Hidung Elektronik UC Berkeley Ini Mampu Cium Alergen dan Makanan Basi dengan Akurasi 92,6%

Author: Redaksi Android62

Perangkat ini mencatat akurasi keseluruhan 92,6% dalam mendeteksi alergen dan makanan yang sudah mulai membusuk. Hasil itu membuat hidung elektronik dari University of California, Berkeley, menonjol sebagai salah satu pendekatan sensor aroma yang paling menjanjikan untuk dapur dan penyimpanan makanan.

Dalam pengujian tim UC Berkeley, sistem tersebut memakai 16 sensor gas untuk mengubah reaksi kimia dari makanan menjadi sinyal elektronik. Pendekatan ini memungkinkan alat membaca jejak aroma yang berkaitan dengan pembusukan maupun senyawa pemicu alergi.

Presisi tinggi pada kacang tertentu

Performa paling kuat terlihat saat alat ini mengenali jenis kacang. Walnut dan cashew berhasil dikenali dengan tingkat keberhasilan 100%, sementara hazelnut mencapai 91,96% dan peanut 80,65%.

Tim peneliti mencatat kebingungan terbesar terjadi antara aroma kimia hazelnut dan peanut. Temuan itu menunjukkan adanya tumpang tindih pada senyawa organik volatil atau VOC yang menghasilkan respons sensor serupa.

Manfaat besar untuk keamanan pangan

Potensi teknologi ini dianggap besar karena bisa membantu deteksi alergen makanan, terutama jika cakupannya diperluas ke lebih banyak kelompok pangan. Lebih dari 33 juta orang Amerika memiliki setidaknya satu alergi makanan, sehingga alat seperti ini dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan dalam konsumsi harian.

Namun, hasil awal tersebut masih memiliki batasan penting. Pengujian dilakukan dengan kacang secara terpisah, bukan saat dicampur dengan makanan lain, sehingga akurasinya di kondisi nyata belum bisa dipastikan.

Ruang penerapan di rumah pintar

Carla Bassil, mahasiswa doktoral teknik elektro dan ilmu komputer di Berkeley sekaligus penulis utama studi, melihat peluang besar untuk penggunaan rumah tangga. Ia menilai lemari es pintar yang bisa dipantau lewat ponsel dapat menjadi salah satu penerapan paling relevan.

Bassil menggambarkan skenario praktis seperti kulkas yang memberi tahu kapan brokoli akan segera busuk atau kapan ayam sudah berada di hari terakhir kesegarannya. Arah pengembangan itu sejalan dengan tujuan riset untuk membuat pemantauan makanan lebih otomatis dan lebih mudah diakses di rumah.

Fokus riset berikutnya

Tim peneliti kini ingin menambah lebih banyak sensor agar perangkat bisa mengenali lebih banyak aroma. Mereka juga menargetkan perluasan ke jenis makanan yang lebih beragam, baik untuk mendeteksi spoilage maupun alergen.

Jika kemampuan identifikasinya terus meluas, hidung elektronik seperti ini berpotensi menjadi alat penting untuk membantu keamanan pangan di rumah maupun di tempat penyimpanan makanan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sensor berbasis aroma masih memiliki ruang besar untuk tumbuh.

Berita Terbaru