IHSG Terkoreksi 35 Persen Sepanjang Tahun, Purbaya Sebut Akar Masalahnya Persepsi Negatif

Tekanan di pasar saham terus menjadi sorotan ketika IHSG tercatat merosot ke 5.594,76. Dalam sepekan, indeks juga turun 8,69 persen dari 6.127,381 pada pekan sebelumnya, sementara sepanjang tahun 2026 penurunannya sudah mencapai 35,30 persen.

Di tengah pelemahan itu, pemerintah menilai persoalannya bukan semata ada pada ekonomi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut persepsi negatif di pasar justru menjadi beban utama yang menekan kepercayaan pelaku pasar.

Persepsi buruk dianggap lebih berpengaruh

Purbaya mengatakan penilaian negatif terhadap ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi nyata. Ia menegaskan APBN masih dalam posisi baik dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah tetap meningkat.

“Jadi, kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya economic activity meningkat,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Ia menilai kabar negatif mengenai masa depan ekonomi nasional dapat membuat sebagian investor ikut terpengaruh. Menurut dia, saat muncul anggapan bahwa ekonomi akan hancur, sikap hati-hati di pasar cenderung makin besar.

“Ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujarnya.

Arus keluar modal asing ikut menekan

Di saat IHSG tertekan, investor asing juga tercatat melakukan jual bersih senilai Rp 3,73 triliun dalam sepekan. Sepanjang tahun 2026, akumulasi penjualan bersih investor asing sudah mencapai Rp 61,36 triliun.

Kondisi itu memperberat tekanan di pasar saham domestik yang sedang sensitif terhadap sentimen negatif. Arus keluar modal asing membuat pergerakan pasar lebih mudah bergejolak meski indikator ekonomi riil dinilai tetap bergerak baik.

Fondasi ekonomi dinilai masih kuat

Pemerintah melihat aktivitas perekonomian nasional masih solid di tengah pelemahan pasar modal. Purbaya menilai berbagai wilayah masih menunjukkan kenaikan aktivitas ekonomi dan posisi fiskal tetap terjaga.

Karena itu, pemerintah berpendapat penurunan IHSG tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia. Fokus kebijakan pun diarahkan pada upaya memulihkan kembali keyakinan pasar.

Langkah stabilisasi pasar diperkuat

Salah satu langkah yang disorot pemerintah adalah menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah sempat berada di level Rp 18.036 terhadap dolar AS.

Purbaya menyebut kerja sama dengan bank sentral akan diperkuat untuk meredam tekanan di pasar keuangan. “Itu (persepsi negatif) yang akan kita hilangkan dengan kerjasama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga sudah erat, cuma kita lebih eratin lagi,” ujarnya.

Di tengah pergerakan IHSG yang masih tertekan, arah kebijakan ini menjadi penting bagi pasar. Selama persepsi negatif tetap dominan, tekanan pada saham dan arus modal berisiko berlanjut walaupun aktivitas ekonomi riil masih dinilai bergerak positif.

Berita Terkait