Halibut Atlantik Ternyata Rapuh Saat Dinaikkan, Raksasa Laut yang Populasinya Terus Menurun

Author: Redaksi Android62

Halibut Atlantik menyimpan paradoks yang jarang disadari. Ikan ini bisa tumbuh sangat besar, tetapi justru rentan ketika berhadapan dengan tekanan perburuan dan perubahan kedalaman air yang ekstrem.

Sejumlah individu bisa mati setelah ditangkap dan dinaikkan ke permukaan. Kondisi itu terjadi karena halibut Atlantik sulit menahan perbedaan tekanan antara dasar laut dan lapisan air atas, sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan sembarangan.

Ukuran besar, tetapi tidak umum dijumpai

Sebagai ikan sebelah terbesar di dunia, halibut Atlantik atau Hippoglossus hippoglossus dikenal lewat tubuh datarnya yang khas. Data Fishbase menyebut panjang maksimal spesies ini bisa mencapai 4,7 meter dengan bobot 320 kilogram.

Namun, ukuran sebesar itu tergolong langka. Panjang rata-ratanya hanya sekitar 1 meter dengan bobot 10–45 kilogram, sehingga gambaran raksasa di laut tidak selalu tampak pada individu yang biasa ditemui.

Warna tubuhnya juga membantu cara hidupnya di dasar laut. Bagian atas tubuh cenderung gelap, mulai dari abu-abu, kecokelatan, hingga hitam, sementara bagian bawahnya berwarna putih.

Penghuni dasar laut yang bergerak lambat

Halibut Atlantik hidup sebagai bottom dweller dan menghabiskan waktunya di dasar perairan. Reeflex mencatat ikan ini dapat dijumpai pada kedalaman sekitar 50 hingga 2.000 meter, terutama di dasar laut berpasir, berlumpur, atau di sela karang dan bebatuan.

Penyebarannya berada di Samudra Atlantik utara, mencakup wilayah Eropa, Greenland, dan Amerika Utara. Kebiasaan itu membuatnya sering terlihat berkamuflase, berenang pelan, atau mencari makan di area dasar laut.

Perkembangan lambat, tetapi umur bisa panjang

Halibut Atlantik dikenal tumbuh dan berkembang secara lambat. Ikan ini juga memerlukan waktu lama untuk mencapai kematangan seksual, sehingga proses menuju dewasa berjalan lebih pelan dibanding banyak ikan lain.

NOAA Fisheries menyebut halibut Atlantik dapat hidup hingga 50 tahun, meski individu setua itu jarang dijumpai. Usia rata-ratanya hanya sekitar 10–20 tahun.

Saat bertelur, betina meletakkan telur di dasar perairan. Dalam satu kali pemijahan, jumlah telur bisa mencapai dua juta butir, dengan suhu optimal reproduksi berada pada kisaran 5–7°C.

Pemangsa dasar laut yang ikut tertekan

Dari sisi makanan, halibut Atlantik tergolong karnivor. Animalia menjelaskan bahwa mangsanya mencakup ikan, cephalopoda, dan krustasea yang hidup di dasar laut.

Pola makan ikan ini berubah seiring usia. Anakan dan individu muda lebih sering memakan mikroorganisme seperti plankton, lalu saat berusia satu tahun mulai beralih ke ikan dan hewan laut yang lebih besar.

Meski masuk kategori least concern atau risiko rendah, populasinya terus menurun. iNaturalist menyebut perburuan dan pemancingan yang berlebihan membuat ikan ini kerap tertangkap sebelum dewasa, sehingga peluang bereproduksi menjadi lebih kecil.

Situasi itu memperlihatkan bahwa ukuran besar tidak selalu berarti aman. Pada halibut Atlantik, kombinasi pertumbuhan lambat, kematangan seksual yang terlambat, dan tekanan penangkapan justru membuat spesies ini semakin rapuh di ujung perburuan.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru