjukkan hanya sekitar 29% pekerja di bidang ini yang melaporkan kenaikan pendapatan, angka yang tertinggal jauh dari bidang seperti DevOps, manajemen produk, dan analisis bisnis.
Kondisi itu menjadi sorotan karena beban kerja tim keamanan siber justru terus melebar. Di banyak perusahaan, mereka memikul tugas penting untuk mencegah serangan digital, menjaga sistem tetap aman, dan merespons ancaman yang berubah cepat, tetapi penghargaan finansialnya belum ikut bergerak secepat tuntutan tersebut.
Kompensasi belum mengikuti tingkat urgensi
Data laporan itu memperlihatkan adanya jarak yang jelas antara tanggung jawab dan imbalan. Saat perusahaan semakin bergantung pada perlindungan digital, profesi keamanan siber masih belum memperoleh kenaikan pendapatan yang setara dengan perannya.
Dalam laporan tersebut, lebih dari separuh pekerja di bidang DevOps, manajemen produk, dan analisis bisnis disebut menerima kenaikan gaji. Perbandingan itu menegaskan bahwa keamanan siber belum menikmati momentum yang sama, meski fungsinya sangat penting bagi kelangsungan operasional perusahaan.
Ankur Anand dari Nash Squared menilai banyak pimpinan perusahaan baru benar-benar memahami pentingnya keamanan siber setelah terjadi insiden besar. Padahal, sebagian besar pekerjaan tim ini justru berlangsung di tahap pencegahan, sehingga hasilnya kerap tidak terlihat saat tidak ada serangan yang lolos.
Pekerjaan yang berhasil justru sering tak tampak
Situasi itu membuat kontribusi profesional keamanan siber mudah luput dari perhatian. Ketika serangan berhasil dicegah, dampaknya memang tidak muncul secara kasatmata, sehingga nilai kerja mereka sering kalah menonjol dibanding fungsi teknologi lain yang hasilnya lebih mudah diukur.
Tekanan tersebut tidak berhenti di soal pengakuan. Perusahaan juga terus menuntut respons yang cepat, akurat, dan konsisten, sementara ancaman digital berkembang semakin dinamis dari waktu ke waktu.
Pada saat yang sama, banyak organisasi masih mengandalkan infrastruktur teknologi lama. Sistem semacam ini lebih sulit diamankan, sehingga tim keamanan harus bekerja ekstra keras agar perlindungan dasar tetap berjalan.
Kepuasan kerja ikut menurun
Beban yang terus naik tanpa diimbangi kompensasi membuat kondisi tenaga kerja di bidang ini ikut tertekan. Sekitar 23% profesional keamanan siber mengaku tidak bahagia, dan bidang ini disebut sebagai salah satu profesi teknologi informasi dengan tingkat kepuasan kerja terendah.
Laporan itu juga mencatat hampir 49% responden berencana mencari pekerjaan baru dalam 12 bulan ke depan. Angka tersebut menunjukkan potensi perpindahan tenaga kerja yang besar di tengah kebutuhan perusahaan yang justru terus bergantung pada perlindungan digital.
Anadn menilai beban kerja yang meningkat tanpa penghargaan yang sepadan membuat profesi ini semakin rentan terhadap ketidakpuasan. Saat ekspektasi terus bertambah tetapi kompensasi tidak menyesuaikan, tekanan pada pekerja keamanan siber menjadi berlapis.
AI menambah kompleksitas ancaman
Perkembangan kecerdasan buatan ikut memperumit situasi yang sudah berat. Menurut Anand, AI membuat ancaman siber berkembang lebih cepat daripada kemampuan banyak perusahaan untuk menyesuaikan diri.
Ia mencontohkan sistem AI canggih seperti Anthropic Mythos yang dinilai mampu menemukan celah keamanan dengan sangat cepat. Gambaran itu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi juga bisa membawa risiko baru yang harus dipantau secara ketat oleh tim keamanan.
Meski begitu, AI tidak hanya dipandang sebagai sumber ancaman. Teknologi ini juga dapat membantu lewat otomatisasi dan analisis yang lebih cepat, sehingga sebagian beban kerja bisa berkurang.
Karena itu, peran manusia tetap dibutuhkan dalam pengawasan dan pengambilan keputusan. Banyak profesional keamanan siber melihat AI sebagai alat bantu, bukan pengganti, terutama ketika ancaman digital berubah cepat dan tuntutan kepatuhan semakin ketat.
