Hyundai Tarik 425 Ribu Mobil, Tiga Masalah Berbeda Ancam Keselamatan Pengemudi

Hyundai sedang menghadapi salah satu gelombang penarikan terbesar yang diumumkannya belakangan ini. Total hampir 425.000 kendaraan masuk daftar recall, dan masalahnya datang dari area yang paling sensitif bagi pengemudi, mulai dari pengereman yang bisa aktif sendiri hingga komponen keselamatan yang berisiko gagal bekerja dengan aman.

Yang paling besar cakupannya justru bukan persoalan airbag, melainkan sistem bantuan keselamatan pada ratusan ribu unit SUV dan pikap. Di sisi lain, Hyundai juga membuka recall terpisah untuk masalah suspensi pada dua mobil listrik, sehingga perhatian perusahaan saat ini terpecah ke beberapa titik sekaligus.

Pengereman yang bisa aktif tanpa perintah

Recall terbesar menyangkut 421.078 unit Santa Cruz, Tucson, Tucson Hybrid, dan Tucson Plug-In Hybrid model 2025-2026. Masalahnya berada pada perangkat lunak sistem forward collision avoidance yang membuat fitur itu terlalu sensitif terhadap objek di depan mobil.

Dalam kondisi tertentu, sistem bisa bereaksi lebih cepat dari seharusnya dan mengaktifkan rem secara tak terduga. Hyundai mulai menyelidiki persoalan ini sejak awal tahun lalu, lalu menerima 376 laporan terkait sistem tersebut selama proses pemeriksaan berjalan.

Dari jumlah itu, empat laporan berujung pada kecelakaan. Hyundai menyebut empat insiden itu membuat mobilnya ditabrak dari belakang oleh kendaraan lain dan menghasilkan empat korban luka.

Untuk perbaikan, diler akan memperbarui perangkat lunak kamera depan. Pemberitahuan kepada pemilik dijadwalkan keluar pada pertengahan Juli.

Airbag Elantra yang berpotensi pecah

Kasus lain menyasar 3.493 unit Hyundai Elantra model 2015 dan 2016. Mobil-mobil ini diduga menggunakan inflator airbag yang bisa pecah dan melontarkan serpihan ke arah pengemudi.

Situasi tersebut mengingatkan pada skandal airbag Takata, meski komponen yang dipakai bukan buatan Takata. Inflator yang dimaksud diproduksi ARC Automotive, dan NHTSA menyebut propelan di dalamnya “mungkin mengandung propellant outside of density specifications”.

Menurut NHTSA, kondisi itu dapat meningkatkan tekanan internal inflator. Saat airbag mengembang, tekanan tersebut berpotensi memicu pecahnya inflator.

Hyundai mengatakan belum mengetahui adanya inflator yang benar-benar pecah. Meski begitu, perusahaan tetap menarik unit terkait sebagai langkah kehati-hatian, dan pemilik akan mendapat pemberitahuan pada Juli.

Setelah pemberitahuan dikirim, kendaraan harus dibawa ke diler untuk inspeksi. Jika diperlukan, inflator akan diganti.

Masalah pada dua mobil listrik

Recall ketiga menyentuh Ioniq 5 model 2025 dan Ioniq 9 model 2026. Pada dua EV ini, baut dan mur suspensi belakang diduga tidak dikencangkan dengan torsi yang tepat.

Bila komponen itu longgar, getaran dapat membuat baut dan mur makin kendur. Dalam situasi ekstrem, kondisi itu bisa memicu hilangnya kendali atas kendaraan.

Hyundai mengetahui potensi masalah tersebut setelah menerima keluhan pada 2025. Keluhan itu menyebut adanya suara aneh dari suspensi belakang sebuah Ioniq 5, lalu pemeriksaan internal menemukan hanya ada dua kejadian yang diketahui.

Recall ini mencakup 172 kendaraan, tetapi hanya 1 persen di antaranya yang diyakini benar-benar memiliki komponen suspensi yang dikencangkan tidak sesuai spesifikasi. Sebagai solusi, diler akan memeriksa dan mengganti fastener suspensi belakang, lalu melakukan penyelarasan ulang roda belakang agar mobil kembali ke kondisi semula.

Tiga recall ini menempatkan Hyundai dalam posisi harus menangani masalah yang berbeda karakter, tetapi sama-sama penting bagi keselamatan. Satu menyangkut perlindungan penumpang secara langsung, sementara dua lainnya berkaitan dengan pengereman yang tidak diinginkan dan potensi gangguan kendali kendaraan.

Source: www.carscoops.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer