Harga Brent Menembus US$94, Ancaman Jalur Ekspor Arab Saudi Mengguncang Pasar

Author: Redaksi Android62

Harga minyak Brent menembus US$94 per barel ketika pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kekhawatiran bertambah setelah jalur ekspor minyak Arab Saudi menghadapi ancaman dari milisi Houthi di Yaman.

Pada perdagangan Jumat pagi waktu setempat, Brent menguat 3,7 persen menjadi US$94,40 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI naik 4 persen ke posisi US$87,71 per barel.

Patokan Minyak Kenaikan Harga
Brent 3,7 persen US$94,40 per barel
WTI 4 persen US$87,71 per barel

Kenaikan dua patokan utama tersebut memperlihatkan bahwa risiko pasokan kini menjadi perhatian besar pelaku pasar energi. Pasar menilai gangguan di rute distribusi dapat berdampak lebih luas daripada eskalasi militer semata.

Jalur Ekspor Menjadi Titik Kritis

Arab Saudi memiliki jalur ekspor yang penting untuk mengalirkan minyak mentah ke berbagai negara konsumen. Karena itu, ancaman terhadap rute tersebut segera memicu kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi energi global.

Milisi Houthi di Yaman mengancam melumpuhkan jalur yang digunakan untuk ekspor minyak Arab Saudi. Ancaman di laut menambah tekanan pasar yang sebelumnya sudah mencermati konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Rantai pasok energi global sangat peka terhadap gangguan keamanan di titik-titik penyaluran minyak. Potensi blokade atau serangan terhadap jalur perdagangan dapat membuat investor menghitung ulang ketersediaan pasokan minyak mentah.

Serangan AS dan Iran Memperbesar Ketidakpastian

Lonjakan harga terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara selama 11 malam berturut-turut ke sejumlah target militer strategis Iran. Suara.com, yang mengutip CNN Internasional, melaporkan serangan itu menyasar berbagai target militer milik Iran.

Pasar energi merespons cepat setiap peningkatan ketegangan di Timur Tengah karena kawasan tersebut terhubung dengan jalur perdagangan minyak internasional. Konflik yang belum mereda membuat risiko gangguan pasokan tetap terbuka.

Pelaku pasar kini memantau perkembangan serangan udara sekaligus situasi keamanan di laut. Setiap tanda eskalasi dapat memengaruhi perkiraan investor terhadap arus minyak mentah dari produsen utama ke pasar global.

Diplomasi Dinilai Penting bagi Harga Energi

Analis Deutsche Bank menilai kenaikan harga minyak berlangsung ketika serangan antara AS dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Mereka juga belum melihat tanda konkret mengenai kesepakatan damai yang dapat mengurangi ketegangan.

“Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi saat serangan antara AS dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan belum ada tanda-tanda konkret mengenai kesepakatan damai,” tulis analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.

Tanpa jalur diplomasi yang efektif, pertempuran udara dan ancaman terhadap rute pelayaran berpotensi terus mendorong biaya energi global. Kenaikan harga Brent dan WTI menunjukkan pasar masih menempatkan keamanan pasokan sebagai faktor utama.

Selama ketegangan AS dan Iran berlanjut serta jalur ekspor Arab Saudi tetap berada dalam sorotan, volatilitas harga minyak berpotensi bertahan. Perkembangan keamanan di kawasan akan menjadi penentu penting bagi arah pasar energi berikutnya.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru