Hyperliquid Naik Tajam, Tapi Ketergantungannya Pada Perdagangan Perps Masih Rapuh

Author: Redaksi Android62

Hyperliquid tengah menikmati reli yang sangat cepat, tetapi kekuatan di balik kenaikan itu justru terlihat rapuh. Token native milik DEX ini sudah melesat dari harga awal $3,20 per token saat diluncurkan pada Nov. 29, 2024 menjadi sekitar $41, dan lonjakan sebesar itu langsung memunculkan pertanyaan soal seberapa lama tren tersebut bisa bertahan.

Yang membuat pergerakan ini menonjol bukan hanya besarnya kenaikan, melainkan cara harga itu terbentuk. Hyperliquid dibangun dari aktivitas perdagangan derivatif, pasokan token yang ketat, dan minat awal yang besar, namun banyak pihak menilai fondasi itu masih terlalu bergantung pada satu sumber pertumbuhan.

Dorongan awal datang dari aktivitas nyata

Sebelum tokennya resmi beredar, Hyperliquid sudah lebih dulu dipakai untuk perdagangan kontrak futures perpetual, atau perps, di DEX miliknya. Aktivitas ini memberi kegunaan nyata sejak awal, sehingga kenaikan harga tidak sepenuhnya berdiri di atas spekulasi kosong.

Saat token dibagikan melalui airdrop kepada trader di platform tersebut, pasar merespons dengan cepat. Sebagian penerima memilih menjual untuk mengamankan keuntungan, tetapi lebih banyak yang menahan tokennya, sehingga permintaan awal berhasil melampaui pasokan dan harga terdorong naik.

Minat itu juga ikut menarik lebih banyak trader kripto ke platform Hyperliquid. Di saat yang sama, reputasi platform ini sebagai alternatif yang lebih cepat dan lebih rendah latensi dibanding DEX lain seperti dYdX ikut memperkuat daya tariknya.

Struktur token yang ketat ikut mengangkat harga

Hyperliquid tidak sekadar menumpang pada narasi yang sedang populer. Token ini punya utilitas nyata, didukung low float, dan berada dalam struktur pasar DEX yang digerakkan oleh derivatif, sehingga posisinya lebih sulit disamakan dengan altcoin lain yang kegunaannya jauh lebih samar.

Data pasokannya juga menunjukkan betapa ketat struktur tersebut. Pasokan beredar Hyperliquid hanya 255 juta token dari total 955 juta token, dan kondisi ini membuat aset tersebut terlihat lebih serius dibanding banyak token spekulatif lain di pasar kripto.

Namun, ketatnya pasokan juga membawa konsekuensi. Reli yang terjadi sangat dipengaruhi oleh struktur supply yang terbatas, bukan oleh katalis jangka panjang yang benar-benar stabil.

Risiko terbesar ada pada ketergantungan yang sempit

Ada tiga alasan utama mengapa banyak pihak menilai Hyperliquid masih rawan. Pertama, DEX Hyperliquid adalah blockchain Layer 1 baru yang belum diuji dalam kripto winter yang sesungguhnya. Kedua, reli selama sekitar satu setengah tahun terakhir sangat ditopang oleh supply yang ketat. Ketiga, masa depan token ini sangat bergantung pada satu platform perdagangan dan satu kategori produk, yaitu perdagangan perpetual.

Ketergantungan seperti itu membuat token ini sensitif terhadap perubahan volume transaksi. Jika aktivitas perdagangan di DEX menurun, tekanan langsung bisa terasa pada tokennya.

Penurunan volume itu dapat dipicu oleh kompetisi dari platform lain atau tekanan makro yang melemahkan aktivitas pasar. Dalam kondisi seperti itu, sumber tenaga utama yang selama ini menopang harga bisa ikut melemah.

Masih menarik, tetapi profil risikonya tinggi

Di antara aset kripto besar, posisi Hyperliquid tetap berbeda. Bitcoin sudah lebih luas diadopsi sebagai komoditas digital netral, sementara Ethereum dipakai di berbagai ekosistem, sehingga keduanya memiliki basis yang lebih lebar.

Hyperliquid masih bisa terlihat lebih menarik dibanding meme coin yang murni spekulatif. Meski begitu, aset ini tetap tergolong high beta dan low conviction, sehingga kenaikan cepatnya juga datang bersama risiko yang tidak kalah tajam.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru