Harga Razr Fold Bikin Waswas, Tiga Kendala Ini Bisa Mengubah Niat Beli

Harga, aksesori, dan posisi Motorola di ekosistem Android menjadi tiga hal yang paling layak dipikirkan sebelum menatap serius Motorola Razr Fold. Ponsel lipat model buku pertama dari Motorola ini memang membawa paket yang sangat ambisius, tetapi justru tiga hambatan itulah yang bisa membuat banyak calon pembeli menahan diri.

Di balik label premiumnya, Razr Fold menawarkan spesifikasi yang sulit diabaikan. Motorola membawanya dengan baterai besar 6.000mAh berbasis silicon-carbon, pengisian cepat 80W, dan pengisian nirkabel 50W jika memakai charger yang kompatibel.

Layar luarnya berukuran 6,6 inci dengan refresh rate 165Hz dan tingkat kecerahan puncak 6.000 nit. Sementara itu, layar lipat 8,1 inci memberi ruang yang jauh lebih lega untuk bekerja, berpindah aplikasi, atau sekadar menikmati tampilan yang lebih luas.

Motorola juga menyiapkan fitur multitasking yang agresif. Pengguna bisa membuka tiga aplikasi sekaligus lewat split-screen dari taskbar, lalu menambah satu aplikasi lagi dalam mode jendela melayang.

Ada pula mode khusus yang memanfaatkan bentuk lipatnya. Desk Mode menampilkan jam, kalender, tugas mendatang, dan notifikasi seperti layar meja pintar, sedangkan Laptop Mode mengubah bagian bawah menjadi trackpad saat perangkat dibuka dengan sudut seperti laptop.

Kamera dan performa ikut menguatkan daya tariknya

Di sisi kamera, Razr Fold membawa tiga kamera belakang 50MP. Motorola menyebut hasil fotonya bisa terlihat terang, berwarna kuat, dan hidup berkat sensor Sony Lytia serta sentuhan Pantone.

Pengalaman memotret juga dibuat lebih praktis. Ada gestur memutar ponsel dua kali untuk membuka kamera, fitur Action Shot untuk subjek bergerak, serta Frame Match untuk membantu komposisi saat orang lain memotret pengguna.

Layar luar ikut membantu fungsi kamera itu. Panel ini bisa dipakai sebagai jendela bidik untuk selfie atau sebagai layar pratinjau bagi subjek foto, sesuatu yang memang menjadi salah satu keunggulan khas ponsel lipat.

Untuk urusan tenaga, Motorola memakai Snapdragon 8 Gen 5 dengan RAM 16GB. Kombinasi ini diklaim mampu menangani multitasking tanpa masalah, termasuk menjalankan game berat seperti Honkai: Star Rail dan Where Winds Meet pada setelan tertinggi.

Hasil benchmark-nya juga cukup kuat meski tidak menyamai perangkat dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5. Angkanya mencakup Geekbench 6 single-core 2766, multi-core 9054, OpenCL 17878, Vulkan 21755, dan 3DMark Wild Life Extreme 4858.

Dukungan stylus dan pembaruan panjang jadi nilai tambah

Motorola juga menyertakan Moto Pen Ultra sebagai stylus aktif khusus untuk Razr Fold. Aksesori ini mendukung pressure sensitivity dan tilt detection, sehingga fungsinya terasa lebih serius untuk ponsel lipat.

Moto Pen Ultra juga mendukung Bluetooth. Stylus ini bisa dipakai sebagai remote shutter, menekan tombol samping untuk fitur seperti Circle to Search, melakukan anotasi, drag-and-drop antar aplikasi, hingga memakai Sketch to Image berbasis AI.

Dari sisi perangkat lunak, Motorola menjanjikan tujuh tahun pembaruan sistem operasi dan pembaruan keamanan dua bulanan. Untuk perangkat semahal ini, dukungan jangka panjang seperti itu menjadi salah satu faktor yang paling menenangkan bagi calon pembeli.

Tiga hal yang paling mungkin mengerem minat beli

Hambatan pertama tentu ada pada harga. Razr Fold dibanderol $1,900, hanya $100 lebih murah dari Galaxy Z Fold 7 saat peluncuran, dan $100 lebih mahal dari Pixel 10 Pro Fold saat model itu dirilis tahun lalu.

Motorola memang sering memberi penawaran menarik, dan model unlocked sudah punya promo prapesan tertentu. Namun bagi banyak orang, angka setinggi itu tetap menjadi pintu masuk yang berat untuk kategori ponsel lipat.

Masalah kedua ada pada aksesori. Untuk perangkat mahal seperti ini, casing jelas penting, tetapi pilihan resmi dari Motorola baru satu model dengan dua warna dan baru tersedia mulai June 12.

Pilihan pihak ketiga juga belum ramai. Selain Thinborne, belum banyak merek besar yang terlihat menyiapkan casing, sehingga pembeli mungkin harus puas dengan opsi yang lebih terbatas dibanding pesaing seperti Samsung.

Hambatan ketiga berkaitan dengan posisi Motorola di ekosistem Android. Saat Google merilis fitur baru, Pixel hampir selalu lebih dulu mendapatkannya, dan dalam beberapa kasus Samsung bahkan lebih cepat dibanding perangkat Android lain.

Contohnya, dukungan AirDrop pada Quick Share lebih dulu hadir di Pixel lalu meluas ke Samsung sebelum ke merek lain. Fitur otomatisasi layar Gemini juga disebut lebih dulu hadir di Galaxy S26 sebelum meluas ke Pixel 10.

Motorola jarang mendapat perlakuan serupa, kecuali beberapa fitur tertentu seperti Wardrobe di Google Photos. Artinya, pembeli Razr Fold perlu siap menerima bahwa fitur Android terbaru bisa datang belakangan, atau dalam beberapa kasus tidak hadir sama sekali.

Source: www.androidcentral.com

Berita Terkait