Retinopati diabetik dapat berkembang tanpa keluhan pada tahap awal, ketika kerusakan pembuluh darah retina sudah mulai terjadi. Kondisi ini membuat pemeriksaan retina berkala menjadi penentu penting untuk mencegah penurunan penglihatan permanen pada penyandang diabetes.
Risikonya bukan persoalan kecil karena studi populasi di Yogyakarta mencatat prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1% pada pasien diabetes. Angka tersebut berada di atas rata-rata prevalensi global yang tercatat sebesar 35,4%.
Kesenjangan Deteksi Memperbesar Risiko
Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 26 juta penduduk dewasa yang hidup dengan diabetes, tetapi sistem kesehatan nasional baru mendeteksi sekitar 15 juta kasus. Banyak orang berisiko tidak mengetahui kadar gula darahnya tinggi hingga komplikasi muncul pada stadium yang lebih berat.
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Perkiraan diabetes pada dewasa | 26 juta orang | Jumlah dewasa yang diperkirakan hidup dengan diabetes |
| Kasus yang terdeteksi | 15 juta orang | Kasus yang telah diketahui sistem kesehatan |
| Retinopati diabetik di Yogyakarta | 43,1% | Prevalensi pada pasien diabetes dalam studi populasi |
| Rata-rata prevalensi global | 35,4% | Pembanding prevalensi retinopati diabetik |
Gula darah yang terus tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah kecil, termasuk pembuluh darah di retina. Kerusakan ini dapat berlangsung perlahan sehingga gangguan penglihatan sering kali baru dirasakan ketika kondisinya telah lanjut.
Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, menilai tingginya jumlah penyandang diabetes yang belum terdiagnosis sebagai tantangan besar. Risiko komplikasi dapat meningkat bila diabetes disertai hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas.
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan retina. Penderita hipertensi serta perempuan yang telah memiliki diabetes sebelum hamil juga memerlukan perhatian terhadap risiko tersebut.
Pengendalian Diabetes Melitus tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mata karena komplikasi juga dapat melibatkan organ lain. Em Yunir menyebut diabetes turut menyumbang sekitar 20 hingga 30% kasus pasien yang menjalani cuci darah.
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. dari UGM menekankan bahwa gangguan penglihatan akibat diabetes tidak semestinya dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Kebutaan akibat retinopati diabetik dapat dicegah apabila kerusakan ditemukan dan ditangani pada waktunya.
Kehilangan fungsi penglihatan dapat berdampak luas terhadap kehidupan pasien dan keluarga. Bayu Sasongko mengingatkan bahwa sekitar 85% informasi harian ditangkap secara visual, sehingga gangguan mata dapat menambah beban psikologis serta fisik bagi keluarga yang merawat pasien.
Puskesmas Disiapkan untuk Skrining Retina
Kementerian Kesehatan, UGM, dan Roche Indonesia membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives atau DRIVE untuk memperkuat penemuan kasus retinopati diabetik. Kolaborasi ini melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi dalam penyusunan serta pelaksanaan studi.
Salah satu langkah yang disiapkan ialah proyek percontohan tele-ophthalmology dari hulu ke hilir. Pendekatan ini diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan mata di tengah keterbatasan tenaga spesialis mata.
Indonesia rata-rata hanya memiliki satu dokter spesialis mata untuk setiap 116.961 penduduk. Karena itu, konsorsium berencana menempatkan fundus camera dan melatih dokter umum maupun perawat di Puskesmas.
Melalui Skrining Retina di layanan primer, petugas dapat menemukan pasien yang memerlukan pemeriksaan dan rujukan lebih lanjut. Sistem tersebut diharapkan membantu mengungkap kasus yang selama ini tersembunyi sebelum kerusakan retina berkembang menjadi kebutaan.
Target Layanan Mata hingga 2030
Program ini mendukung Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kementerian Kesehatan. Peta jalan itu menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25%.
Selain itu, sedikitnya 80% penderita diabetes ditargetkan menjalani skrining retina secara berkala. Sebanyak 60% pasien dengan VTDR juga ditargetkan memperoleh akses pengobatan yang sesuai.
Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyatakan layanan pasien diabetes sedang diintegrasikan agar pemeriksaan retina dapat dilakukan di Puskesmas. Masyarakat juga dapat memanfaatkan program CKG untuk memeriksakan gula darah secara berkala sebagai upaya mendeteksi risiko lebih dini.
