Penemuan hiu berjalan baru di perairan dangkal tenggara Papua Nugini menyoroti betapa rapuhnya kehidupan spesies ini. Hewan bernama Hemiscyllium dudgeonae itu kini menambah jumlah hiu berjalan yang diketahui menjadi 10 spesies.
Yang membuat temuan ini penting bukan hanya karena spesiesnya baru, tetapi juga karena sebarannya sangat terbatas. Hiu berjalan sejauh ini hanya tercatat di tiga lokasi di Papua Nugini, sehingga keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada kondisi terumbu karang setempat.
Terumbu dangkal yang masih menyimpan banyak rahasia
Spesies baru ini muncul dari wilayah yang justru jarang dianggap sebagai sumber kejutan ilmiah, yakni terumbu karang dangkal. Selama ini, hiu dan pari baru lebih sering ditemukan di laut dalam, tetapi kali ini peneliti menemukan spesies berbeda di perairan yang lebih mudah dijangkau.
Temuan itu memperlihatkan bahwa ekosistem terumbu karang dangkal masih belum sepenuhnya dipetakan. Di area yang terlihat kecil dan sederhana itu, biodiversitas baru masih bisa muncul ketika penjelajahan dilakukan lebih detail.
Perbedaan pola tubuh jadi petunjuk awal
Tim penyelam pertama kali melihat hiu kecil ini di area gelap di sekitar terumbu karang. Tubuhnya berbintik cokelat dan bergerak meluncur di atas bebatuan dengan cara yang tidak langsung cocok dengan spesies yang sudah mereka kenal.
Nama Dudgeon’s walking shark diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Dudgeon, yang kontribusinya selama 20 tahun membantu penelitian genus Hemiscyllium. Penemuan ini dipublikasikan pada 15 Juni di Journal of the Ocean Science Foundation.
Dari satu spesimen menjadi bukti yang konsisten
Pada awal pencarian, tim sebenarnya sedang memburu hiu berjalan Michael atau Hemiscyllium michaeli. Spesies itu memiliki corak seperti macan tutul, sedangkan hiu berjalan Dudgeon memperlihatkan garis-garis putih kecil dan bintik-bintik cokelat di seluruh tubuhnya.
Awalnya hanya satu spesimen yang ditemukan, sehingga peneliti belum bisa memastikan apakah ciri yang terlihat hanyalah variasi individu. Keraguan itu berubah setelah survei dilanjutkan di terumbu sekitar.
Dalam waktu dua hari, tim menemukan 11 hiu berjalan tambahan di tiga lokasi berbeda. Temuan itu mencakup jantan dan betina, serta individu remaja dan dewasa, dengan pola tubuh yang khas dan konsisten.
DNA menegaskan spesies baru
Untuk memastikan identifikasi, sampel genetik dibawa ke laboratorium di Australia. DNA hiu baru itu kemudian dibandingkan dengan sampel genetik dari sembilan spesies hiu berjalan lain.
Hasil perbandingan tersebut menegaskan bahwa populasi itu memang merupakan spesies baru. Dengan demikian, jumlah hiu berjalan yang diketahui resmi bertambah menjadi 10 spesies.
Cara bergerak yang membantu bertahan hidup
Hiu berjalan hidup dekat terumbu karang, bukan di laut lepas seperti banyak hiu berukuran lebih besar. Mereka memakai sirip dada dan sirip panggul untuk bergerak di dasar laut, terutama saat air surut dan sebagian terumbu terisolasi dari perairan yang lebih dalam.
Cara bergerak ini membuat mereka tetap aktif saat kadar oksigen menurun. Mereka juga masih bisa berburu mangsa di dataran terumbu karang meski kondisi lingkungan berubah-ubah.
Para ilmuwan menilai kemampuan itu berevolusi sebagai respons terhadap lingkungan terumbu karang tropis yang datar dan menantang. Dalam habitat seperti ini, kadar oksigen dapat berubah drastis mengikuti pasang surut.
Ancaman di balik sebaran yang sempit
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa hiu berjalan dapat bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen rendah selama berjam-jam. Namun, mekanisme yang memungkinkan mereka bertahan masih perlu dikaji lebih lanjut.
Justru karena hidup di area yang sempit, Hemiscyllium dudgeonae berpotensi sangat rentan bila habitatnya rusak. Jika jangkauannya memang terbatas seperti yang sejauh ini tercatat, perubahan iklim, degradasi habitat, dan penangkapan ikan berlebihan bisa menjadi ancaman serius.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa terumbu karang dangkal di Papua Nugini masih menyimpan banyak spesies yang belum sepenuhnya terungkap. Semakin detail penjelajahan dilakukan, semakin besar peluang munculnya temuan baru dari wilayah yang tampak biasa di permukaan.
