Di tengah sorotan pasar kripto, Hyperliquid justru memunculkan dilema yang membuat sebagian investor memilih menunggu. Bursa terdesentralisasi ini memang naik cepat dan berhasil masuk 10 besar aset kripto berdasarkan kapitalisasi pasar, tetapi laju itu dibarengi pertanyaan besar soal struktur, keamanan, dan daya tahan pertumbuhan.
Kecepatan transaksi dan volume perdagangan memang menjadi daya tarik utamanya. Hyperliquid juga membangun posisi kuat di perdagangan perpetuals, dengan volume perpetual futures yang mendekati $200 miliar per bulan, sehingga platform ini terlihat sangat kompetitif dibanding banyak bursa lain.
Pertumbuhan yang cepat, tapi belum membuat semua orang tenang
Dari luar, Hyperliquid tampak seperti salah satu pemenang baru di sektor DeFi. Pengalaman trading yang cepat dan biaya transaksi yang kompetitif membuat platform ini mudah dilirik trader yang mencari efisiensi.
Ada pula fitur summary card yang memudahkan aktivitas trading dibagikan. Fitur ini ikut mendorong pemasaran organik dari pengguna dan memperbesar visibilitas platform di pasar.
Namun, popularitas itu tidak otomatis menghapus kekhawatiran yang lebih mendasar. Bagi sebagian investor, masalah terbesar Hyperliquid justru tidak terlihat pada tampilan produk, melainkan pada fondasi di baliknya.
Desentralisasi yang masih dipertanyakan
Secara teknis, Hyperliquid memang terdesentralisasi. Meski begitu, jumlah validatornya masih kecil, dan situs Hyperliquid mencantumkan 30 validator.
Angka tersebut jauh di bawah jaringan blockchain besar lain. Ethereum memiliki sekitar 900.000 validator, Cardano mendekati 3.000 validator, dan Solana memiliki lebih dari 700.
Perbedaan itu memicu pertanyaan tentang seberapa tersebar kendali jaringan ini. Kekhawatiran semakin besar ketika tim Hyperliquid mengambil tindakan terhadap posisi short pada JELLY, sebuah meme coin berkapitalisasi kecil.
Pada Maret 2025, seorang trader membuka posisi short JELLY lalu mendorong harga token itu naik di bursa terdesentralisasi lain. Hyperliquid Liquidity Pool kemudian mengambil alih posisi short tersebut dan sempat terancam menanggung kerugian besar, bahkan pernah turun $13,5 juta.
Para validator akhirnya melakukan delisting manual terhadap JELLY dan menutup posisi pada harga $0,0095, bukan pada harga pasar yang sudah naik ke $0,50. Langkah ini menuai kontroversi karena banyak pelaku kripto berpegang pada prinsip “code is law” dan menolak pembatalan transaksi yang sudah terjadi.
Risiko keamanan dan tekanan kepatuhan
Selain soal struktur jaringan, model operasional Hyperliquid juga menjadi sorotan. Platform ini tidak mewajibkan know-your-customer atau KYC, sehingga pengguna hanya perlu menghubungkan dompet kripto dan menyetor USD Coin untuk mulai berdagang.
Bagi trader yang mengutamakan privasi, model seperti ini jelas menarik. Tetapi model yang sama juga membuka ruang bagi aktivitas ilegal seperti pencucian uang.
Pada akhir 2024, analis on-chain menandai dompet yang terkait dengan peretas Korea Utara yang berdagang di Hyperliquid, dan hal itu sempat menekan harga lebih dari 18%. Pada 2025, polisi China juga dilaporkan menangani kasus pencucian uang kripto yang berkaitan dengan Hyperliquid.
Kondisi itu membuat bursa tanpa KYC ketat lebih mudah masuk radar regulator. Sebagai respons, Hyperliquid mengumumkan investasi $29 juta ke Hyperliquid Policy Center untuk fokus pada jalur regulasi yang jelas bagi DeFi di AS.
Pertanyaan tentang umur panjang pertumbuhan
Meski momentum Hyperliquid masih kuat, pasar kripto punya sejarah yang tidak selalu ramah pada pertumbuhan yang terlalu cepat. Ada pandangan bahwa bursa terdesentralisasi sering menikmati lonjakan singkat sebelum kesulitan menjaga laju yang sama.
Uniswap disebut sebagai salah satu contoh pola tersebut. Karena itu, kekuatan produk Hyperliquid belum cukup untuk menjamin bahwa minat pasar dan bisnisnya akan bertahan dalam jangka panjang.
Kombinasi antara performa yang memikat, struktur validator yang terbatas, dan risiko kepatuhan membuat investor menilai platform ini dengan hati-hati. Hyperliquid tetap mencuri perhatian, tetapi belum semua pelaku pasar merasa nyaman untuk ikut masuk lebih jauh.
