Harga Pertamina Dex dan Dexlite Melonjak, Nilai Mobil Bekas Diesel Mulai Tertekan

Lonjakan harga Pertamina Dex dan Dexlite mulai mengubah perhitungan di pasar mobil bekas bermesin diesel. Di lapangan, pedagang melihat biaya operasional yang naik bisa menekan minat beli dan membuat valuasi unit diesel perlahan terkikis.

Harga Pertamina Dex kini berada di Rp 23.900 per liter, naik dari sekitar Rp 14.500 per liter. Dexlite juga bergerak ke Rp 23.600 per liter dari sebelumnya Rp 14.200 per liter, sehingga daya tarik mobil diesel bekas ikut ikut tergerus, terutama bagi pembeli yang sangat memperhitungkan ongkos harian.

Perubahan itu belum terasa seragam di seluruh showroom, tetapi pelaku pasar sudah mulai bersikap lebih hati-hati. Sejumlah pedagang memilih menahan pembelian stok diesel karena khawatir nilai jualnya akan tertekan lebih jauh.

Andi, pemilik showroom Jordy Motor di MGK Kemayoran, Jakarta Pusat, menyebut koreksi harga dari sisi pedagang sudah mulai terjadi. Menurut dia, gejala penurunan di pasar luas memang belum terlihat kuat, tetapi dampaknya biasanya baru muncul setelah jeda waktu.

“Yang pasti pedagang belinya sudah pasti koreksi harganya. Kalau sekarang belum terlalu kelihatan, mungkin satu atau dua minggu ke depan baru kelihatan penurunannya,” kata Andi.

Kondisi ini muncul karena mobil diesel selama ini dikenal efisien, sehingga banyak dipilih untuk menekan biaya penggunaan. Namun saat harga bahan bakar nonsubsidi melonjak tajam, keunggulan itu menjadi kurang menonjol di mata calon pembeli yang fokus pada total pengeluaran.

Selain harga BBM yang naik, pasar juga menunggu arah kebijakan barcode subsidi. Mekanisme ini dinilai penting karena menentukan apakah kendaraan tertentu masih bisa membeli Biosolar subsidi atau harus beralih ke BBM nonsubsidi yang jauh lebih mahal.

Andi menilai harga mobil diesel berpotensi turun lebih dalam jika pengawasan di lapangan makin ketat. Bila akses Biosolar untuk kendaraan pribadi semakin dibatasi, calon pembeli diperkirakan akan berhitung ulang sebelum masuk ke pasar mobil bekas diesel.

Saat ini, sebagian pemilik kendaraan diesel pribadi masih bisa mengakses Biosolar melalui sistem barcode. Meski begitu, aturan yang berlaku sebenarnya sudah membatasi penerima solar subsidi secara lebih spesifik melalui Perpres Nomor 191 Tahun 2014.

Aturan tersebut menyebut penerima Biosolar mencakup kendaraan angkutan orang atau barang berpelat hitam, kendaraan umum berpelat kuning, serta kendaraan pelayanan umum seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Di luar itu, usaha mikro, perikanan dengan kapal maksimal 30 GT, dan petani dengan lahan maksimal 2 hektare juga termasuk dalam daftar penerima.

Pembatasan itu ikut memengaruhi struktur biaya pengguna mobil diesel pribadi di pasar bekas. Jika kendaraan pribadi semakin sulit memperoleh BBM subsidi, beban biaya akan bergeser penuh ke bahan bakar nonsubsidi yang kini sudah berada di atas Rp 23.000 per liter.

Dalam situasi seperti ini, pedagang cenderung membaca pasar dengan lebih konservatif. Unit diesel yang sebelumnya diburu karena reputasinya yang irit kini menghadapi tekanan baru, dan arah harganya sangat bergantung pada konsistensi pengawasan di SPBU serta seberapa cepat konsumen menyesuaikan pilihan belinya.

Berita Terkait