Harga Jabra Evolve3 langsung menjadi sorotan saat headset ini resmi masuk ke Indonesia. Seri premium tersebut dipasarkan untuk pengguna profesional yang membutuhkan kualitas komunikasi tinggi, kenyamanan, dan baterai yang tahan lama dalam satu perangkat.
Jabra menghadirkan dua varian untuk pasar Indonesia, yakni Evolve3 85 dan Evolve3 75. Keduanya sama-sama mengusung desain tanpa tangkai mikrofon atau boomless, tetapi tetap memakai teknologi penangkap suara berbasis AI melalui Jabra ClearVoice dan deep neural network.
Pendekatan itu ditujukan agar suara pengguna tetap terdengar jelas meski berada di lingkungan yang bising. Selain itu, headset ini dibekali Adaptive Active Noise Cancellation yang dapat menyesuaikan peredaman suara secara otomatis sesuai kondisi sekitar.
Fokus pada kerja hibrida
Kehadiran Evolve3 juga menegaskan arah Jabra pada kebutuhan kerja hibrida yang semakin umum. Country Manager Enterprise Indonesia Jabra, Louis Sudarso, menyebut pola kerja di Indonesia menuntut teknologi kolaborasi yang lebih fleksibel.
Karena itu, Jabra menempatkan Evolve3 bukan sebagai headset untuk pasar massal. Perangkat ini diarahkan untuk profesional yang mengejar performa sekaligus kepraktisan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Untuk menunjang mobilitas, Evolve3 juga membawa Spatial Sound, Bluetooth Low Energy, dan baterai hingga 37 jam. Ada pula fitur pengisian cepat 10 menit yang bisa dipakai sampai 10 jam.
Banderol premium di Indonesia
Di Indonesia, Jabra Evolve3 85 dipatok Rp 12.440.880. Sementara itu, Evolve3 75 dijual Rp 9.304.020.
Selisih harga tersebut tetap menempatkan keduanya di kelas atas. Jabra memang memosisikan seri ini sebagai perangkat kerja premium yang mengutamakan kualitas komunikasi dan efisiensi penggunaan.
Dibuat untuk ruang kerja modern
Selain headset, Jabra juga menyiapkan PanaCast Room Kit untuk mendukung produktivitas dan komunikasi yang lebih inklusif. Produk ini ditujukan untuk individu maupun tim yang bekerja dari berbagai lokasi.
PanaCast Room Kit akan hadir sebagai sistem video plug-and-play untuk ruang meeting menengah hingga besar. Sistem tersebut mendukung satu, tiga, hingga lima kamera, meski jadwal resmi peluncurannya di Indonesia belum diungkap.
Strategi ini selaras dengan dorongan Jabra terhadap perangkat audio dan video untuk ruang kerja modern. Perusahaan melihat kebutuhan kolaborasi yang andal semakin penting di lingkungan kerja yang berubah-ubah.
Ada program daur ulang perangkat bekas
Di luar peluncuran produk, Jabra Indonesia juga memperkenalkan program khusus bagi pelanggan yang sudah tidak lagi memakai perangkat elektronik mereka. Program ini dijalankan bersama Jangjo untuk mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus memberdayakan komunitas lokal di Indonesia.
Jangjo adalah platform pengelolaan limbah yang bergerak di bidang daur ulang, pemanfaatan kembali, dan pemulihan produk. Perangkat bekas yang terkumpul akan disalurkan ke organisasi sosial di bidang pendidikan, kesehatan, dan non-pemerintahan yang membutuhkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi komunikasi.
Program tersebut menjadi bagian dari Jabra Sustainability Rhythm. Jabra juga menyoroti proyeksi peningkatan pembuangan perangkat elektronik di Jakarta sebesar 20 persen pada tahun 2045 menjadi 90,23 ton per hari.
Managing Director Jabra ASEAN, Margaret Ang, mengatakan program ini membantu perusahaan mendonasikan perangkat yang tidak digunakan tetapi masih berfungsi dengan baik. Ia menilai langkah itu dapat memperpanjang masa pakai produk sekaligus mengurangi limbah elektronik dan emisi karbon dari produksi maupun pembuangan perangkat.
CEO Jangjo, Joe Hansen, menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah penting menuju visi zero waste to landfill. Rencananya, program Jabra Sustainability Rhythm akan menyediakan donation bin di beberapa kantor pelanggan Jabra yang berpartisipasi agar karyawan bisa mendonasikan perangkat bekas layak pakai, termasuk headset dan kamera video.
