Hiu Susu, Predator Kecil Pesisir yang Rentan Tertangkap Jaring

Di banyak wilayah tropis, hiu susu sering tidak mendapat sorotan sebesar hiu berukuran besar. Padahal, Rhizoprionodon acutus ini justru menjadi salah satu predator kecil yang paling dekat dengan pesisir, termasuk di perairan Indonesia.

Spesies ini tidak dikenal sebagai ancaman bagi manusia. Sebaliknya, hiu susu berperan menjaga keseimbangan ekosistem dengan memangsa hewan-hewan kecil dan ikut menjadi bagian dari rantai makanan laut yang lebih luas.

Sebaran luas di perairan tropis

Data GBIF menunjukkan hiu susu tersebar sangat luas di wilayah tropis. Catatannya meliputi Indonesia, Australia, Filipina, Oseania, Afrika timur, Madagaskar, Timur Tengah, India, Afrika barat, hingga sebagian kecil Amerika.

Sebaran yang begitu lebar menandakan kemampuan adaptasi hiu susu terhadap beragam kondisi laut hangat. Habitatnya tersebar di Atlantik, Pasifik, dan Hindia, sehingga spesies ini dapat bertahan di banyak kawasan pesisir yang produktif.

Tubuh kecil, gerak cepat

Florida Museum mencatat hiu susu dapat tumbuh hingga panjang maksimal 1,7 meter dengan bobot mencapai 22 kilogram. Ukuran itu memang tidak besar untuk ukuran hiu, tetapi tubuhnya dirancang ramping dan aerodinamis.

Bentuk tersebut membuat hiu susu efisien berenang di perairan dangkal. Karakter inilah yang mendukung kehidupannya di area pesisir, muara, dan laut dangkal yang hangat.

Mengapa sering dekat dengan manusia

Hiu susu cenderung memilih perairan pesisir yang hangat karena area ini menyediakan makanan dan perlindungan. Habitat seperti muara dan laut dangkal juga penting bagi hiu muda yang masih rentan terhadap predator yang lebih besar.

Kedekatannya dengan pantai membuat spesies ini kerap terekam di jalur penangkapan ikan, kawasan pantai, dan wilayah pesisir yang ramai aktivitas laut. Kondisi itu bukan berarti hiu susu agresif, melainkan karena habitat alaminya memang berada di area yang sering digunakan manusia.

Makanan utama hiu susu

Menurut iNaturalist, hiu susu memakan krustasea, gastropoda, moluska, dan ikan kecil. Gigi bagian atasnya tajam dan bergerigi, sehingga membantu menangkap mangsa yang licin di dasar perairan maupun di kolom air dangkal.

Jenis mangsa utamanya dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Krustasea, seperti kepiting dan udang kecil.
  2. Moluska dan gastropoda dari dasar laut.
  3. Ikan kecil di perairan dangkal.

Sebagai predator tingkat menengah, hiu susu ikut mengatur populasi organisme kecil di pesisir. Peran ini penting karena menjaga dinamika ekosistem tetap seimbang.

Tetap bisa menjadi mangsa

Meski aktif berburu, hiu susu tidak menempati puncak rantai makanan. Spesies ini masih dapat dimangsa hiu yang lebih besar, seperti hiu sirip hitam dan hiu sirip hitam Australia.

Paus orca juga berpotensi memangsa hiu susu. Posisi ini menunjukkan bahwa hiu susu berada di tengah rantai makanan, sehingga tetap bergantung pada kondisi habitat dan stabilitas populasi predator maupun mangsanya.

Cara berkembang biak dan anak yang rentan

Hiu susu berkembang biak secara vivipar, yaitu melahirkan anak hidup. Animalia mencatat perkawinan umumnya terjadi pada awal musim panas, sekitar April hingga Juli, dan betina dapat mengandung satu hingga delapan anak dalam satu masa kehamilan.

Anak hiu susu lahir dengan panjang sekitar 30 hingga 50 sentimeter dan bobot hingga 350 gram. Betina biasanya memilih perairan hangat yang kaya makanan untuk melahirkan, lalu anak-anaknya tumbuh di pesisir yang memiliki banyak tempat berlindung.

Tidak berbahaya, tetapi tekanannya besar

Atlas of Living Australia menyebut hiu susu sebagai spesies yang tidak berbahaya bagi manusia. Giginya kecil, sehingga tidak menimbulkan luka dalam seperti hiu besar yang lebih dikenal publik.

Meski begitu, tekanan terhadap populasinya tidak kecil. Hiu susu kerap tertangkap dalam perikanan menggunakan jaring maupun pancing, dan di Senegal, Mauritania, Oman, serta India, spesies ini juga memiliki nilai komersial. Kondisi itu membuat populasinya dinilai menurun dan masuk kategori rentan, sehingga hiu kecil ini justru menghadapi risiko yang jauh lebih serius dibandingkan reputasinya di mata manusia.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait