Kekhawatiran investor terhadap Nintendo kini bukan lagi soal seberapa laku Switch 2, melainkan apakah harga jualnya masih cukup aman untuk menjaga margin. Di tengah krisis memori yang belum mereda, sebagian pasar menilai konsol itu dipasarkan terlalu murah untuk kondisi biaya komponen saat ini.
Saham Nintendo pun bergerak lesu perlahan selama lebih dari lima bulan. Para pemegang saham cemas perusahaan bisa saja menjual perangkat terbarunya dengan margin yang menipis, sementara harga storage dan memori belum menunjukkan tanda penurunan yang meyakinkan.
Tekanan biaya masih kuat
Bloomberg melaporkan bahwa sebagian kritikus mulai mendorong kenaikan harga Switch 2 agar profit Nintendo tetap terlindungi. Dorongan itu muncul karena tekanan biaya tidak hanya datang dari sisi produksi, tetapi juga dari pasar komponen yang masih ketat.
Permintaan dari pusat data AI ikut menjaga harga komponen penting tetap tinggi. Situasi ini membuat investor menimbang langkah yang sebelumnya terasa sensitif, termasuk kemungkinan Nintendo menyesuaikan harga perangkat bila biaya produksi terus meningkat.
Pasar terbelah soal langkah harga
Hideki Yasuda dari Toyo Research menilai Nintendo perlu meyakinkan investor dengan merespons kenaikan biaya komponen. Namun, ia juga mengakui langkah seperti itu dapat membuat konsumen ragu untuk melakukan upgrade ke handheld tersebut.
Pandangan berbeda datang dari Michael Pachter, analis Wedbush Securities. Menurut dia, kenaikan harga adalah langkah yang keliru karena konsumen sedang tertekan dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding hiburan.
Bloomberg menilai kenaikan $50 di Amerika Serikat mungkin tidak akan terlalu merusak permintaan. Meski begitu, opsi itu tetap menyimpan risiko jika konsumen merasa harga perangkat naik lebih cepat daripada nilai yang mereka lihat.
Model Jepang ikut jadi sorotan
Perhatian pasar juga tertuju pada model Jepang yang region-free. Harga versi itu disebut setara $320 setelah dikonversi, sehingga ruang bagi Nintendo untuk memberi subsidi dinilai semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat perusahaan berada dalam pilihan yang rumit. Nintendo harus menjaga daya tarik harga, tetapi pada saat yang sama juga perlu mempertahankan profitabilitas di tengah biaya komponen yang tidak kunjung longgar.
Nintendo sudah memberi sinyal sebelumnya
Nintendo sendiri sudah mengakui adanya tekanan pasokan komponen. Sebelum laporan kuartalan terakhir pada Februari, Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa mengatakan perjanjian jangka panjang dengan pemasok memberi sedikit ruang bernapas.
Furukawa juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kenaikan harga Switch 2 akan berdampak negatif. Walau begitu, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah itu di masa depan, dan sikap tersebut ikut menjaga spekulasi pasar tetap hidup.
Investor menunggu pemicu baru
Sebagian pendukung saham Nintendo berharap ada pengumuman yang mampu meredakan kecemasan pasar. Salah satu harapan terbesar datang dari kehadiran game first-party Switch 2 yang kuat dan bisa mendorong minat beli.
Namun, pengumuman seperti itu tampaknya tidak akan muncul pada May 8th. Di sisi lain, rumor remake The Legend of Zelda: Ocarina of Time masih disebut sebagai salah satu judul yang berpotensi membantu penjualan musim liburan.
Dengan biaya komponen yang belum reda dan saham yang terus tertekan, Nintendo kini berada di titik yang sangat sensitif. Keputusan soal harga Switch 2 bisa menentukan apakah perusahaan lebih memilih melindungi margin atau menjaga momentum adopsi konsol barunya.
Source: www.notebookcheck.net






