Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat penularan HIV kini lebih banyak ditemukan pada kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki atau LSL. Pergeseran pola itu menjadi sorotan karena terjadi di tengah tren jumlah kasus baru yang justru menurun.
Kepala Dinkes Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menyebut perubahan tersebut terlihat dalam sekitar lima tahun terakhir. Sebelumnya, kasus baru lebih banyak muncul melalui hubungan heteroseksual, tetapi kini pola penularan bergeser ke kelompok LSL.
Kasus baru turun, tetapi pola penularan berubah
Data Badan Pusat Statistik Jawa Tengah menunjukkan kasus baru HIV/AIDS pada 2024 sebanyak 6.509 kasus. Angka itu turun menjadi 6.222 kasus pada 2025, sehingga secara umum jumlah kasus memang cenderung menurun.
Meski demikian, perubahan pola penularan membuat strategi pencegahan tidak bisa hanya bertumpu pada penurunan angka kasus. Dinkes menilai edukasi perlu diarahkan lebih spesifik kepada kelompok yang paling rentan terpapar, terutama usia produktif.
Mayoritas kasus baru berada di usia produktif
Zulfachmi menjelaskan bahwa mayoritas kasus baru banyak ditemukan pada kelompok usia 20 hingga 40 tahun. Rentang usia ini menjadi perhatian karena berada pada fase produktif dan memiliki mobilitas sosial yang tinggi.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penguatan edukasi perilaku hidup sehat. Langkah pencegahan dinilai harus menjangkau kelompok yang paling berisiko agar penularan tidak terus berkembang.
| Data | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Kasus baru HIV/AIDS 2024 | 6.509 | Data Badan Pusat Statistik Jawa Tengah |
| Kasus baru HIV/AIDS 2025 | 6.222 | Terlihat menurun dibanding 2024 |
| Kasus baru Januari-Mei 2026 di Kota Semarang | 225 | Temuan terbanyak di Jawa Tengah |
| Kasus baru Januari-Mei 2026 di Kabupaten Banyumas | 107 | Masuk wilayah dengan temuan tinggi |
| Kasus baru Januari-Mei 2026 di Kota Surakarta | 104 | Masuk wilayah dengan temuan tinggi |
Ratusan temuan baru masih muncul pada awal 2026
Hingga Januari-Mei 2026, Dinkes Jawa Tengah masih mencatat ratusan kasus baru HIV di sejumlah daerah. Kota Semarang menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, disusul Kabupaten Banyumas dan Kota Surakarta.
Sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Pati dan Kabupaten Brebes juga masih masuk wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian HIV. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian masih harus diperkuat di daerah dengan temuan tinggi maupun wilayah yang mulai muncul sebagai perhatian baru.
Pergeseran pola penularan ke kelompok LSL sekaligus memperlihatkan bahwa tantangan penanganan HIV di Jawa Tengah tidak hanya soal menekan jumlah kasus. Fokus pencegahan kini semakin penting diarahkan pada kelompok usia produktif dan wilayah dengan temuan baru yang masih terus muncul.
