Di Bandara Haneda, Japan Airlines mulai menguji robot humanoid untuk pekerjaan darat yang selama ini banyak menyita tenaga manusia. Uji coba ini dipasang sebagai jawaban atas tekanan operasional yang makin berat, terutama ketika kekurangan pekerja dan tingginya lalu lintas penumpang berjalan bersamaan.
Perusahaan itu menggandeng GMO AI & Robotics dalam proyek yang mulai berjalan pada Mei. Robot tersebut ditargetkan membantu pemuatan bagasi dan pembersihan kabin, dua tugas yang membutuhkan tenaga fisik besar di lingkungan bandara.
Tekanan tenaga kerja di sektor penerbangan Jepang
Langkah Japan Airlines muncul di tengah situasi yang tidak mudah bagi industri penerbangan Jepang. Jumlah wisatawan terus naik, sementara ketersediaan tenaga kerja menyusut karena populasi yang menua.
Japan National Tourism Organization mencatat kedatangan wisatawan internasional naik 3,5% secara tahunan pada Maret. Kenaikan itu ikut menambah beban pada operasional bandara yang sudah menghadapi keterbatasan personel.
Japan Airlines memilih Haneda sebagai lokasi uji karena bandara ini menjadi titik penting bagi aktivitas penerbangan di Tokyo. Selama dua tahun masa uji coba, perusahaan akan menerapkan robot secara bertahap sambil menilai kelayakan dan risikonya.
Robot masuk ke pekerjaan fisik
Dalam demonstrasi teknologi, robot humanoid buatan Unitree Robotics dari China terlihat mampu memindahkan barang di conveyor belt dan berinteraksi dengan pekerja. Namun, belum ada kepastian apakah Unitree terlibat langsung dalam uji coba Japan Airlines atau hanya menjadi bagian dari evaluasi teknologi yang tersedia di pasar.
Japan Airlines juga belum memutuskan penerapan penuh karena masih mempertimbangkan keselamatan dan efektivitas. Pada tahap ini, perusahaan masih menguji sejauh mana robot benar-benar bisa membantu tanpa mengganggu alur kerja yang ada.
Saham Japan Airlines sempat naik sekitar 3% pada hari perdagangan pertama Mei. Meski begitu, kinerjanya sepanjang tahun berjalan masih turun sekitar 13%.
Dorongan demografi yang makin kuat
Kebutuhan robot humanoid di Jepang tidak hanya didorong oleh kekurangan pekerja sesaat. Barclays menilai populasi yang menua dan rendahnya angka kelahiran membuka ruang bagi robot untuk mengambil alih pekerjaan penting yang kurang diminati manusia.
Organisation for Economic Co-operation and Development memperkirakan populasi usia kerja Jepang akan menyusut 31% dari 2023 hingga 2060. Marc Einstein dari Counterpoint juga menilai robot humanoid akan makin berperan di pasar tenaga kerja Jepang.
Pemerintah Jepang ikut menyiapkan arah kebijakan yang mendukung penggunaan teknologi tersebut. Di bawah basis dukungan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang cenderung pada kebijakan imigrasi ketat, dorongan untuk mengandalkan robot diperkirakan makin kuat.
Pemerintah juga telah merilis panduan penggunaan robotika dan kecerdasan buatan untuk membantu mengatasi penurunan tenaga kerja akibat penuaan populasi. Dalam kondisi seperti itu, bandara menjadi salah satu sektor yang paling masuk akal untuk dijadikan tempat uji coba otomatisasi.
Masih jauh dari pengganti manusia penuh
Meski menarik perhatian, robot humanoid belum dianggap siap menggantikan manusia sepenuhnya. Kemampuan mereka untuk menjalankan tugas yang menuntut ketelitian tinggi masih terbatas, begitu juga kemampuan pemrograman dan penalarannya.
Barclays menyebut robotika fisik sebagai frontier berikutnya dalam pengembangan kecerdasan buatan. Bank itu memperkirakan nilai industrinya bisa mencapai US$1,4 triliun pada 2035, dari sekitar US$2-3 miliar saat ini.
Counterpoint memperkirakan penerapan skala besar teknologi ini baru mungkin terealisasi dalam lima tahun ke depan. Sampai saat itu tiba, peran manusia masih tetap dibutuhkan untuk mengawasi dan mengoperasikan robot humanoid dalam lingkungan kerja yang kompleks seperti bandara.
Source: www.cnbcindonesia.com






