HP OmniBook 3 16 inci menonjol terutama karena daya tahan baterainya yang sangat panjang. Dengan baterai 68Wh dan efisiensi Snapdragon X, laptop ini sanggup dipakai seharian penuh untuk penggunaan campuran tanpa perlu sering mencari colokan.
Keunggulan itu membuatnya terasa jauh lebih menarik saat harganya turun. Di luar promo, banderolnya bisa melonjak tinggi dan membuat nilai jualnya kurang sepadan dibandingkan laptop lain di kelas yang sama.
Harga menjadi faktor penentu
Laptop ini memang sering masuk skema promo, dan justru di situlah daya tarik utamanya muncul. Harga awal model dasarnya dimulai dari $699.99, tetapi perangkat ini kerap dijual jauh lebih murah pada periode diskon.
Dalam pengujian, varian dengan Snapdragon X X1-26, RAM 16GB LPDDR5x, SSD 512GB, dan layar IPS 2K sempat tercatat seharga $399 di Walmart. Pada titik itu, OmniBook 3 16 inci berubah menjadi penawaran yang sangat agresif untuk laptop berlayar 16 inci.
Model yang diuji berada di kelas lebih tinggi. Konfigurasinya mencakup layar OLED 2K, RAM 32GB LPDDR5x, dan SSD 1TB, dengan harga reguler $1,729.99 serta harga promo $1,259.99 pada saat penulisan.
Port dan rancangan yang mendukung kerja harian
Dari sisi konektivitas, HP menyediakan susunan port yang cukup lengkap untuk produktivitas. Di sisi kiri tersedia HDMI 2.1, satu USB-A 5Gbps, dan dua USB-C 3.2 Gen 2 berkecepatan 10Gbps, sementara sisi kanan memuat satu USB-A tambahan dan jack audio 3.5mm.
Dukungan DisplayPort 1.4 video melalui USB-C membantu saat laptop dipakai bersama monitor eksternal. Namun, ketiadaan USB4 membuat transfer data cepat masih menjadi area yang bisa ditingkatkan.
Secara fisik, bodinya setebal 0.58 inci dengan bobot 3.65 pound, sehingga masih tergolong mudah dibawa. Bentuknya terasa seperti laptop 14 inci yang diperbesar, meski sasisnya memperlihatkan cukup banyak fleks dan bunyi berderit saat ditekan.
Layar OLED memberi nilai tambah paling besar
Unit ulasan memakai panel OLED non-touch 16 inci dengan resolusi 1920×1200. Panel ini menjadi pilihan paling menarik karena warna dan kontrasnya sangat kuat untuk kelas harga tersebut.
Pengukuran dengan SpyderX Pro menunjukkan cakupan warna 100% sRGB, 92% AdobeRGB, dan 99% DCI-P3. Hasil itu tergolong sangat baik, terutama untuk laptop yang masih diposisikan sebagai perangkat budget.
Kekurangannya ada pada tingkat kecerahan. Layar OLED hanya sedikit di atas 300 nits, sehingga tetap kurang nyaman digunakan di ruangan terang meskipun sudah dilengkapi lapisan anti-glare.
Performa tetap kompetitif untuk kebutuhan umum
Snapdragon X X1-26 memang bukan chip terbaru karena sudah satu generasi di belakang hardware X2. Meski begitu, performanya masih kompetitif untuk penggunaan harian dan pekerjaan umum.
Di Geekbench 6, chip ini bersaing ketat dengan Intel Core Ultra 7 256V, baik pada skor single-core maupun multi-core. Saat berpindah dari daya AC ke baterai, penurunan performanya juga nyaris tidak terasa.
Hasil Cinebench bahkan menempatkan Snapdragon X di atas Core Ultra 7 256V dan Ryzen 7 8840U. Sementara itu, SSD M.2 PCIe 4.0 NVMe bawaan laptop ini tergolong cepat dengan hasil 7,073MB/s baca dan 5,705MB/s tulis di CrystalDiskMark.
Pengalaman pakai sehari-hari cukup meyakinkan
Keyboard OmniBook 3 termasuk lebih baik dari rata-rata laptop di kelas harga ini. Travel tombol terasa nyaman, lampu latarnya terang, dan keberadaan numpad membantu pekerjaan yang banyak melibatkan angka.
Touchpad-nya bukan model haptic, tetapi kliknya terasa memuaskan dan pelacakannya berjalan baik. Di sisi lain, speaker stereo di bagian bawah tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu penuh.
Kamera 1080p justru tampil cukup meyakinkan untuk kebutuhan konferensi video. Hasil gambarnya jelas, ditambah sensor IR untuk Windows Hello dan penutup privasi fisik yang menambah rasa aman.
Jika harga sedang turun, kombinasi layar besar, baterai panjang, dan performa Snapdragon X membuat HP OmniBook 3 16 inci sulit diabaikan. Namun, tanpa diskon, posisinya jauh kurang kuat karena banderolnya bisa naik terlalu tinggi untuk kelasnya.
