Hawker Tempest menempati posisi teratas dalam daftar ini bukan karena namanya paling populer, melainkan karena efektivitas tempurnya paling menonjol pada fase akhir perang. Pesawat ini memperbaiki banyak kelemahan Typhoon lewat sayap tipis baru dan kemudian menjadi pemburu V-1 paling efektif dengan sekitar 800 rudal jatuh olehnya.
Penilaian itu langsung menunjukkan bahwa kekuatan udara Inggris tidak bertumpu pada satu ikon saja. Dari pesawat tua bergaya biplane sampai pesawat bermesin kencang yang bekerja di udara sekaligus di darat, daftar ini memperlihatkan bagaimana RAF mengandalkan jenis-jenis pesawat yang saling melengkapi.
Salah satu ujung paling awal dari perkembangan itu terlihat pada Gloster Gladiator. Pesawat ini berada di posisi ke-10 sebagai simbol akhir era biplane, awalnya disiapkan untuk mengisi celah sebelum Hurricane dan Spitfire tersedia dalam jumlah cukup, dan tetap mencatat 304 kemenangan dalam dinas RAF.
Di atasnya ada Martin-Baker MB5, pesawat yang mengesankan tetapi datang terlambat untuk benar-benar mengubah jalannya perang. Mesin ini mampu mencapai kecepatan puncak 460 mph, membawa empat meriam 20 mm, dan dipuji Boscombe Down karena tata letak kokpitnya.
Posisi ke-8 ditempati Boulton Paul Defiant, pesawat dengan riwayat yang tidak biasa. Ia gagal sebagai penghancur bomber karena senjatanya hanya mengarah ke belakang, tetapi kemudian justru efektif sebagai night fighter selama Blitz 1940/41.
Westland Whirlwind berada di posisi ke-7 dan menawarkan konsep yang sangat menarik karena membawa empat meriam 20 mm di hidung. Namun pesawat ini datang terlambat untuk Battle of Britain, mengalami masalah pengembangan, dan hanya 116 unit yang dibuat.
Mesin kuat, hasil yang tidak selalu mulus
Hawker Typhoon menempati posisi ke-6 dan membawa kecepatan nyata 400 mph. Meski begitu, program ini tersandung pada mesin Sabre yang berat, rumit, dan tidak andal, sehingga Typhoon gagal memenuhi peran awalnya sebagai interceptor.
Bristol Beaufighter ada di posisi ke-5 setelah berkembang dari Bristol Beaufort. Pesawat ini dikenal punya daya rusak besar dengan amunisi 808 pon dan persenjataan berat, sehingga sangat efektif melawan pesawat besar seperti Ju 88, Ju 188, dan Heinkel He 111.
De Havilland Mosquito menyusul di posisi ke-4 berkat kombinasi kecepatan, daya tembak, dan kelincahan. Airframe kayunya yang ringan dan halus membantu performanya, sementara varian night fighter-nya menjadi pemburu bomber malam yang sangat efektif dengan bantuan radar udara.
Tiga nama yang paling membentuk reputasi RAF
Hawker Hurricane berada di posisi ke-3 dan memegang peran historis yang sulit digantikan. Pesawat ini menjadi fighter RAF pertama yang mampu melampaui 300 mph, menjadi fighter paling banyak jumlahnya saat Battle of Britain, dan meraih 656 kemenangan dalam pertempuran itu.
Hurricane juga menunjukkan fleksibilitas tinggi di berbagai medan tempur. Pesawat ini dipakai di gurun Afrika dan Front Timur, sementara total produksinya melampaui 14.000 unit ketika selesai dibuat pada 1944.
Supermarine Spitfire berada di posisi ke-2 dan tetap menjadi ikon utama perang udara Britania. Pesawat ini terbang pertama kali pada 1936, meraih sekitar 5.950 kemenangan dalam dinas RAF, dan terus berkembang selama perang hingga menjadi lebih besar, lebih cepat, dan lebih mematikan dari versi awalnya.
Walau Spitfire punya status legendaris, daftar ini justru menempatkannya di bawah Tempest. Urutan tersebut menegaskan bahwa penilaian berbasis efektivitas tempur bisa menghasilkan hasil yang berbeda dari popularitas, terutama ketika yang dinilai adalah dampak nyata pada fase perang yang paling menentukan.
Pada akhirnya, daftar 10 pesawat tempur Inggris terbaik Perang Dunia II ini menunjukkan lintasan panjang RAF dari Gladiator yang mewakili masa lama hingga Tempest yang paling tajam di ujung perang. Di antara keduanya, muncul beragam pesawat dengan tugas berbeda, mulai dari penghancur bomber malam, pemburu target besar, sampai fighter-bomber yang menyerang pesawat di darat, situs rudal V-2, kereta api, dan sasaran lain dalam jangkauan tembaknya.
