TB Hasanuddin menilai komponen latihan dasar kemiliteran dalam pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih perlu dihapus. Menurut anggota Komisi I DPR RI itu, penghapusan Latsarmil akan langsung menghemat sekitar Rp30 juta per orang dari biaya pelatihan yang disebut mencapai Rp45 juta per peserta.
Ia menyebut porsi biaya sebesar itu tidak sejalan dengan kebutuhan utama pengelolaan koperasi. Dalam pandangannya, dana pelatihan seharusnya diarahkan untuk penguatan manajerial, tata kelola usaha, keuangan, pemasaran, dan pemberdayaan masyarakat.
Biaya Pelatihan Dinilai Terlalu Besar
TB Hasanuddin menjelaskan bahwa dari total sekitar Rp45 juta per peserta untuk pelatihan 45 hari, sekitar Rp30 juta terserap untuk latihan militer. Sementara itu, sekitar Rp15 juta lainnya dipakai untuk materi substansi koperasi.
Dengan komposisi seperti itu, ia menilai pelatihan menjadi kurang efisien jika tujuan utamanya adalah menyiapkan pengelola koperasi. Karena itu, ia mendorong pemerintah meninjau ulang desain program agar anggaran negara digunakan lebih tepat sasaran.
Relevansi Materi Dipertanyakan
TB Hasanuddin menegaskan kemampuan seorang manajer koperasi tidak diukur dari ketangguhan fisik atau latar belakang militer. Ia menilai kebutuhan yang paling penting justru terletak pada kemampuan mengelola bisnis dan memahami kebutuhan anggota koperasi.
Ia juga meminta pelatihan disusun sesuai fungsi peserta sebagai pengelola koperasi, bukan diarahkan pada pembentukan kemampuan tempur. Menurutnya, pendekatan yang lebih fokus pada substansi koperasi akan lebih bermanfaat ketika peserta kembali ke daerah masing-masing.
Korban Jiwa Muncul di Tengah Sorotan
Evaluasi atas skema pelatihan ini juga menguat karena program tersebut disebut telah menelan korban jiwa. Berdasarkan informasi yang tersedia, jumlah peserta SPPI calon manajer KDMP dan KNMP yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil bertambah menjadi lima orang.
Peserta kelima yang dilaporkan meninggal adalah almarhumah Nola Dya Sari dari satuan pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Fakta itu membuat perhatian terhadap keselamatan pelatihan semakin besar, di tengah perdebatan mengenai relevansi materi yang diberikan.
Skala Program dan Jumlah Peserta
Program pelatihan ini merupakan bagian dari Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI. Pada gelombang pertama, tercatat 30.000 calon pengelola KDMP dibiayai oleh Kementerian Koperasi, sedangkan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
| Komponen | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Durasi pelatihan | 45 hari | 30 hari latihan militer, 15 hari materi koperasi |
| Biaya per peserta | Rp45 juta | Sekitar Rp30 juta untuk Latsarmil dan Rp15 juta untuk substansi koperasi |
| Peserta nasional | 35.476 orang | 30.000 calon pengelola KDMP dan 5.476 calon pengelola KNMP |
| Penghematan potensial | Rp30 juta per orang | Jika komponen Latsarmil dihapus |
TB Hasanuddin berharap pemerintah segera melakukan peninjauan menyeluruh terhadap skema tersebut. Ia menilai evaluasi penting agar program ini benar-benar melahirkan pengelola koperasi yang profesional, efektif, dan efisien tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.
