Honda kini mengambil langkah yang lebih lentur dalam elektrifikasi setelah merasakan mahalnya risiko ketika terlalu bergantung pada satu jalur teknologi. Perusahaan asal Jepang itu sedang menyiapkan platform listrik generasi berikutnya yang tidak hanya untuk mobil listrik murni, tetapi juga dapat menopang powertrain hybrid.
Perubahan arah ini penting karena pasar belum bergerak secepat asumsi awal sebagian pabrikan. Dengan platform yang lebih fleksibel, Honda ingin punya ruang untuk menyesuaikan produk jika permintaan konsumen, kebijakan, atau infrastruktur berubah di tengah jalan.
Langkah baru itu datang setelah Honda menanggung beban besar dari strategi EV yang terlalu kaku. Program 0 Series untuk Amerika Utara yang akhirnya dibatalkan membuat perusahaan harus menanggung investasi EV senilai $15.7 miliar.
Alih-alih tetap memaksa satu arah, Honda kini membaca transisi elektrifikasi dengan lebih hati-hati. Menurut Automotive News, arsitektur yang sedang disiapkan itu dirancang agar bisa dipakai untuk EV sekaligus hybrid, sehingga Honda tidak terjebak pada platform yang sempit.
Hybrid jadi penyangga jangka pendek
Untuk saat ini, hybrid justru mendapat porsi perhatian yang lebih besar. Honda baru saja mengungkap rencana meluncurkan 15 model hybrid pada 2029 dengan platform yang berbeda dari platform gabungan EV-hybrid yang diperkenalkan minggu ini.
Strategi itu juga dibedakan menurut merek. Acura akan lebih agresif mendorong hybrid ke konsumennya, sementara Honda akan tetap menyediakan pilihan mesin bensin dan hybrid agar bisa menjangkau pembeli yang lebih peka terhadap harga.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Honda masih melihat faktor daya beli sebagai penentu penting. Di pasar seperti ini, platform yang fleksibel memberi keuntungan karena perusahaan bisa lebih cepat menyesuaikan jenis kendaraan yang ditawarkan tanpa harus terikat pada arsitektur EV khusus yang mahal.
Honda masih menaruh harapan pada EV setelah 2030
Meski fokus jangka pendek bergeser ke hybrid, Honda tidak meninggalkan kendaraan listrik. Presiden Honda Toshihiro Mibe masih yakin adopsi mobil listrik akan terus meningkat setelah 2030.
Namun, ia juga menilai permintaan hybrid bisa tetap lebih kuat dari perkiraan semula sepanjang sisa dekade ini. Menurut Mibe, arah pasar dapat dipengaruhi oleh pemerintahan Trump selama dua setengah tahun ke depan dan hasil pemilu paruh waktu November.
Karena itu, Honda sedang mempelajari sistem dan konsep EV generasi baru yang bisa tetap relevan apa pun perubahan yang terjadi. Sikap ini memperlihatkan bahwa perusahaan ingin menjaga opsi terbuka, bukan mengunci diri pada satu skenario transisi.
Kebijakan dan perdagangan ikut menentukan langkah
Bagi Honda, arah elektrifikasi tidak hanya soal teknologi kendaraan. Regulasi, insentif, ketersediaan fasilitas pengisian, dan kebijakan perdagangan ikut masuk dalam perhitungan.
Perusahaan menilai platform masa depan yang bisa menopang dua jenis powertrain akan lebih aman menghadapi perubahan tersebut. Dengan struktur seperti itu, Honda bisa bergerak ke hybrid jika permintaan menguat di sana, atau kembali memperluas EV ketika kondisi pasar mendukung.
Honda juga masih menunggu hasil negosiasi dagang antara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hasil pembicaraan itu akan memengaruhi apakah rencana pusat produksi EV di Kanada yang sempat ditunda pada awal Mei bisa diaktifkan lagi.
Sikap baru Honda menunjukkan pelajaran penting dari investasi besar yang sudah telanjur keluar. Perusahaan tetap berada di jalur elektrifikasi, tetapi kini ingin memastikan arah yang dipilih tidak membuatnya terlalu rentan saat pasar berubah.
