Hizbullah menolak keras perjanjian kerangka kerja yang ditandatangani perwakilan Lebanon dan Israel di Washington. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyebut kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat itu tidak sah dan merugikan kedaulatan Lebanon.
Dalam pernyataannya melalui video yang ditayangkan saluran TV Lebanon Al-Manar, Qassem menggambarkan isi perjanjian itu sebagai sesuatu yang “menghina” dan “memalukan”. Ia menilai langkah tersebut bukan jalan keluar yang adil, melainkan tekanan politik yang melemahkan posisi Lebanon.
Isu penarikan pasukan dan pelucutan senjata
Salah satu titik penolakan paling keras datang dari klausul yang mengaitkan penarikan pasukan Israel dengan pelucutan senjata Hizbullah. Qassem menyebut gagasan itu sangat berbahaya dan melanggar seluruh “garis merah” yang selama ini dijaga kelompok tersebut.
Bagi Hizbullah, penggabungan dua isu itu dalam satu kerangka memberi tekanan besar tanpa jaminan yang setara bagi Lebanon. Sikap itu membuat perjanjian di Washington dipandang bukan sebagai solusi, melainkan sebagai beban politik dan keamanan yang berat.
Gencatan senjata yang masih rapuh
Keraguan Hizbullah juga muncul di tengah situasi yang belum stabil di lapangan. Reuters sebelumnya melaporkan Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Juni, mengutip seorang pejabat Amerika Serikat.
Namun, bentrokan dan aksi saling serang tetap terjadi pada 20 Juni sehingga kesepakatan itu belum benar-benar meredakan ketegangan. Kepala staf pasukan pertahanan Israel, Eyal Zamir, bahkan menyebut gencatan senjata tersebut rapuh dan meminta pasukan tetap siaga menghadapi kemungkinan eskalasi lanjutan.
Dampak bagi Lebanon dan kawasan
Penolakan Hizbullah menambah panjang hambatan dalam upaya meredakan konflik antara Lebanon dan Israel. Di satu sisi ada dorongan diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat, tetapi di sisi lain terdapat keberatan keras dari kelompok bersenjata utama di Lebanon.
Dalam konteks itu, perjanjian di Washington belum menunjukkan kemampuan membangun kepercayaan semua pihak. Selama isu kedaulatan, penarikan pasukan, dan pelucutan senjata masih diperdebatkan, ketegangan antara Lebanon dan Israel berpotensi terus berlanjut.
Source: www.viva.co.id






