Harga Laptop 2026 Terancam Melonjak, Memori Langka dan AI Mendorong Standar Baru

Pasar laptop Indonesia memasuki fase yang serba tidak pasti karena dua tekanan datang bersamaan: kebutuhan perangkat yang makin mengarah ke fitur AI dan pasokan komponen yang makin ketat. Situasi ini membuat harga, ketersediaan stok, dan strategi produsen bergerak cepat, sementara konsumen dihadapkan pada pilihan yang semakin mahal.

Dorongan untuk membeli perangkat baru sebenarnya cukup kuat. Ekosistem Copilot+ serta berakhirnya dukungan Windows 10 membuat banyak pengguna mulai melirik laptop baru, tetapi momentum itu tidak datang dalam kondisi pasar yang longgar.

Komponen utama makin mahal

Beban terbesar di industri laptop saat ini datang dari memori dan prosesor. DRAM dan NAND yang sebelumnya hanya sekitar 15% dari biaya material notebook kini naik menjadi lebih dari 30% dalam setahun.

Di saat yang sama, Intel juga menaikkan harga CPU pada SKU tertentu dengan kenaikan dua digit. Jika dua komponen utama itu sama-sama naik, produsen dan distributor harus menghitung ulang struktur biaya secara lebih agresif.

Dalam ilustrasi harga yang dirujuk, lonjakan harga laptop 30–40% menjadi skenario yang masuk akal. Harga jual rata-rata bahkan dapat naik sekitar 40%, sehingga notebook mainstream yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 juta bisa terdorong menjadi sekitar Rp21,3 juta.

AI mulai jadi syarat, bukan lagi bonus

Permintaan laptop tidak sedang melemah, tetapi arah kebutuhannya berubah. Pembeli kini lebih memperhatikan perangkat yang tipis, ringan, dan nyaman dipakai seharian, sambil mulai memasukkan fitur AI sebagai pertimbangan penting di kelas menengah ke atas.

Copilot+ dan fungsi berbasis NPU seperti transkripsi, pengolahan gambar, dan inferensi lokal semakin sering masuk daftar kebutuhan. Namun, standar itu juga menambah beban biaya karena Copilot+ mensyaratkan minimal 16GB RAM, sementara banyak desain premium menargetkan 32GB.

Kondisi pasar memori yang ketat membuat produsen berada dalam posisi sulit. Mereka perlu memenuhi tuntutan fitur AI, tetapi pada saat yang sama harus menjaga harga agar tetap terasa masuk akal bagi pembeli.

Pasar Indonesia belum pulih penuh

Di dalam negeri, industri laptop juga belum benar-benar kembali ke kondisi sebelum penurunan pascapandemi. Di pusat distribusi Jakarta, pasar masih menunjukkan sikap hati-hati karena penurunan yang hampir 15% belum sepenuhnya tertutup.

Tekanan itu membuat pelaku usaha harus lebih ketat dalam menata stok. Dalam situasi seperti ini, penjualan tidak hanya bergantung pada minat beli, tetapi juga pada kecepatan pasokan dan kemampuan menjaga harga tetap kompetitif.

Peta persaingan masih didominasi pemain besar

Di level merek, persaingan masih terpusat pada pemain besar. Lenovo tetap memimpin pasar PC dan laptop di kisaran 24–25%, sementara ASUS menjaga posisi kuat di segmen gaming dan PC berbasis AI.

ASUS ROG disebut menguasai sekitar 47,6% segmen laptop gaming. Di kategori PC AI dan Copilot+, ASUS juga berada di posisi terdepan dengan pangsa mendekati 60%, yang menunjukkan adopsi awal terhadap spesifikasi Microsoft berlangsung agresif.

Acer, Axioo, Dell, dan HP juga terus mengejar peluang. Mereka memperbarui portofolio dengan GPU NVIDIA RTX seri 50 untuk menjaga daya tarik di segmen premium dan antusias.

Segmen korporasi ikut menentukan arah permintaan

Pasar perusahaan dan pemerintahan menjadi arena penting berikutnya. ASUS memperkuat penawaran untuk sektor keuangan, manufaktur, dan pemerintah dengan menonjolkan layanan, keamanan, dan siklus hidup perangkat.

Lenovo dan HP tetap menjadi pesaing berat di segmen ini karena memiliki rekam jejak panjang. Dalam banyak tender, faktor seperti layanan terkelola, Device-as-a-Service, manajemen perangkat, jaringan layanan lokal, dan skema pembaruan yang selaras dengan akhir dukungan Windows 10 menjadi penentu penting.

Pasokan global yang sempit menekan ruang gerak pasar

IDC menggambarkan prospek pengiriman PC global pada 2026 sebagai tahun yang lesu. Proyeksi dasarnya menunjukkan penurunan mendekati 5%, dengan skenario terburuk turun sekitar 9%, meski harga rata-rata PC masih bisa naik 6–8%.

Bagi Indonesia, kondisi itu memberi keuntungan bagi merek besar seperti Dell, HP, Lenovo, dan ASUS karena mereka memiliki skala pengadaan dan daya tawar inventaris yang lebih kuat. Sebaliknya, merek regional dan perakit white-box menghadapi tekanan margin yang lebih berat, terutama di segmen gaming yang membutuhkan RAM tinggi sebagai standar.

Di sisi konsumen, pilihan laptop kemungkinan makin mengerucut pada kompromi antara harga, kemampuan upgrade, dan dukungan AI. Arah pasar akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat pasokan DRAM dan NAND longgar, karena dari titik itulah harga, spesifikasi, dan kekuatan merek akan kembali bergerak.

Berita Terkait