Hantavirus Sudah Menyebar Di Sejumlah Wilayah Indonesia, Penularannya Dekat Dengan Tikus

Kewaspadaan terhadap Hantavirus di Indonesia kini naik lagi setelah Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus antara 2024 hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, 20 pasien sembuh, dan angka fatalitas kasus atau CFR tercatat 13 persen.

Di DKI Jakarta, Dinas Kesehatan mengonfirmasi empat kasus infeksi Hantavirus sepanjang 2026. Tiga pasien sudah pulih, sementara satu lainnya masih berstatus suspek, sehingga perhatian publik terhadap virus ini ikut kembali menguat.

Penyebaran Hantavirus tidak lepas dari hewan pengerat sebagai inang utama. Penularannya pada manusia umumnya terjadi saat partikel dari urin, kotoran, atau air liur tikus terhirup, atau ketika seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang mulut atau hidung.

Dalam kondisi tertentu, gigitan tikus yang terinfeksi juga dapat menularkan virus secara langsung. Karena itu, kebersihan lingkungan dan pengendalian rodensia menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Gejala awal Hantavirus sering tampak seperti infeksi biasa. Demam, sakit kepala, dan nyeri otot menjadi keluhan yang kerap muncul lebih dulu sebelum kondisi berkembang lebih berat.

Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat berlanjut menjadi sesak napas akut atau gangguan fungsi ginjal. Persamaan gejalanya dengan penyakit umum membuat deteksi dini menjadi penting, terutama pada orang yang memiliki paparan tikus.

Bukan virus baru

Meski kembali ramai dibicarakan, Hantavirus bukanlah virus yang baru dikenal. Virus ini pertama kali diisolasi dan diidentifikasi secara resmi pada 1976 oleh Dr. Ho-Wang Lee, ilmuwan asal Korea Selatan.

Nama Hantavirus diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Penemuan awal itu dilakukan dari paru-paru tikus sawah Apodemus agrarius.

Namun, jejak penyakit yang diduga terkait Hantavirus ternyata jauh lebih tua daripada tahun identifikasinya. Gejala yang mirip infeksi ini sudah tercatat sebelum virusnya berhasil dikenali secara resmi.

Salah satu catatan paling kuat berasal dari Perang Korea pada 1951-1953. Saat itu, lebih dari 3.000 tentara PBB mengalami demam berdarah disertai gangguan ginjal yang misterius.

Penyakit tersebut kemudian dikenal sebagai Korean Hemorrhagic Fever. Para dokter pada masa itu sudah mengetahui ada patogen yang menyerang, tetapi jenis virus penyebabnya baru dipastikan dua dekade kemudian.

Dua kelompok besar

Secara umum, Hantavirus dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan wilayah dan gejalanya. Kelompok pertama adalah Hantavirus Dunia Lama atau Old World yang ditemukan di Asia dan Eropa.

Jenis ini biasanya memicu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Kelompok kedua adalah Hantavirus Dunia Baru atau New World.

Kelompok New World pernah menyebabkan wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada 1993. Wabah itu menimbulkan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yaitu penyakit paru-paru berat yang dapat berakibat fatal.

Pola tersebut menunjukkan bahwa Hantavirus berkembang di berbagai belahan dunia melalui rodensia. Karena itu, risiko penularan sangat terkait dengan lingkungan yang menjadi habitat tikus.

Perhatian di berbagai wilayah

Di Indonesia, sebagian besar kasus Hantavirus yang tercatat tergolong HFRS. Kasus-kasus itu tersebar di beberapa wilayah, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten.

Sebaran ini menandakan bahwa Hantavirus sudah masuk dalam perhatian kesehatan publik. Meski jumlahnya masih terbatas, munculnya kasus di sejumlah daerah membuat kewaspadaan tetap diperlukan.

Sorotan terhadap virus ini juga menguat setelah muncul perhatian global dari wabah di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik. Bersamaan dengan itu, riwayat panjang Hantavirus kembali menjadi pembahasan karena menunjukkan bahwa ancaman ini bukan fenomena baru.

Source: www.suara.com

Berita Terkait