IHSG bergerak sendirian di jalur hijau saat sebagian besar bursa Asia justru tertekan. Pada penutupan perdagangan, indeks mengunci posisi 6.195,4 setelah naik 1,11 persen atau 68,04 poin.
Pergerakan itu menunjukkan pasar domestik masih memiliki tenaga di tengah suasana regional yang cenderung hati-hati. Aktivitas transaksi pun tergolong ramai, dengan 31,1 miliar saham berpindah tangan senilai Rp 25,43 triliun dan frekuensi mencapai 2,57 juta kali.
Perdagangan aktif, tetapi pergerakan saham tidak seragam
Di dalam IHSG sendiri, arah saham tidak bergerak sepenuhnya seirama. Bursa Efek Indonesia mencatat 281 saham menguat, sedangkan 389 saham melemah dan 147 saham tidak bergerak.
Komposisi tersebut menandakan pasar masih selektif. Dorongan beli cukup kuat untuk menjaga indeks tetap hijau, namun tekanan jual tetap muncul di sejumlah saham.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak dalam rentang 6.143 hingga 6.262. Fluktuasi itu menunjukkan indeks sempat naik turun, tetapi tetap bertahan di atas posisi pembukaan hingga perdagangan berakhir.
Sentimen Asia masih rapuh
Kondisi di pasar regional memberi gambaran yang berbeda. Sebagian besar bursa Asia melemah pada hari yang sama karena investor kembali mencermati memanasnya konflik yang dinilai mengancam gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,3 persen menjadi 66.734,24. Di Korea Selatan, Kospi terkoreksi 0,2 persen ke 8.772,08.
Australia juga tidak luput dari tekanan. S&P/ASX 200 melemah tipis kurang dari 0,1 persen ke 8.724,40, memperlihatkan suasana pasar yang masih waspada.
Hong Kong dan China bergerak berbeda
Di tengah mayoritas bursa yang melemah, Hong Kong dan China daratan mencatat arah yang berlawanan. Hang Seng naik 2,2 persen ke 25.956,72, sementara Shanghai Composite menguat 0,4 persen ke 4.075,34.
Perbedaan arah ini memperlihatkan bahwa sentimen global tidak bekerja seragam di seluruh pasar. Respons domestik masing-masing negara ikut membentuk hasil perdagangan, sehingga pergerakan bursa Asia tampak terpecah.
Bagi IHSG, penguatan di tengah kondisi regional yang rapuh menjadi sinyal bahwa minat terhadap saham Indonesia masih terjaga. Ditambah lagi, nilai transaksi yang besar menunjukkan pelaku pasar tetap aktif membaca peluang meski suasana eksternal belum sepenuhnya stabil.
Source: www.beritasatu.com






