Harga Naik dan Adopsi Tertahan, Pasar Smartphone 5G Indonesia Belum Bisa Melaju Kencang

Author: Redaksi Android62

Pasar smartphone 5G di Indonesia masih bergerak naik, tetapi laju pertumbuhannya diperkirakan akan melambat. Tekanan terbesar datang dari kelangkaan memori yang membuat struktur biaya perangkat berubah dan ikut memengaruhi arah harga di pasar.

IDC Indonesia menilai kondisi ini membuat smartphone 5G belum sepenuhnya menjadi pilihan utama konsumen. Meski jaringan 5G terus diperluas, daya tarik perangkat masih tertahan oleh harga yang umumnya lebih tinggi dibandingkan ponsel 4G.

Biaya Memori Mengubah Peta Harga

Associate Market Analyst Client Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menjelaskan bahwa kelangkaan memori membuat selisih biaya bill of materials atau BOM antara smartphone 4G dan 5G semakin tipis. Dalam situasi normal, perangkat 5G seharusnya bisa bergerak menuju harga yang lebih terjangkau seiring dukungan pasar dan regulasi.

Namun, tekanan biaya komponen justru mendorong vendor untuk lebih fokus pada smartphone 5G. Menurut Vanessa, langkah itu berkaitan dengan peluang penetapan harga yang lebih tinggi di tengah pasokan komponen yang belum stabil.

Jaringan Masih Jadi Penentu Adopsi

IDC melihat pertumbuhan smartphone 5G dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak ditopang perluasan portofolio vendor daripada dorongan kebutuhan konsumen. Minat pasar disebut masih terbatas karena pengembangan jaringan 5G di Indonesia berjalan lebih lambat dibandingkan negara-negara tetangga.

Di sisi lain, cakupan jaringan 5G di Indonesia sudah meningkat cukup signifikan. Operator telekomunikasi terus menambah jumlah BTS 5G sehingga akses jaringan makin meluas di sejumlah wilayah.

Meski begitu, manfaat jaringan belum dirasakan merata oleh konsumen. Kondisi itu membuat banyak pembeli masih berhati-hati saat memilih perangkat, terutama karena harga smartphone 5G masih berada di atas ponsel 4G.

Spektrum dan Regulasi Masih Menjadi Kunci

IDC menilai peningkatan kualitas layanan 5G tetap bergantung pada langkah lanjutan dari industri dan regulator. Dua hal yang disorot adalah pelaksanaan lelang spektrum dan penyusunan kerangka regulasi yang lebih jelas.

Vanessa mengatakan, setelah lelang spektrum selesai dilakukan, konsumen diperkirakan akan mulai merasakan lebih banyak manfaat dari penggunaan perangkat 5G. Dengan kondisi itu, pasar smartphone 5G berpeluang mendapat dorongan baru dari sisi permintaan.

Segmen Murah Sudah Ada, tetapi Tekanan Baru Datang

Dari sisi ketersediaan, smartphone 5G kini sudah masuk ke segmen harga di bawah US$200 atau sekitar Rp3,6 juta. Kehadiran model di kelas ini menunjukkan bahwa perangkat 5G mulai menjangkau pasar yang lebih luas.

Walau begitu, kelangkaan memori membuat jalur penurunan harga tidak semulus yang dibayangkan. IDC menilai kombinasi antara biaya komponen, kesiapan jaringan, dan kepastian regulasi akan tetap menentukan seberapa cepat adopsi 5G bisa meluas di Indonesia.

Faktor Temuan IDC Dampak ke Pasar
Kelangkaan memori Biaya BOM 4G dan 5G makin tipis Harga perangkat sulit turun cepat
Jaringan 5G BTS 5G terus bertambah Akses meluas, tetapi belum merata
Spektrum dan regulasi Lelang spektrum dan aturan yang lebih jelas masih dibutuhkan Berpotensi mendorong permintaan baru

Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan smartphone 5G di Indonesia tetap berlangsung, tetapi tidak secepat ekspektasi awal. Arah pasar kini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan komponen, kebijakan spektrum, dan kemampuan industri menjaga harga tetap kompetitif.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terbaru