Homo Juluensis Dari China Punya Ciri Campuran yang Sulit Dikelompokkan, Ilmuwan Revisi Peta Evolusi Manusia

Author: Redaksi Android62

Di Asia timur, satu nama baru dalam paleoantropologi kini ikut mengubah cara ilmuwan membaca fosil manusia purba: Homo juluensis. Spesies ini dipakai untuk menampung fosil-fosil dari China utara yang dinilai tidak pas dimasukkan ke kelompok hominin yang sudah dikenal.

Yang membuatnya menarik adalah kombinasi ciri pada tengkoraknya. Ukurannya besar dan lebar, namun sejumlah fitur lain justru dianggap mirip Neanderthal, manusia modern, dan Denisovan, sehingga klasifikasinya menjadi jauh lebih rumit.

Fosil Xujiayao jadi pusat perhatian

Penyebutan Homo juluensis berawal dari analisis fosil di wilayah Xujiayao. Nama juluensis sendiri dikaitkan dengan makna “manusia kepala besar”, yang merujuk pada ciri fisik paling menonjol dari temuan tersebut.

Dalam studi yang terbit pada Mei 2024, Christopher Bae dari University of Hawai’i dan Xiuju Wu dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology menilai fosil itu memperlihatkan karakter yang tidak biasa. Mereka memandang kumpulan fosil tersebut sebagai bentuk baru hominin berotak besar yang tersebar luas di sebagian besar Asia timur pada kuartal akhir Pleistosen.

Ciri-ciri yang sulit masuk klasifikasi lama

Masalah utama dari fosil ini bukan hanya soal ukuran, tetapi juga perpaduan sifat yang tidak sederhana. Tengkorak besar, tengkorak tebal, dan kemiripan dengan Neanderthal membuat fosil tersebut sulit ditempatkan dalam kerangka klasifikasi yang lama.

Karena itu, Homo juluensis dipandang sebagai pengingat bahwa variasi hominin purba di Asia bisa jauh lebih kompleks dari dugaan sebelumnya. Bagi ilmuwan, kombinasi ciri seperti ini menuntut pembacaan ulang terhadap fosil-fosil yang selama ini dianggap membingungkan.

Jejak lama yang kembali dibaca

Temuan ini juga tidak berdiri dari nol. Di Xujiayao, penemuan serupa sebenarnya sudah pernah muncul pada 1974, ketika peneliti menemukan 10 ribu artefak baru dan 21 fragmen fosil hominin yang mewakili 10 individu berbeda.

Deskripsi lama itu ternyata sejalan dengan penilaian Bae dan Wu. Fosil-fosil tersebut sudah menunjukkan otak besar, tengkorak tebal, dan kemiripan dengan Neanderthal, sehingga koleksi Xujiayao kini makin mendukung pembacaan baru atas kelompok fosil itu.

Rentang waktu dan kemungkinan hubungan antarkelompok

Bae dan Wu menempatkan Homo juluensis dalam rentang sekitar 220 ribu hingga 100 ribu tahun lalu. Mereka juga mengaitkannya dengan populasi hominin yang hidup lebih luas di Asia timur pada periode yang lebih tua, sekitar 300 ribu hingga 500 ribu tahun lalu.

Meski memiliki kemiripan dengan beberapa kelompok manusia purba, hal itu tidak otomatis berarti spesies ini berasal dari garis keturunan yang sepenuhnya terpisah. Para peneliti menilai Homo juluensis kemungkinan tidak terisolasi secara genetik.

Menurut mereka, spesies ini bisa saja merupakan hasil perkawinan sejumlah hominin lain dari Plesitosen Tengah, termasuk Neanderthal. Karena itu, Homo juluensis dipahami sebagai populasi hominin baru untuk wilayah tersebut, bukan sekadar variasi kecil dari kelompok yang sudah dikenal.

Dorongan untuk revisi klasifikasi Homo purba

Usulan Bae dan Wu tidak berhenti pada penamaan satu spesies. Mereka juga menilai perlu ada terminologi baru untuk beberapa spesies Homo dari zaman purba dan mengusulkan pembagian menjadi empat spesies, yakni H. floresiensis, H. luzonensis, H. longi, dan H. juluensis.

Dorongan ini menunjukkan bahwa sejarah evolusi manusia masih menyimpan banyak cabang yang belum sepenuhnya jelas. Dalam konteks itu, Xujiayao menjadi lokasi penting karena fosil-fosilnya membantu menjelaskan bagaimana berbagai kelompok hominin hidup, saling berinteraksi, dan meninggalkan jejak di Asia timur.

Bagi paleoantropologi, Homo juluensis menambah satu lapisan baru dalam perdebatan tentang siapa saja yang pernah hidup berdampingan di Asia purba. Temuan ini juga menegaskan bahwa klasifikasi manusia purba masih bisa berubah seiring munculnya pembacaan baru atas fosil-fosil lama.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru