Hantaman asteroid besar pada masa awal Bumi diduga bukan sekadar meninggalkan kawah. Energi tumbukan itu memanaskan mantel, membuat kerak rapuh terus mencair, dan menunda stabilnya permukaan planet selama ratusan juta tahun.
Temuan ini memperkuat gambaran bahwa Bumi purba jauh lebih keras dibanding planet yang dikenal sekarang. Di era Hadean, permukaan dunia muda itu terus diguncang tumbukan besar, sementara lapisan luarnya belum cukup kuat untuk bertahan lama.
Panaskan interior, ganggu kerak
Penelitian dari Curtin University dan Queensland University of Technology menyorot dampak asteroid yang jauh melampaui bekas hantaman di permukaan. Energi dari setiap tumbukan menembus kerak hingga ke mantel, lalu memanaskan bagian dalam Bumi dalam waktu yang sangat lama.
Melalui model statistik frekuensi tumbukan asteroid pada awal tata surya, tim peneliti menghitung besarnya panas dari setiap hantaman. Hasilnya menunjukkan panas tumbukan kemungkinan menjadi sumber panas utama di Bumi muda, bahkan melampaui panas internal lain selama sebagian besar era Hadean.
Jika digabungkan, panas dari tumbukan asteroid itu juga diperkirakan lebih besar daripada panas dari peluruhan radioaktif. Artinya, benda langit dari luar angkasa ikut menentukan kondisi geologis Bumi purba dalam skala besar.
Kerak tipis yang sulit bertahan
Profesor tim Johnson dari Curtin University menjelaskan bahwa selama ini tumbukan asteroid sering dipahami hanya sebagai peristiwa perusak permukaan. Padahal, pada masa awal tata surya, tabrakan terjadi sangat sering dan memberi dampak lebih dalam pada interior planet.
Menurut pemodelan, selama sebagian besar era Hadean, kerak Bumi kemungkinan hanya berada dalam kondisi setengah cair pada kedalaman sekitar dua hingga tiga kilometer dari permukaan. Kondisi itu membuat lapisan luar planet tipis, lemah, dan mudah didaur ulang.
Profesor Craig O’Neill dari QUT mengatakan kerak Bumi pada masa itu kemungkinan tidak menyerupai lempeng tektonik modern yang kuat. Keraknya terus berubah karena panas dari tumbukan asteroid dan belum bisa membentuk lapisan yang stabil.
Jejak Hadean yang nyaris hilang
Periode Hadean, yakni sekitar 500 juta tahun pertama sejarah Bumi, memang menyisakan banyak tanda tanya. Hampir tidak ada batuan dari masa itu yang bertahan hingga sekarang, sehingga catatan geologinya sangat minim.
Beberapa kristal zirkon menunjukkan permukaan Bumi sudah terbentuk lebih dari 4,3 miliar tahun lalu. Air juga diduga sudah hadir sejak masa awal, tetapi batuan benua tertua yang diketahui baru berusia sekitar 4,03 miliar tahun.
Kesenjangan itu lama menjadi misteri dalam ilmu kebumian. Studi di jurnal Science berjudul Impact Heating and the Hidden Hadean memberi penjelasan bahwa kerak Bumi saat itu mungkin sudah ada, tetapi terlalu panas, terlalu tipis, dan terlalu tidak stabil untuk bertahan lama.
Retak kerak, bantu lahirnya benua
Meski terdengar destruktif, tumbukan asteroid juga diduga membantu membentuk cikal bakal benua. Saat asteroid menghantam permukaan, kerak muda retak dan pecah, lalu air masuk dan bersirkulasi di dalam batuan dalam waktu yang panjang.
Pada saat yang sama, panas dari mantel memunculkan magma basaltik yang naik ke atas dan melewati kerak. Proses berulang ini mengubah komposisi batuan permukaan hingga makin kaya silika, ciri utama kerak benua modern.
| Fakta Utama | Penjelasan |
|---|---|
| Waktu dampak tumbukan | Pengaruhnya bisa berlangsung puluhan hingga ratusan juta tahun setelah tabrakan |
| Kondisi kerak | Tipis, lemah, dan mudah mencair kembali |
| Hasil jangka panjang | Mendorong batuan lebih kaya silika dan mendukung cikal bakal benua |
Saat hantaman mulai mereda
Studi ini juga menautkan perubahan besar pada penurunan laju tumbukan asteroid. Berdasarkan bukti geologi dari Bulan, tingkat pemboman di tata surya bagian dalam mulai merosot tajam sekitar 3,9 miliar tahun lalu.
Waktu itu hampir bertepatan dengan munculnya bukti pertama kerak benua yang berhasil bertahan di Bumi. Batuan tertua yang diketahui saat ini juga mengkristal di sekitar masa tersebut.
Para ilmuwan menilai turunnya tabrakan memberi kesempatan kerak untuk mendingin dan menebal. Saat panas tambahan dari tumbukan berkurang, permukaan Bumi mulai lebih stabil dan lebih mungkin membentuk benua yang tahan lama.
Di tengah hujan asteroid yang berlangsung ratusan juta tahun, Bumi perlahan keluar dari kondisi paling kacau. Saat hantaman melemah, planet ini akhirnya mendapat ruang untuk membangun kerak yang lebih stabil dan menjadi dasar bagi benua-benua yang dikenal sekarang.
