Harga Bensin Bangladesh Melonjak 15 Persen, Panas Ekstrem Picu Pemadaman Listrik Meluas

Author: Redaksi Android62

Kenaikan harga bahan bakar di Bangladesh langsung menambah tekanan bagi warga yang sudah menghadapi pemadaman listrik lebih sering di tengah cuaca panas ekstrem. Di saat kebutuhan energi melonjak, pemerintah juga harus berhadapan dengan pasokan yang tidak sepenuhnya mampu mengejar permintaan.

Kementerian Energi Bangladesh menetapkan harga bensin menjadi 135 taka per liter dari sebelumnya 116 taka. Harga solar ikut naik menjadi 115 taka per liter, sementara minyak tanah ditetapkan 130 taka per liter untuk membantu menekan beban impor energi.

Listrik tak seimbang dengan kebutuhan

Di sisi lain, lonjakan suhu udara hingga 40 derajat Celcius membuat konsumsi listrik naik tajam. Menteri Muda Urusan Listrik, Anindya Islam Amit, menyebut permintaan listrik sempat mencapai 16.000 megawatt, sedangkan kapasitas produksi nasional yang tersedia hanya 14.126 megawatt.

Selisih antara kebutuhan dan pasokan itu memaksa pemerintah memberlakukan pemadaman terbatas atau load-shedding. Amit menjelaskan di hadapan anggota dewan bahwa langkah tersebut diperlukan agar sistem kelistrikan tetap berjalan.

Pemerintah juga menguji pemutusan beban listrik secara terbatas dan eksperimental di Dhaka dengan besaran 110 megawatt. Kebijakan itu diarahkan agar pasokan listrik tetap tersedia, termasuk untuk sektor pertanian di wilayah pedesaan yang ikut terdampak panas tinggi.

“Tidak dapat diterima jika penduduk kota menikmati kenyamanan sementara para petani menderita,” kata Amit, menegaskan soal keadilan distribusi energi.

Dampak langsung dirasakan warga

Pemadaman yang lebih sering segera terasa di rumah tangga, terutama di wilayah yang sudah dilanda suhu ekstrem. Di distrik Pabna, Mashuka Yasmin Mishu mengaku keluarganya kesulitan beristirahat karena listrik kerap padam pada malam hari.

“Baik anak-anak saya maupun saya tidak bisa tidur tadi malam karena seringnya pemadaman listrik. Cuacanya sangat panas,” ujar Mishu. Ia juga menilai kondisi tahun ini jauh lebih berat karena listrik bahkan tidak menyala dua jam berturut-turut.

Tekanan pasokan dari luar negeri

Kenaikan harga BBM dan krisis listrik di Bangladesh tidak lepas dari gangguan rantai pasok global. Eskalasi konflik di Timur Tengah ikut mendorong harga minyak mentah dunia naik dan memperberat biaya energi yang harus ditanggung pemerintah.

Pejabat senior Kementerian Energi, Umme Rehana, menjelaskan bahwa masalah utama bukan hanya pada kapasitas pembangkit, melainkan juga ketersediaan gas dan bahan bakar. Bangladesh disebut memiliki kemampuan pembangkit yang besar, tetapi tidak bisa memaksimalkannya karena bahan baku energi terbatas.

Gangguan pengiriman dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz disebut ikut memberi tekanan pada pasokan. Kondisi ini membuat sejumlah operasi energi nasional berada dalam situasi sulit, termasuk suplai solar yang penting bagi banyak sektor.

Kekhawatiran merembet ke layanan lain

Krisis solar juga memunculkan kekhawatiran terhadap operasional menara transmisi telekomunikasi. Jika pasokan terus terganggu, cakupan jaringan diperkirakan bisa menyusut hingga 40 persen bagi sekitar 150 juta pengguna ponsel.

Di tengah situasi itu, Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud meminta masyarakat tetap tenang soal stok nasional. “Negara memiliki cadangan bahan bakar yang cukup,” ujarnya, sembari menegaskan pemerintah terus memantau pasokan dan distribusi energi di tengah tekanan harga minyak serta lonjakan kebutuhan listrik.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru