Hannah Al Rashid Siap Uji Fisik Lagi, Peran Baru Ini Dibuat Lebih Berani

Hannah Al Rashid kembali masuk ke film aksi lewat proyek terbaru garapan Mike Wiluan yang masih berada di tahap pasca-produksi. Film produksi Catchplay+ dan Infinite Studios itu belum mengumumkan judul resminya, tetapi sudah diposisikan untuk tayang lebih dulu di jaringan bioskop.

Kembalinya Hannah ke genre ini langsung menarik perhatian karena ia sudah lama tidak tampil dalam film aksi Indonesia. Ia juga akan berbagi layar dengan Alexandra Gottardo, Dwi Sasono, dan Samo Rafael dalam proyek yang menuntut banyak adegan fisik tersebut.

Dasar beladiri yang kembali terpakai

Hannah memiliki latar pencak silat yang membuatnya lebih siap menghadapi tuntutan gerak dalam film aksi. Meski begitu, ia menegaskan bahwa latihan tetap berjalan panjang bersama para pemain lain agar ritme fisik seluruh pemeran bisa seragam.

Tim produksi juga menyiapkan banyak workshop dan menaikkan intensitas latihan fisik. Menurut Hannah, proses itu tidak ringan karena standar kebugaran untuk film aksi selalu tinggi dan terasa makin menantang seiring bertambahnya usia.

Perubahan tampilan untuk membentuk karakter

Selain tuntutan fisik, Hannah juga tampil dengan gaya baru lewat potongan rambut mullet. Perubahan itu datang dari keinginannya sendiri untuk memberi warna yang lebih kuat pada karakter yang ia mainkan.

Ia sempat berdiskusi dengan Mike Wiluan dan mendapat sambutan yang mendukung. Hannah menilai detail visual seperti rambut dapat membantu membangun identitas tokoh secara lebih tegas, bukan hanya melalui dialog dan adegan laga.

Untuk referensi visual, Hannah melihat sejumlah karakter perempuan dari film berlatar Deep South America. Ia juga mengacu pada sosok seperti Kristen Stewart untuk memperkaya arah tampilan karakternya.

Ruang kembali ke ritme aksi yang lama ditinggalkan

Hannah menyebut pengalaman terakhirnya di film aksi lokal adalah The Night Comes for Us, meski proses syuting film itu berlangsung lebih awal. Sebelum proyek ini, ia juga sempat terlibat dalam proyek aksi Sony di London pada 2020.

Karena itu, proyek garapan Mike Wiluan ini menjadi kesempatan baginya untuk kembali ke ritme aksi yang sudah lama tidak ia jalani. Kombinasi nama-nama pemain dan pendekatan visual yang lebih berani membuat film tersebut menonjol di tengah daftar rilisan terbaru Catchplay+.

Film ini menjadi bagian dari lini terbaru Catchplay+ setelah sebelumnya ikut memproduksi film Indonesia Losmen Melati. Sementara itu, publik masih menunggu judul resmi film yang saat ini terus dikerjakan pada tahap pasca-produksi.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait