Honda dan Nissan Motor Co. segera memasuki tahap akhir kesepakatan untuk mengembangkan Electronic Control Unit atau ECU bersama. Komponen ini menjadi inti penting bagi kendaraan berbasis perangkat lunak yang kian menentukan arah industri otomotif global.
Langkah tersebut muncul ketika Honda berada di bawah tekanan finansial besar setelah dilaporkan mencatat kerugian signifikan untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun. Di tengah kondisi itu, kerja sama dengan Nissan diposisikan sebagai cara cepat untuk menekan biaya dan mempercepat pengembangan teknologi mobil masa depan.
ECU menjadi pusat strategi baru
Menurut The Asahi Shimbun, kolaborasi kedua pabrikan Jepang itu berfokus pada produksi ECU yang akan menopang Software-Defined Vehicle atau SDV. Dengan perangkat ini, sistem operasi mobil dapat diperbarui secara berkala melalui koneksi internet nirkabel.
Pembaruan tersebut memungkinkan peningkatan pada performa mesin, peta digital, hingga fungsi sistem mengemudi otonom. Penggunaan ECU yang seragam juga dinilai bisa memangkas biaya riset secara signifikan karena Honda dan Nissan tidak perlu mengembangkan komponen inti yang sama secara terpisah.
Tekanan industri mendorong efisiensi
Di tengah persaingan yang makin bergeser ke ranah digital, langkah ini menunjukkan upaya Jepang mengejar produsen mobil asal Amerika Serikat dan China yang lebih dulu unggul dalam digitalisasi kendaraan. Bagi Honda dan Nissan, berbagi pengembangan perangkat inti dinilai lebih efisien daripada mempertahankan jalur kerja masing-masing.
Strategi tersebut juga memberi peluang percepatan menuju lini produk massal yang lebih modern. Komponen hasil kerja sama itu diproyeksikan mulai terpasang pada kendaraan produksi massal paling cepat pada 2029.
| Fokus kerja sama | Fungsi utama | Perkiraan penerapan |
|---|---|---|
| ECU | Mendukung SDV dan pembaruan perangkat lunak kendaraan | Paling cepat 2029 |
| Sistem operasi kabin | Masih dibahas dalam tahap lanjutan | Belum diumumkan |
Kerja sama yang sudah lama dirintis
Hubungan bisnis Honda dan Nissan bukan langkah mendadak. Upaya konsolidasi keduanya sudah mulai dijajaki sejak dua tahun lalu, menandakan komunikasi di antara kedua perusahaan telah terbangun lebih dulu.
Pada 2024, keduanya sempat mengumumkan komitmen awal untuk riset baterai dan ekosistem digital. Rencana itu bahkan sempat berkembang ke arah merger penuh, namun skenario tersebut batal setelah Nissan menolak proposal pengambilalihan menjadi anak perusahaan Honda.
Meski merger tidak terwujud, kerja sama tetap berlanjut. Presiden dan CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, mengatakan perkembangan proyek bersama Nissan sudah berjalan sangat jauh dan beberapa poin penting akan segera diumumkan ke publik dalam waktu dekat.
Di luar ECU, sistem operasi atau perangkat lunak utama yang tertanam di dalam kabin mobil juga masih dibahas. Artinya, kolaborasi ini tidak hanya menyentuh sisi perangkat keras, tetapi juga membuka jalan bagi integrasi yang lebih dalam pada fondasi digital kendaraan.
Bagi Honda, kemitraan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan di tengah tekanan keuangan yang berat. Bagi Nissan, kerja sama tersebut memperkuat posisi dalam persaingan menuju era mobil yang makin terkoneksi, makin cerdas, dan makin bergantung pada pembaruan perangkat lunak.







