Harga Smartphone India Tertekan Kenaikan Komponen, Pengiriman Terkendala Di Titik Terlemah Enam Tahun

Pasar smartphone India kembali mendapat tekanan berat setelah pengiriman pada kuartal pertama turun 3 persen secara tahunan. Penurunan itu menjadi kinerja kuartal pertama terlemah dalam enam tahun terakhir, menandakan bahwa pasar sedang bergerak lebih lambat di tengah biaya yang terus naik dan minat beli yang belum pulih.

Laporan Monthly India Smartphone Tracker dari Counterpoint Research menunjukkan pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Kenaikan biaya komponen, penyesuaian harga jual di banyak segmen, dan permintaan konsumen yang masih lemah sama-sama menahan laju pasar, meski sejumlah merek besar tetap aktif merilis perangkat baru.

Tekanan harga mulai terasa di pasar

Salah satu faktor yang paling menonjol datang dari lonjakan harga memori yang masih berlangsung. Counterpoint Research menyebut kondisi itu ikut mengerek biaya pasokan, sementara fluktuasi mata uang menambah beban bagi para vendor.

Akibatnya, banyak produsen menyesuaikan harga jual demi menjaga margin. Laporan tersebut mencatat lebih dari 80 model mengalami kenaikan harga rata-rata 15 persen pada kuartal pertama, tetapi langkah itu belum cukup untuk mengangkat volume pengiriman.

Pergeseran strategi peluncuran juga terlihat jelas. Sekitar sepertiga peluncuran smartphone baru didorong ke kuartal pertama sebagai respons terhadap tekanan biaya komponen, namun minat beli tetap tertahan. Counterpoint bahkan memperkirakan kenaikan harga 15 hingga 20 persen masih bisa berlanjut pada kuartal berikutnya.

Merek besar masih bertahan di pasar yang melemah

Di tengah kondisi pasar yang lesu, Vivo tetap menjadi pengirim smartphone terbesar di India dengan pangsa 21 persen. Posisi itu ditopang oleh jumlah peluncuran yang lebih banyak, permintaan kuat di segmen menengah premium lewat seri V terbaru, serta pengelolaan kanal distribusi yang disiplin.

Samsung berada di urutan kedua dan masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Pertumbuhan merek asal Korea Selatan itu didorong promosi untuk lini Galaxy A07, Galaxy A36, dan Galaxy A56, serta permintaan awal yang kuat untuk seri Galaxy S26, terutama varian Galaxy S26 Ultra.

Counterpoint menilai sebaran portofolio Samsung di berbagai kelas harga ikut membantu performanya. Pada kuartal ini, kontribusi pengiriman terbesar Samsung justru datang dari segmen Rs. 15,000 hingga Rs. 20,000.

Persaingan ketat di kelas menengah dan terjangkau

Oppo menempati posisi ketiga dengan pangsa 14 persen. Penjualannya ditopang lini A dan K di kelas anggaran serta seri Reno, dan merek ini menjadi yang tumbuh paling cepat di antara lima besar dengan kenaikan 8 persen secara tahunan.

Xiaomi dan submerek Poco tetap kompetitif di segmen harga menengah dan terjangkau. Xiaomi mencatat pangsa 7,9 persen, sedangkan Poco meraih 4,8 persen, dengan dorongan utama dari pertumbuhan dua digit pada rentang Rs. 10,000 hingga Rs. 20,000.

Realme berada di posisi kelima dengan pangsa 11 persen. Kinerja merek ini banyak bergantung pada kanal online serta permintaan untuk Realme P3 Lite dan Narzo 80 Lite.

Apple tidak tertinggal jauh dengan pangsa 9 persen, didukung permintaan yang masih berlanjut untuk seri iPhone 17. Di sisi lain, Nothing termasuk CMF menjadi merek dengan pertumbuhan tercepat secara keseluruhan setelah mencatat kenaikan 47 persen secara tahunan.

Pertumbuhan Nothing ditopang ekspansi offline yang lebih agresif, pembukaan toko ritel eksklusif pertamanya di India, dan respons pasar terhadap seri Phone 4a. Pada segmen premium di atas Rs. 45,000, Google juga tampil sangat cepat dengan kenaikan 39 persen.

Chipset dan prospek pasar masih menantang

Dari sisi chipset, MediaTek memimpin total pengiriman dengan pangsa 49 persen. Qualcomm tetap dominan di segmen Android premium dengan pangsa lebih dari 50 persen.

Research Director Counterpoint Research, Tarun Pathak, menilai tekanan pasar belum akan cepat reda. Ia menyebut kuartal berikutnya berpotensi mencatat penurunan dua digit karena harga memori masih tinggi dan permintaan yang lemah di segmen entry-level terus menekan volume.

Untuk setahun penuh, Counterpoint memproyeksikan pasar smartphone India turun 10 persen secara tahunan. Tarun Pathak juga menyoroti inflasi biaya komponen yang berkelanjutan, terutama memori yang disebut sudah naik empat kali lipat dalam tiga kuartal terakhir, sehingga daya beli tetap tertekan dan siklus penggantian perangkat makin panjang.

Source: www.gadgets360.com

Berita Terkait