Yang disebut “darah” pada serangga ternyata bukan darah merah seperti pada manusia. Cairan tubuh itu bernama hemolimfa, dan perannya jauh lebih luas daripada sekadar mengalir di dalam tubuh.
Perbedaan paling mudah dikenali ada pada warna dan cara kerjanya. Hemolimfa serangga umumnya tampak hijau, kuning, atau jernih, sehingga cairan yang keluar saat serangga terluka tidak terlihat seperti darah vertebrata.
Warna merah pada darah manusia berasal dari hemoglobin, protein berzat besi yang juga membantu mengikat oksigen. Hemolimfa serangga tidak mengandung hemoglobin, jadi warnanya tidak mengikuti pola yang sama.
Karena tidak memakai hemoglobin, hemolimfa juga tidak bertugas mengangkut oksigen seperti darah manusia. Serangga bernapas dengan sistem trakea, yaitu udara masuk lewat lubang-lubang kecil di tubuhnya, sehingga distribusi oksigen tidak bergantung pada cairan tubuh ini.
Fungsi hemolimfa jauh lebih luas
Meski bukan darah merah, hemolimfa tetap menjadi cairan vital bagi serangga. Cairan ini membawa nutrisi, garam, hormon, dan limbah metabolisme ke berbagai bagian tubuh yang membutuhkan.
Komposisinya juga khas. Sekitar 90 persen hemolimfa terdiri dari plasma, yaitu cairan encer yang menjadi medium utama peredaran zat di dalam tubuh serangga.
Di dalamnya juga ada sekitar 10 persen sel yang disebut hemosit. Sel ini berperan dalam pembekuan, fagositosis, dan enkapulasi benda asing, sehingga hemolimfa ikut membantu pertahanan tubuh serangga.
Jumlah hemosit pada serangga bisa berubah-ubah dari kurang dari 25.000 hingga lebih dari 100.000 per milimeter kubik. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan darah manusia, yang dalam volume sama mengandung sekitar 5 juta sel darah merah, 300.000 trombosit, dan 7.000 sel darah putih.
Bergerak tanpa pembuluh darah tertutup
Sistem peredaran pada serangga juga berbeda dari manusia. Hemolimfa tidak mengalir dalam pembuluh tertutup seperti arteri, vena, dan kapiler.
Sebaliknya, cairan ini bergerak bebas di rongga tubuh dan bersentuhan langsung dengan jaringan serta organ internal. Karena itu, cara kerja sirkulasinya tidak sama dengan sistem peredaran darah pada vertebrata.
Di tubuh serangga, komponen utamanya adalah pembuluh dorsal, yaitu tabung memanjang di bagian dalam dinding tubuh dorsal yang melintasi toraks dan abdomen. Pada sebagian besar serangga, struktur ini mengumpulkan hemolimfa di abdomen lalu mengalirkannya ke arah kepala.
Peran tambahan yang tidak dimiliki darah manusia
Hemolimfa juga membantu serangga dalam banyak proses lain. Tekanan hidrostatik yang muncul dari kontraksi otot memanfaatkan sifat cair hemolimfa untuk mendukung penetesan, pergantian kulit, perluasan tubuh dan sayap setelah berganti kulit, pergerakan fisik, reproduksi, serta evaginasi beberapa kelenjar eksokrin.
Pada beberapa serangga, cairan ini bahkan membantu termoregulasi. Hemolimfa bisa mendinginkan tubuh dengan mengalirkan panas berlebih dari otot terbang yang aktif, atau menghangatkannya dengan mengumpulkan dan mengedarkan panas yang diserap saat berjemur.
Dalam pertahanan diri, hemolimfa juga tidak pasif. Cairan ini membantu menutup luka melalui reaksi pembekuan, sekaligus dapat membungkus dan menghancurkan parasit internal atau penyerang lain.
Pada beberapa spesies, hemolimfa bahkan dapat menghasilkan atau menyimpan senyawa yang tidak enak bagi predator. Sifat ini menambah lapisan perlindungan bagi serangga saat menghadapi ancaman.
Warna hemolimfa bisa berbeda-beda
Tidak semua hemolimfa terlihat sama. Warna cairan ini bisa dipengaruhi oleh makanan yang dimakan serangga, sehingga tampak berbeda pada tiap jenis dan tidak selalu bening.
Itulah sebabnya serangga tidak mengeluarkan cairan merah seperti manusia saat terluka. Yang ada pada tubuh mereka adalah hemolimfa, cairan multifungsi yang ikut menopang sirkulasi, pertahanan, dan berbagai proses penting lain dalam kehidupan serangga.
