Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam perang yang belum menemukan jalan keluar. Di jalur sempit yang dulu menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu, pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat masih terlibat bentrokan sporadis, sementara risiko meluasnya konflik ke kawasan Teluk tetap tinggi.
Ketegangan itu muncul ketika gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April masih dipertahankan di atas kertas, tetapi tidak diikuti suasana yang benar-benar tenang. Amerika Serikat dan Iran masih saling menekan, dan serangan terbaru di sekitar Hormuz memperlihatkan bahwa perang belum keluar dari fase paling rawan.
Hormuz tetap jadi titik rawan
Pada Jumat, kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bentrokan sporadis antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat di Selat Hormuz. Tasnim kemudian mengutip sumber militer Iran yang menyebut situasi sudah mereda, meski peluang bentrokan susulan masih terbuka.
Militer AS mengatakan pihaknya menyerang dua kapal yang terkait Iran saat keduanya mencoba memasuki pelabuhan Iran. Seorang jet tempur AS menghantam cerobong asap kapal itu dan memaksa keduanya berbalik arah.
Tehran sebelumnya telah membatasi secara luas pelayaran non-Iran di selat tersebut sejak perang dimulai lewat serangan udara AS-Israel di Iran pada 28 Februari. Langkah itu membuat jalur yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia berubah menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam konflik.
Tekanan militer belum mengubah kalkulasi
Di Washington, pemerintah AS masih menunggu jawaban Iran atas usulan yang akan secara resmi mengakhiri perang sebelum pembahasan masuk ke isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Di Roma pada Jumat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS memperkirakan respons itu datang pada hari yang sama.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Tehran masih mempertimbangkan usulan tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh AS memilih “petualangan militer yang sembrono” setiap kali solusi diplomatik tersedia.
Di saat yang sama, sebuah analisis intelijen AS menyebut Iran dapat bertahan menghadapi blokade laut selama berbulan-bulan. Seorang pejabat AS yang mengetahui penilaian itu mengatakan CIA menilai Iran tidak akan menanggung tekanan ekonomi berat dari blokade pelabuhan Iran oleh AS selama sekitar empat bulan lagi.
Seorang pejabat intelijen senior membantah klaim soal analisis CIA tersebut dan menyebut informasi itu palsu. Laporan pertama mengenai hal itu datang dari Washington Post.
Benturan melebar ke luar selat
Eskalasi tidak berhenti di perairan Hormuz. Uni Emirat Arab mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi dua rudal balistik dan tiga drone dari Iran pada Jumat, dan tiga orang mengalami luka sedang.
UEA menyebut serangan pekan ini sebagai eskalasi besar. Negara itu sebelumnya juga pernah menjadi sasaran, karena Iran berkali-kali menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lain yang menampung pangkalan militer AS.
Gelombang serangan itu menguat setelah Iran meningkatkan aksi sebagai respons atas pengumuman Trump mengenai “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal di selat tersebut. Program itu kemudian dihentikan setelah 48 jam.
Trump pada Kamis mengatakan gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April masih bertahan meski kekerasan kembali meledak. Iran justru menuduh AS melanggar kesepakatan itu, sehingga situasi diplomatik tetap rapuh di tengah tembakan yang belum benar-benar berhenti.
Sanksi dan diplomasi berjalan bersamaan
Washington tidak hanya mengandalkan jalur pembicaraan. Pada Jumat, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan, termasuk sejumlah entitas di China dan Hong Kong, karena membantu upaya militer Iran memperoleh senjata dan bahan baku untuk drone Shahed.
Departemen Keuangan AS juga menyatakan siap bertindak terhadap perusahaan asing mana pun yang mendukung perdagangan ilegal Iran. Lembaga itu bahkan membuka peluang sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing, termasuk yang terkait dengan kilang minyak independen di China.
Di tengah tekanan itu, AS disebut menghadapi sedikit dukungan internasional dalam konflik ini. Setelah bertemu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Rubio mempertanyakan mengapa Italia dan sekutu lain tidak mendukung upaya Washington untuk membuka kembali selat tersebut.
Di lapangan, perang laut, serangan udara, dan diplomasi berjalan bersamaan tanpa tanda jelas bahwa salah satunya segera mendominasi. Selama Selat Hormuz tetap menjadi titik benturan utama, gencatan senjata di Teluk tampak masih sangat jauh dari benar-benar aman.







