Tekanan harga plastik tidak hanya dirasakan di tingkat distributor, tetapi juga di lapak pengecer yang harus menyesuaikan harga dalam waktu sangat singkat. Di Jawa Barat, perubahan harga disebut bisa terjadi dalam hitungan jam, sehingga pedagang kesulitan menjaga stok dan menentukan harga jual yang aman.
Situasi itu membuat margin para penjual makin sempit. Mereka dituntut tetap menjual dengan harga yang masih bisa diterima konsumen, sementara daftar harga dari pemasok terus bergerak dan sering berubah mendadak.
Di Pasar Kosambi, Bandung, Neneng sempat tidak memahami mengapa perang di luar negeri bisa memengaruhi usahanya menjual plastik. Baru kemudian ia melihat bahwa lonjakan biaya operasional yang ia hadapi ternyata berkaitan dengan bahan baku yang ikut terdampak konflik.
Hal serupa dialami Zainuddin, penjual plastik di Pasar SBS, Bekasi. Ia menyebut distributor kerap mengirim daftar harga baru pada malam hari, lalu harga berubah lagi keesokan paginya.
Perubahan yang terlalu cepat itu membuat pengecer harus bergerak ekstra hati-hati. Mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga, tetapi juga tidak punya banyak ruang untuk menahan beban biaya yang terus naik.
Di tengah tekanan tersebut, sebagian pelaku usaha mulai melirik kemasan isi ulang sebagai jalan keluar. Salah satu pendekatan yang menguat adalah model refill untuk kebutuhan harian, yang dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai.
Alner menjadi salah satu pihak yang mengembangkan konsep itu lewat ekonomi sirkular. Perusahaan rintisan ini memberi cashback kepada konsumen yang mengembalikan kemasan kosong agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Founder dan CEO Alner, Bintang Ekananda, mengatakan perusahaan ingin menyediakan alternatif agar kemasan produk tidak berakhir di tempat pembuangan. Ia menilai sistem pengembalian kemasan yang mudah dan disertai insentif dapat membantu mengubah kebiasaan belanja masyarakat.
Alner juga memperluas jaringannya bersama Enviu Indonesia. Saat ini, perusahaan itu disebut telah memiliki 754 mitra di wilayah Jabodetabek dan membuka gerai fisik seperti Circular Stand di Jakarta serta Zero di Tangerang Selatan.
Dorongan ke arah kemasan yang lebih berkelanjutan tidak berhenti di sisi konsumen. Alner juga berupaya melibatkan pemasok lokal agar produsen kecil punya opsi pemasaran yang lebih berkelanjutan dalam rantai pasok mereka.
Bintang menyebut model tersebut dirancang agar memberi manfaat ke banyak pihak. Konsumen tetap mendapat kemudahan, bisnis bisa berjalan, dampak lingkungan ditekan, dan produsen masih dapat berproduksi dengan harga yang masuk akal.
Di jalur lain, Repair Project dan Waste4Change memilih mengolah limbah plastik bernilai rendah menjadi papan River Recycle atau RR Board. Proyek ini berawal dari pembersihan Sungai Citarum dan menyasar sampah saset serta kresek yang selama ini kerap diabaikan industri daur ulang konvensional.
Sales and Fundraising Lead Repair Project, Carissa Eukairin, menjelaskan bahwa jenis plastik itu sulit dikumpulkan karena dianggap tidak bernilai. Karena itu, timnya memberi kompensasi finansial kepada warga sekitar agar mau mengumpulkan plastik tersebut dan mencegahnya kembali mencemari lingkungan atau sungai.
Di pabrik mereka di Kabupaten Bandung Barat, limbah itu kemudian diolah menjadi papan fungsional. Material tersebut bisa dipakai untuk furnitur seperti meja dan kursi, sehingga menjadi alternatif selain penggunaan kayu hutan.
Kenaikan harga plastik kini dipandang bukan semata urusan pasar, tetapi juga penanda bahwa perubahan perilaku semakin mendesak. Saat gejolak global mudah menjalar ke biaya hidup sehari-hari, ruang untuk mengurangi plastik sekali pakai dinilai makin penting.
Carissa menilai kondisi ini menjadi momentum yang baik bagi lingkungan. Di tengah harga yang naik dan pasokan yang tidak stabil, inovasi kemasan ulang dan daur ulang bernilai rendah mulai mendapat ruang lebih besar dalam ekonomi yang makin tidak pasti.
